Teknologi hijau dan manufaktur cerdas dorong kerja sama industri BRICS

Teknologi hijau dan manufaktur cerdas dorong kerja sama industri BRICS

Kota pesisir Xiamen di Provinsi Fujian, China, baru-baru ini menjadi tuan rumah forum yang berpusat pada kerja sama industri BRICS. Acara tersebut ...

(Antara) 31/05/26 16:35 236231

Xiamen (ANTARA) - Kota pesisir Xiamen di Provinsi Fujian, China, baru-baru ini menjadi tuan rumah forum yang berpusat pada kerja sama industri BRICS. Acara tersebut mempertemukan para pengusaha dan inovator dari seluruh dunia untuk mendorong pertumbuhan kolaboratif, dengan penekanan kuat pada pembangunan hijau dan manufaktur cerdas.

Mengusung tema "Membangun Ekosistem Manufaktur Cerdas untuk Mempercepat Revolusi Industri Baru" (Fostering an Intelligent Manufacturing Ecosystem to Accelerate the New Industrial Revolution), Forum Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS menarik partisipasi perwakilan dari negara-negara anggota BRICS, negara-negara mitra, dan negara-negara berkembang lainnya, serta sejumlah organisasi internasional terkait, yang berlangsung pada Rabu (27/5) hingga Kamis (28/5).

Salah satu peserta forum tersebut adalah pengusaha Yang Ziyang, yang berharap dapat menemukan peluang kerja sama baru dengan pelaku usaha dari negara-negara BRICS. Perusahaan yang didirikannya kurang dari dua tahun lalu itu mengolah bambu dari daerah pegunungan Provinsi Fujian menjadi bahan granula serat, mendorong pemanfaatan bambu sebagai pengganti plastik.

"Nilai pesanan dari negara-negara BRICS lainnya pada tahun ini telah melampaui 100 juta yuan (1 yuan = Rp2.621) atau sekitar 14,7 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.789)," ujar Yang. Dia mengatakan semakin banyak negara BRICS yang memberlakukan larangan penggunaan plastik, sehingga menciptakan prospek yang luas bagi pengembangan teknologi hijau, rendah karbon, dan ramah lingkungan.

Dia menambahkan bahwa pelaku usaha dari India dan Afrika Selatan telah mengambil inisiatif untuk menjajaki kerja sama.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara BRICS telah memprioritaskan berbagai bidang seperti manufaktur cerdas, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pembangunan hijau dan rendah karbon, perangkat lunak industri, elektronika energi, serta infrastruktur digital guna mendorong kolaborasi industri, menjajaki peluang kerja sama, dan menciptakan manfaat bersama.

Evlin Marcelline, CEO sebuah perusahaan penyedia sistem informasi rumah sakit di Indonesia, datang ke Xiamen untuk mencari mitra dari China. Dia berupaya mengembangkan dasbor manajemen rumah sakit terpadu yang mengintegrasikan perangkat dan tenaga kerja.

"Kami menargetkan waktu kurang dari enam bulan untuk menemukan perusahaan dari China guna menjalankan proyek percontohan di Indonesia. Setelah itu, kami mungkin akan membentuk usaha patungan," ujarnya.

Banyak perusahaan memanfaatkan peluang tersebut. Raksasa baterai China, CATL, bersama dua perusahaan Indonesia sedang berkolaborasi dalam sebuah proyek terintegrasi yang mencakup penambangan dan peleburan nikel, produksi material, pembuatan sel baterai, dan daur ulang baterai. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai hampir 6 miliar dolar AS.

Robin Zeng, pendiri sekaligus chairman CATL, mengatakan bahwa proyek tersebut merupakan "kerja sama yang sangat penting dan saling menguntungkan."

"Revolusi industri baru bukanlah sekadar peningkatan dari industri tradisional, melainkan transformasi industri yang didorong secara bersamaan oleh teknologi hijau dan teknologi cerdas," kata Zeng.

Dia menambahkan bahwa teknologi nol karbon bukanlah penghambat pertumbuhan, melainkan peluang baru untuk bertransformasi dan melaju lebih cepat, sekaligus menjadi sumber bagi daya saing jangka panjang.

Pada 2018, China mengusulkan pembangunan bersama Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS (BRICS Partnership on New Industrial Revolution/BRICS PartNIR). Pada 2020, Pusat Inovasi PartNIR BRICS (BRICS PartNIR Innovation Center/BPIC) didirikan di Xiamen.

Sejak diluncurkan, BPIC telah menyelenggarakan lebih dari 40 kegiatan pencocokan (matchmaking) kerja sama "dua arah" dan menggelar lebih dari 90 sesi pelatihan talenta secara daring maupun luring. Hingga saat ini, sebanyak 138 proyek kerja sama telah ditandatangani dengan total nilai investasi melampaui 62 miliar yuan.

Berbicara pada forum tersebut, Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China Li Lecheng mengatakan bahwa China dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan upaya untuk mendorong industrialisasi baru dan kini menjadi pasar terbesar di dunia untuk penerapan manufaktur cerdas.

China berharap dapat memperkuat pertukaran dan kerja sama dengan semua pihak, serta akan berupaya memperluas akses terhadap berbagai skenario penerapan manufaktur cerdas, memperdalam kerja sama di sejumlah bidang seperti standar dan sertifikasi, serta mendorong penjajakan kemitraan industri dan pertukaran talenta, ujar Li.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

#china #brics #kerja-sama

https://www.antaranews.com/berita/5588603/teknologi-hijau-dan-manufaktur-cerdas-dorong-kerja-sama-industri-brics