Pertunjukan Hikayat Perahu Tampil Perdana di Venesia
Pertunjukan "Hikayat Perahu" akan tampil perdana di Biennale Teatro Venezia 2026, mengadaptasi Syair Perahu Hamzah Fansuri dengan pendekatan multidisipliner.
(Bisnis.Com) 15/05/26 18:10 221997
Bisnis.com, JAKARTA — Karya teater Hikayat Perahu/The Tale of Boat akan menjalani world premiere dalam Biennale Teatro Venezia 2026 dengan membawa tafsir baru atas sastra Melayu klasik abad ke-16.
Pertunjukan ini diadaptasi dari Syair Perahu karya Hamzah Fansuri yang telah diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada 2025. Karya tersebut menjadi fondasi eksplorasi artistik yang menggabungkan teater modern dengan akar tradisi.
Di tangan sutradara Sri Qadariatin, teks klasik tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan multidisipliner. Produksi ini memadukan musik, tari, visual, dan akting sebagai satu kesatuan panggung.
Pendekatan visual kontemporer diperkuat melalui kolaborasi dengan Melissa Sunjaya sebagai desainer visual. Elemen visual menjadi bagian penting untuk menjembatani tradisi lama dengan estetika modern.
Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia Restu Imansari Kusumaningrum menyebut produksi ini juga melibatkan aktor dari Sumatera Barat dan pemusik Aceh. Keterlibatan lintas daerah dilakukan untuk menelusuri kembali jejak kebudayaan Melayu sebagai akar besar Indonesia.
"Indonesia mempunyai sesuatu yang berbeda di dalam seni tari, musik, teater, dan bela diri silat,” kata Restu dalam konferensi pers di Jakarta.
Pertunjukan ini menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali karya sastra klasik ke dalam format yang relevan dengan konteks kekinian, tanpa melepaskan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Tema Alter-Native yang diangkat festival tahun ini juga membuka ruang bagi pendekatan budaya non-mainstream. Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai menawarkan perspektif yang belum banyak dihadirkan dalam panggung teater internasional.
Restu mengaku terkejut ketika pihak Biennale secara aktif mengundang Indonesia. Proses pengajuan proposal bahkan berlangsung sangat cepat. “Kami cuma punya waktu 24 jam,” ujarnya.
Dia menilai Asia Tenggara selama ini masih menjadi ruang kosong dalam lanskap teater global. Di tengah dominasi budaya populer dari China, Jepang, dan Korea Selatan, Indonesia justru dianggap menyimpan kekuatan lain yang belum banyak diperlihatkan.
“Kalau ngomongin tema Alter-Native, nggak ada Indonesia, festival lo nggak jadi,” ujarnya.
#hikayat-perahu #biennale-teatro-venezia #teater-modern #sastra-melayu-klasik #syair-perahu #hamzah-fansuri #unesco-memory-of-the-world #pertunjukan-multidisipliner #musik-tari-visual #tradisi-melayu #n-a