BI Bakal Agresif Kerek Suku Bunga, BI Rate Berpotensi Tembus 6%
Maybank Sekuritas memperkirakan BI akan melanjutkan pengetatan moneter dengan potensi BI Rate bisa mencapai 6%.
(Bisnis.Com) 11/06/26 06:42 246624
Bisnis.com, JAKARTA — Maybank Sekuritas Indonesia memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan lewat kenaikan BI Rate hingga ke level 6%.
Brian Lee, Maybank IBG Economist, menilai BI perlu menaikkan suku bunga lebih agresif untuk menarik dana asing masuk kembali ke pasar domestik.
Hal ini mengingat masih adanya berbagai tekanan terhadap aset Indonesia dan rupiah, mulai dari ketidakpastian regulasi, kekhawatiran fiskal, tingginya harga minyak dunia, hingga surplus perdagangan yang terus menyempit.
Dia menjelaskan dengan cadangan devisa yang sudah berkurang sekitar US$11 miliar, BI dinilai tidak ingin hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing untuk mempertahankan rupiah. Di sisi lain, inflasi diperkirakan akan sementara waktu melampaui target BI sebesar 1,5%-3,5% dalam beberapa bulan mendatang.
"Oleh karena itu, analis kini memperkirakan masih akan ada tambahan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps hingga akhir 2026, yang akan membawa BI Rate ke level 6%. Level tersebut hanya sedikit di bawah puncak suku bunga pascapandemi yang mencapai 6,25%," ujarnya dalam riset tertulis yang dikutip, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, risiko kenaikan suku bunga yang lebih agresif masih terbuka, terutama jika Selat Hormuz belum kembali dibuka hingga akhir Juni dan harga minyak dunia terus meningkat.
"Untuk rapat BI pekan depan, skenario dasar yang diperkirakan pasar adalah kenaikan suku bunga sebesar 25 bps. Namun, jika nilai tukar dolar AS menembus Rp18.200 sebelum 18 Juni, BI berpotensi menaikkan suku bunga lebih besar, yakni hingga 50 bps," terangnya.
Sebelumnya, pasar memperkirakan pemerintah akan keberatan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut karena pertumbuhan ekonomi sedang menghadapi berbagai tekanan. Namun, keputusan BI menggelar rapat darurat dan menaikkan suku bunga hanya sepekan sebelum rapat reguler menunjukkan besarnya urgensi BI untuk menahan pelemahan rupiah.
Pemerintah dan Bank Indonesia juga menunjukkan sikap yang sejalan dalam menjaga stabilitas rupiah. Dalam konferensi pers bersama Kementerian Keuangan dan BI pada 6 Juni lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kedua institusi akan memperkuat upaya menjaga stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia.
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) di luar jadwal rapat kebijakan moneternya yang seharusnya berlangsung pada 17-18 Juni. Langkah ini dilakukan setelah BI sebelumnya juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada bulan lalu, sehingga BI Rate kini berada di level 5,50%.
Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (Deposit Facility) dan fasilitas pinjaman (Lending Facility) masing-masing sebesar 25 bps menjadi 4,25% dan 6,25%.
Kebijakan pengetatan moneter ini dilakukan untuk mendukung stabilitas rupiah yang mengalami pelemahan lebih besar dari perkiraan. Menurut BI, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, tingginya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri, serta keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan Indonesia.
Sebagai respons, BI tidak hanya menaikkan suku bunga, tetapi juga meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan. Selain itu, BI memberikan insentif bagi investor asing berupa penurunan biaya lindung nilai (hedging) sebesar 10%, membuka kembali lelang repo untuk menjaga likuiditas pasar, serta meningkatkan intervensi di pasar valuta asing baik melalui transaksi spot, NDF, maupun DNDF.
Rupiah Sempat Mendekati Rp18.200 per Dolar AS
Sebelum pengumuman kenaikan suku bunga, rupiah telah melemah sekitar 2,4% sejak rapat BI pada Mei dan sekitar 8% sejak awal tahun. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah bahkan sempat mendekati level Rp18.200.
Setelah keputusan kenaikan suku bunga diumumkan, rupiah berhasil menguat sekitar 0,6% dan ditutup di level Rp18.060 per dolar AS.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 23 bps menjadi 7,5%, level tertinggi sejak November 2022, sebelum akhirnya turun tipis ke 7,4%.
Cadangan devisa Indonesia juga terus mengalami penurunan. Pada Mei 2026, cadangan devisa turun menjadi US$144,9 miliar, atau berkurang US$1,3 miliar dibandingkan April. Ini merupakan penurunan selama lima bulan berturut-turut dan menjadi level terendah dalam dua tahun terakhir. Sejak mencapai puncaknya pada Desember 2025, cadangan devisa telah berkurang sekitar US$11 miliar.
#bank-indonesia #suku-bunga #suku-bunga-acuan #bi-rate #bunga-bank #maybank-sekuritas #pengetatan-moneter #kebijakan-moneterr #lending-facility #dana-asing #bank #indonesia #bank-sentral