Sulit Akses Modal, Pertumbuhan UMKM Masih Terhambat

Sulit Akses Modal, Pertumbuhan UMKM Masih Terhambat

Tantangan permodalan dan kesehatan finansial masih menghantui UMKM, khususnya perempuan. Akses keuangan dan ekosistem pendukung krusial untuk pertumbuhan berkelanjutan.

(Kompas.com) 20/05/26 19:44 226852

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku UMKM masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari keterbatasan permodalan, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usaha.

Kondisi ini menunjukkan, pertumbuhan ekonomi akar rumput perlu didorong melalui akses keuangan serta ekosistem yang mampu memperkuat kesehatan finansial.

Menurut data Center of Economic and Law Studies (Celios), permodalan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia.

SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES Ilustrasi UMKM kuliner.

Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda mengatakan, sebagian besar pelaku UMKM masih kesulitan menghadapi permasalahan ini, padahal permodalan menjadi salah satu cara untuk bisa tumbuh secara berkelanjutan.

“Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” kata dia dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).

Peran ganda perempuan dalam mengelola keuangan

Ia menambahkan, tantangan ini menjadi semakin relevan bagi UMKM perempuan, yang kerap memegang peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga.

Menurut International Finance Corporation (IFC), UMKM milik perempuan mewakili sekitar sepertiga dari total UMKM di negara berkembang, tetapi masih menghadapi kesenjangan pembiayaan sekitar 1,9 triliun dollar AS.

SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.

Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Poppy Ismalina menilai, pemberdayaan perempuan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi akses permodalan.

“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik," ujar Poppy.

Ia mengatakan, perempuan yang mendapatkan solusi keuangan yang sesuai dapat lebih percaya diri dalam mengelola kebutuhan keluarga, kesehatan finansial, dan keberlanjutan usahanya.

Mengacu pada United Nations Secretary-General\'s Special Advocate for Financial Health (UNSGSA), kesehatan finansial (financial health) menggambarkan kemampuan seseorang atau keluarga dalam memenuhi kebutuhan harian, mengelola kewajiban keuangan, menghadapi risiko, serta merasa percaya diri terhadap kondisi keuangannya di masa depan.

Kesehatan finansial UMKM penting

Dalam konteks UMKM akar rumput, kesehatan finansial mencakup kemampuan mengelola arus kas, menghadapi pengeluaran tak terduga, merencanakan tujuan usaha, dan mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri.

Pendekatan kesehatan finansial menjadi semakin penting untuk memastikan inklusi keuangan menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat akar rumput.

Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto mengatakan, keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi.

"Membangun kesehatan finansial membutuhkan partisipasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar dia.

Selama lebih dari 16 tahun berdiri, Amartha terus berkomitmen dalam mendukung pertumbuhan ekonomi akar rumput, termasuk UMKM perempuan, melalui pembiayaan produktif, pendampingan di lapangan, serta pemanfaatan teknologi.

SHUTTERSTOCK/CHAY_TEE Ilustrasi UMKM yang sudah bertransformasi digital.

Dampak tersebut tecermin dalam Amartha Sustainability Report 2025, yang menunjukkan 96 persen peminjam memperoleh keterampilan baru sejak bergabung dengan Amartha, 94 persen peminjam mengalami peningkatan pendapatan, dan 91 persen peminjam mampu memisahkan arus kas usaha dan arus kas rumah tangga.

Selain itu, 88 persen peminjam mampu menggunakan smartphone dengan lebih efisien, 82 persen peminjam mulai mencatat pemasukan dan pengeluarannya, sementara lebih dari 90.000 peminjam berhasil merekrut karyawan pertama mereka setelah mengakses pembiayaan.

Dorong kesehatan finansial bagi UMKM lewat The 2026 Asia Grassroots Forum

Amartha menegaskan pentingnya kesehatan finansial atau financial health sebagai fondasi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput yang inklusif dan berkelanjutan.

Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan The 2026 Asia Grassroots Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, yang akan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas masa depan ekonomi akar rumput di Indonesia dan Asia.

Dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektor, Amartha konsisten memperkuat pemberdayaan UMKM akar rumput lewat berbagai inisiatif demi terwujudnya ekonomi akar rumput yang lebih sehat secara finansial.

Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum, kegiatan ini akan fokus membahas mengenai pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech dan AI, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem UMKM.

“Amartha mengajak mitra lintas sektor untuk berkontribusi mewujudkan solusi kesehatan finansial yang relevan dan dapat diterapkan secara luas. Di The 2026 Asia Grassroots Forum tahun ini, kami ingin memastikan layanan keuangan digital tidak hanya memperluas akses, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial masyarakat akar rumput agar dapat tumbuh lebih berdaya dan berkelanjutan,” tutup Aria.

Bagi Amartha, perluasan akses keuangan perlu bergerak menuju dampak yang lebih dalam.

Layanan keuangan digital tidak hanya membuka akses pembiayaan, tetapi juga membantu masyarakat akar rumput, termasuk UMKM perempuan, dalam mengelola arus kas, menjaga keberlangsungan usaha, menghadapi risiko ekonomi, serta membangun ketahanan finansial jangka panjang.

UMKM memiliki peran penting dalam menjaga daya tahan ekonomi.

Secara global, UMKM mewakili lebih dari 90 persen entitas bisnis, menyumbang sekitar 70 persen lapangan kerja, serta berkontribusi terhadap 50 persen PDB.

Di Indonesia, kontribusi UMKM juga sangat signifikan.

Pada 2025, lebih dari 65,5 juta UMKM menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen dari total angkatan kerja.

Sebagai informasi, The 2026 Asia Grassroots Forum akan berlangsung pada 3–4 Juni di Shangri-La Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#akses-permodalan #amartha #kesehatan-finansial #umkm

https://money.kompas.com/read/2026/05/20/194400526/sulit-akses-modal-pertumbuhan-umkm-masih-terhambat