Rupiah Melemah Usai BI Rate Naik, Apa Biang Keroknya?

Rupiah Melemah Usai BI Rate Naik, Apa Biang Keroknya?

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

(Kompas.com) 18/06/26 15:36 253452

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan kurs rupiah sore ini terjadi tak berselang lama setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI periode Juni 2026.

Dengan demikian, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility juga naik 25 basis poin menjadi 6,50 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan BI rate dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global.

“Berdasarkan asesmen menyeluruh tersebut, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikan BI Rate sebesar 25 basis point menjadi 5,75 persen," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI Juni 2026, Kamis.

Selain itu, kenaikan BI rate juga sebagai upaya menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 agar sesuai sasaran BI di kisaran 1,5-3,5 persen. Ia mengungkapkan, keputusan itu sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada stabilitas yang pro pada stabilitas untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional dari dampak gejolak global.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan.

Lantas apa sentimen yang membuat rupiah terkontraksi, meski turun tipis?

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar tanah air masih volatilitas seiring sikap wait and see para investor. Investor global maupun institusi cenderung menahan diri sambil menunggu dua keputusan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), yakni terkait status Indonesia di kelompok emerging market, serta kepastian apakah pembekuan penambahan konstituen indeks akan dicabut.

“Jika MSCI memutuskan untuk menurunkan peringkat Indonesia, dampaknya berpotensi signifikan terhadap sentimen pasar. Terlebih, pada pengumuman rebalancing sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan konstituen saham baru dari Indonesia akibat kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham dan transparansi free float,” ujar Ibrahim.

Dari sisi eksternal, optimisme pasar didorong oleh kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan mampu meredakan ketegangan di Timur Tengah, serta membuka jalan bagi normalisasi jalur ekspor energi utama.

Memorandum 14 poin tersebut menandai dimulainya periode negosiasi selama 60 hari, di mana Iran akan mengizinkan lalu lintas bebas hambatan melalui Selat Hormuz.

Kesepakatan itu juga menyerukan agar lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz dapat dipulihkan ke kapasitas penuh dalam waktu 30 hari.

Perjanjian tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi guncangan pasokan minyak berkepanjangan. Kondisi itu mengurangi risiko inflasi yang dipicu kenaikan harga energi dan menekan kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai, termasuk emas.

Namun, penguatan sentimen pasar masih terbatas setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen pada Rabu. Bank sentral AS juga memberikan sinyal bahwa masih terdapat ruang untuk pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut pada akhir tahun ini.

Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Pandangan tersebut menjadi perubahan dibandingkan ekspektasi pasar pada awal tahun.

Dalam pertemuan pertamanya sebagai Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi. Ia menegaskan komitmen bank sentral AS untuk memulihkan harga.

The Fed juga menaikkan proyeksi inflasinya, sehingga mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga dan pada saat yang sama memperkuat nilai tukar dollar AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#suku-bunga #bi-rate #rupiah-melemah #bi-rate-hari-ini #bi-rate-naik

https://money.kompas.com/read/2026/06/18/153627426/rupiah-melemah-usai-bi-rate-naik-apa-biang-keroknya