Perry Warjiyo Akui Rupiah Melemah Lebih Dalam dari Proyeksi, BI Kembali Naikkan Suku Bunga

Perry Warjiyo Akui Rupiah Melemah Lebih Dalam dari Proyeksi, BI Kembali Naikkan Suku Bunga

Kondisi tersebut mendorong BI mengambil langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk menaikkan suku bunga acuan.

(Kompas.com) 09/06/26 16:02 244876

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terjadi lebih dalam dibandingkan proyeksi bank sentral sebelumnya.

Kondisi tersebut mendorong BI mengambil langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk menaikkan suku bunga acuan.

Perry mengatakan, evaluasi rutin yang dilakukan BI menunjukkan perkembangan nilai tukar rupiah tidak sesuai dengan proyeksi sehingga sebagai respons, hari ini BI memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

"Nah, dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat, kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu. Karena itu, langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah perlu dilakukan," kata Perry ditemui awak media di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Perry, kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada tahun ini dan tahun depan.

Selain itu, kenaikan suku bunga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.

"Sehingga kita perlu menaikkan BI Rate agar rupiahnya menguat, stabil, dan inflasi tahun depan tetap dalam sasaran," ujarnya.

Perry menjelaskan, salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah adalah terjadinya arus keluar investasi portofolio.

Karena itu, selain menaikkan BI Rate, BI juga memutuskan menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing.

"Dengan kenaikan BI Rate dan SRBI, inflow diharapkan akan naik lagi dan mendorong penguatan rupiah," katanya.

Tak hanya itu, BI juga meluncurkan insentif baru bagi investor asing berupa potongan biaya transaksi swap untuk lindung nilai (hedging) sebesar 10 persen.

Menurut Perry, fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan minat investor untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia karena biaya lindung nilai menjadi lebih murah.

"Daya tariknya tidak hanya suku bunga naik, tetapi harga untuk melakukan lindung nilai juga lebih murah," ucapnya.

Langkah berikutnya adalah mengaktifkan kembali fasilitas lelang repurchase agreement (repo) guna memenuhi kebutuhan likuiditas rupiah di pasar uang dan perbankan.

Melalui fasilitas tersebut, bank dapat menggunakan surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai underlying untuk memperoleh likuiditas dari BI dengan tenor mulai tiga bulan hingga satu tahun.

Selain itu, BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter dan pasar valuta asing. Di mana intervensi di pasar valas akan diperkuat, sementara lelang SRBI ditingkatkan frekuensinya menjadi dua kali dalam sepekan.

Secara keseluruhan, BI menyiapkan lima langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah, yakni:

1. menaikkan BI Rate

2. meningkatkan daya tarik SRBI

3. memberikan insentif swap lindung nilai

4. mengaktifkan kembali fasilitas repo

5. memperkuat operasi moneter dan intervensi di pasar valas.

Perry menegaskan, berbagai langkah tersebut merupakan hasil evaluasi berkala yang dilakukan BI terhadap efektivitas kebijakan moneter.

"Setiap minggu kami melakukan evaluasi pelaksanaan kebijakan yang diputuskan dalam rapat bulanan," kata Perry.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#bi-rate #pelemahan-rupiah #rupiah-melemah #suku-bunga-bi #bi-rate-hari-ini #bi-menaikkan-suku-bunga

https://money.kompas.com/read/2026/06/09/160236326/perry-warjiyo-akui-rupiah-melemah-lebih-dalam-dari-proyeksi-bi-kembali-naikkan