Momentum Perkuat Kerja Sama Energi Indonesia-China dalam ICEE 2026
ICEE 2026 di Jakarta memperkuat kerja sama energi Indonesia-China, fokus pada teknologi hijau dan efisiensi energi, dengan partisipasi lebih dari 150 perusahaan.
(Bisnis.Com) 12/05/26 16:45 219194
Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah makin kuatnya dorongan perubahan struktur energi global menuju praktik pertambangan hijau, pemerintah menekankan pentingnya penguatan kolaborasi internasional, transformasi teknologi, dan pengelolaan pertambangan berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, pelaku industri pertambangan juga dituntut untuk mempercepat transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan berbasis teknologi.
Dalam sambutannya pada kegiatan Indonesia-China Coal and Energy Conference and Expo (ICEE) 2026, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mengatakan bahwa pemerintah mendorong penguatan investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi pertambangan inovatif, termasuk pengembangan smart mining, clean coal technology, dan efisiensi energi melalui kerja sama Indonesia-China.
“Penyelenggaraan forum energi berstandar tinggi dengan karakter internasional sangat penting guna mendukung penguatan kerja sama energi Indonesia dan Tiongkok di tengah perubahan industri global,” ujar Tri, dikutip Selasa (12/5/2026).
Selama ini, kata Tri, sektor batu bara masih memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional, khususnya sebagai sumber utama pasokan energi pembangkit listrik di Indonesia.
Indonesia sendiri memiliki sumber daya batu bara lebih dari 143 miliar ton yang menjadi modal strategis dalam menjaga ketersediaan energi jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain menopang kebutuhan energi domestik, industri batu bara juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga penguatan neraca perdagangan melalui kegiatan ekspor.
Kendati demikian, Tri mengingatkan bahwa industri batu bara saat ini menghadapi tantangan global yang makin kompleks, mulai dari fluktuasi harga komoditas, peningkatan biaya operasional, tuntutan pengurangan emisi karbon, hingga implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurut Tri, ICEE 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama bilateral, memperluas transfer teknologi, serta membangun visi bersama menuju industri energi yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
“Kami menyambut baik terselenggaranya Indonesia-China Coal and Energy Conference and Expo 2026 [ICEE 2026] sebagai forum kolaboratif yang mampu memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Tiongkok di sektor energi dan pertambangan,” ujar Tri.
Adapun, ICEE 2026 diselenggarakan pada 11–13 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Cooperation for New Development in Energy”, pameran ini berfokus pada pemanfaatan batu bara bersih, pembangunan tambang hijau, peningkatan pertambangan cerdas, serta integrasi energi baru.
ICEE 2026 juga berkomitmen menjadi platform profesional tingkat tinggi yang menghubungkan Indonesia dan China, menjangkau Asia Tenggara, serta mendukung transformasi industri batu bara dan energi global.
Sebagai salah satu pintu masuk pertukaran industri energi Indonesia dan China, ICEE bukan sekadar pameran industri, tetapi juga mekanisme kerja sama strategis untuk mendorong komunikasi kebijakan, pertukaran teknologi, penjajakan kerja sama industri, serta realisasi proyek.
Dibandingkan dengan penyelenggaraan pertama, ICEE tahun ini mengalami peningkatan menyeluruh dari sisi skala, sumber daya, konten, dan layanan. Area pameran mencapai 20.000 meter persegi, meningkat lebih dari 30% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut penyelenggara ICEE, lebih dari 150 perusahaan berpartisipasi, mulai dari eksplorasi batu bara, penambangan, pencucian dan pengolahan, transportasi logistik, pengelolaan lingkungan, energi baru, hingga operasional dan pemeliharaan cerdas.
Sejumlah perusahaan Fortune Global 500, China Top 500, serta perusahaan terkemuka industri, termasuk China Coal, China Coal Technology & Engineering Group, Sinopec, Huawei, dan lainnya turut hadir untuk menampilkan teknologi mutakhir, peralatan canggih, dan solusi terintegrasi di bidang batu bara dan energi.
Dari dalam negeri, audiens profesional yang diundang secara khusus mencakup sekitar 70% dari total produksi batu bara lokal. Lebih dari 600 pembeli, termasuk perusahaan produsen batu bara utama Indonesia dan perusahaan jasa pertambangan terkemuka, juga turut hadir.
Sementara itu pada sesi diskusi, para narasumber akan bersama-sama membahas perdagangan batu bara Indonesia-China, logistik, kepabeanan, kredit, serta mekanisme kerja sama jangka panjang.
Pihak penyelenggara ICEE menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar energi penting di Asia Tenggara, sementara China memiliki pengalaman matang dan kemampuan industri yang kuat dalam pemanfaatan batu bara bersih, peralatan pertambangan, manajemen digital, dan transformasi hijau.
Ke depan, ICEE akan terus memperkuat kredibilitas dan pengaruhnya sebagai platform industri, mendorong terbentuknya jaringan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, asosiasi, perusahaan, dan modal dari Indonesia dan China.
#indonesia-china-energi #kerja-sama-energi #pertambangan-hijau #transformasi-teknologi #pengelolaan-berkelanjutan #smart-mining #clean-coal-technology #efisiensi-energi #ketahanan-energi-nasional #sumb