Ini Respons Jusuf Kalla Soal Pelemahan Rupiah hingga MBG
Jusuf Kalla menjelaskan bahwa banyak pelajaran yang bisa Indonesia ambil dari berbagai krisis yang telah terjadi di dunia.
(Bisnis.Com) 09/06/26 16:37 244910
Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) membeberkan pandangannya terkait dengan kondisi ekonomi saat ini. Dia menyoroti terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu disampaikan JK dalam Seminar Publik dengan tema Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis yang digelar Universitas Paramadina pada Selasa (9/6/2026).
JK menjelaskan bahwa banyak pelajaran yang bisa Indonesia ambil dari berbagai krisis yang telah terjadi di dunia. Hal tersebut mesti dilakukan agar krisis tidak terulang kembali.
Dia pun menyoroti berbagai indikator yang bisa memberikan ancaman terhadap krisis, di antaranya pelemahan nilai tukar rupiah.
"Kenapa rupiah menurun dan dolar naik, karena orang banyak simpan dolar dan tidak percaya rupiah. Semakin banyak orang simpan dolar berarti nilai rupiah semakin turun, lepas rupiahnya. Itu supply and demand," katanya.
Rupiah memang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2026), rupiah memang menguat 170 poin atau 0,94%. Namun, sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) rupiah telah melemah sekitar 7%.
Indikator lainnya adalah pasar modal. Di pasar saham menurutnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan didorong oleh menurunnya kepercayaan investor. Selain pasar modal, menurutnya indikator lain yang bisa dilihat adalah pasar riil, dengan menilik daya beli masyarakat.
Di samping itu, menurutnya krisis ekonomi yang dikhawatirkan, ada hubungannya dengan tata kelola fiskal. Hal tersebut menurutnya bisa menjadi sumber masalah.
"Karena negeri ini masalahnya sederhana, tidak rumit amat, yaitu pengeluaran lebih banyak dari pendapatan," katanya.
JK menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat Indonesia mengalami defisit fiskal dan mesti menambalnya dengan utang. Dia pun menilai bahwa defisit negara akan semakin besar jika pengeluaran tidak direm.
"Defisit itu bisa semakin besar kalau pengeluaran tidak direm, terutama pengeluaran yang tidak produktif, makan bergizi gratis, koperasi. Tapi, alhamdulillah Pak Presiden [Presiden RI Prabowo Subianto] menyadari itu," katanya.
Dia mengatakan program MBG menelan anggaran yang besar. Apabila program tersebut tidak memberikan multiplier effect terhadap perekonomian, maka akan menjadi beban bagi keuangan negara.
Ditambah, terdapat faktor eksternal yang bisa mengkhawatirkan dan menambah risiko krisis, yakni kondisi perang antara Iran dengan AS-Israel. Panasnya kondisi geopolitik global itu membuat harga minyak dunia melonjak.
Di samping itu, JK pun mengingatkan risiko yang dihadapi ekonomi Tanah Air saat ini, yakni El-Nino. Kondisi tersebut mendorong Indonesia mesti melakukan impor untuk kebutuhan pangan.
#jusuf-kalla #makan-bergizi-gratis #ekonomi #nilai-tukar-rupiah #makan-bergizi-gratis #kondisi-ekonomi-saat-ini #rupiah #nilai-tukar-rupiah #jk