Selat Hormuz Segera Dibuka, Industri Pelayaran Masih Waspadai Ranjau
Kesepakatan AS-Iran membuka peluang beroperasinya kembali Selat Hormuz, tetapi ancaman ranjau dan risiko keamanan masih membayangi.
(Kompas.com) 16/06/26 21:38 251561
KOMPAS.com – Kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz diperkirakan akan menghidupkan kembali aktivitas pelayaran di salah satu jalur minyak terpenting dunia.
Namun, industri pelayaran masih berhati-hati karena ancaman ranjau laut dan kondisi keamanan di kawasan dinilai belum sepenuhnya pulih.
Mengutip CNBC, Washington dan Teheran dijadwalkan menandatangani perjanjian di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
Firma data perdagangan Kpler memperkirakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat pulih hingga hampir 50 persen dari tingkat sebelum perang dalam waktu 30 hari setelah perjanjian diterapkan tanpa hambatan berarti.
Sebelum konflik meletus pada 28 Februari 2026, sekitar 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Jalur tersebut juga menjadi rute bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Namun, setelah Iran mulai menyerang kapal tanker pada awal Maret, aktivitas pelayaran di kawasan itu menurun tajam.
Analis Kpler memperkirakan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada tahap awal dapat meningkat menjadi sekitar 40 kapal per hari.
Ratusan Kapal Tanker Masih Tertahan
Kpler mencatat sekitar 118 kapal tanker masih tertahan di Teluk Persia dan berpotensi keluar dari kawasan tersebut dalam waktu 15 hari setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
Kapal-kapal yang telah terisi penuh muatan diperkirakan menjadi kelompok pertama yang melintasi selat tersebut.
Meski demikian, Kpler menilai lonjakan lalu lintas akibat keluarnya kapal-kapal yang tertahan hanya bersifat sementara dan tidak mencerminkan peningkatan aktivitas yang berkelanjutan.
Pertanyaan utama setelah antrean kapal itu terurai adalah seberapa banyak kapal baru yang bersedia kembali memasuki Teluk Persia.
Matt Wright, analis utama sektor pengangkutan Kpler, mengatakan banyak kapal saat ini masih menunggu di Teluk Oman dan Laut Arab hingga kepastian pembukaan Selat Hormuz.
Ia memperkirakan jumlah kapal tanker yang masuk ke Teluk Persia dapat meningkat menjadi 12 kapal per hari dalam 30 hari pertama setelah kesepakatan AS-Iran berlaku, atau sekitar 50 persen dari tingkat sebelum perang.
Operator Kapal Masih Menunggu Kepastian
Menurut Wright, sebagian perusahaan pelayaran memilih menunggu dan mengamati situasi sebelum kembali beroperasi di kawasan tersebut.
Mereka akan mempertimbangkan untuk kembali masuk ke Teluk Persia apabila tidak ada serangan terhadap kapal dan tidak ditemukan ranjau laut di jalur pelayaran.
Ia juga memperkirakan premi asuransi akan mulai turun seiring semakin banyak kapal yang kembali melintasi Selat Hormuz.
Chief Executive Officer (CEO) perusahaan tanker minyak Frontline, Lars Barstad, mengatakan kapal-kapal kemungkinan akan segera bergerak setelah kesepakatan resmi ditandatangani.
Frontline mengoperasikan 80 kapal di seluruh dunia dan saat ini masih memiliki lima kapal tanker yang tertahan di Teluk Persia.
Ancaman Ranjau Masih Jadi Kekhawatiran
Meski prospek pembukaan kembali Selat Hormuz semakin terbuka, sejumlah risiko masih membayangi implementasi kesepakatan tersebut.
AS dan Iran juga memiliki perbedaan pandangan mengenai detail perjanjian.
Media pemerintah Iran menyebut kapal dapat melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan tarif selama 60 hari. Setelah itu, Iran dan Oman disebut akan mengelola jalur pelayaran tersebut.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pemerintah AS berharap Selat Hormuz tetap terbuka tanpa pungutan dalam jangka panjang.
Ancaman ranjau laut menjadi perhatian utama industri pelayaran.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya mengecilkan risiko tersebut. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan kepada Kongres bahwa Iran telah memasang ranjau di sejumlah bagian Selat Hormuz.
Kelompok perdagangan pelayaran global Bimco pada Senin (15/6/2026) juga memperingatkan bahwa ancaman ranjau di kawasan tersebut masih menjadi kekhawatiran serius.
"Kami percaya situasi keamanan bagi industri pelayaran masih bergejolak dan sangat berisiko bagi kapal untuk mulai melintas saat ini," kata Chief Safety and Security Officer Bimco, Jakob Larsen.
Karena itu, meski pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi memperlancar kembali perdagangan minyak dunia, industri pelayaran global masih menunggu kepastian bahwa jalur strategis tersebut benar-benar aman untuk dilintasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#amerika-serikat #angkatan-laut-as #iran #kapal-tanker #kesepakatan-damai #ranjau-laut #aktivitas-pelayaran #selat-hormuz