KTT ke-48 Asean: RI-Filipina Teken MoU Pasokan Nikel demi Ketahanan Energi Kawasan
Indonesia dan Filipina menandatangani MoU untuk kerja sama nikel guna memperkuat ketahanan energi ASEAN, dengan fokus pada hilirisasi dan pengembangan teknologi.
(Bisnis.Com) 08/05/26 12:35 215434
Bisnis.com, JAKARTA — Urgensi ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara (Asean) menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 Asean. Sebagai langkah pengamanan rantai pasok mineral kritis global, Indonesia dan Filipina resmi menyepakati kerja sama strategis di sektor industri nikel.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di Jpark Island Resort, Cebu pada Kamis (7/5/2026).
Penandatanganan tersebut merupakan bagian dari Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable, yang disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque.
Airlangga menekankan bahwa nikel sebagai mineral kritis memiliki peran sentral dalam proses transisi energi kawasan. Menurutnya, optimalisasi nikel tidak hanya terbatas pada sektor industri dasar, melainkan bermuara pada stabilitas ketahanan energi.
"Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi [energy storage], baik untuk baterai kendaraan listrik [EV] maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya," ujar Airlangga dikutip dari rilis media Kemenko Perekonomian, Jumat (8/5/2026).
Dia menambahkan bahwa hilirisasi nikel ini berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan. Untuk mengamankan pasokan tersebut, kerja sama ini akan menjadi fondasi bagi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor.
Koridor ini dirancang sebagai platform terstruktur yang mengintegrasikan kekuatan hilirisasi dan smelter di Indonesia dengan pasokan bijih nikel di hulu dari Filipina. Langkah pengamanan pasokan ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di Asean.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan [feedstock security] untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita," jelasnya.
Secara agregat, kolaborasi kedua negara ini menciptakan poros yang mendominasi pasar global: merujuk pada data United States Geological Survey (USGS) 2026, perpaduan produksi Indonesia dan Filipina menguasai 73,6% produksi nikel dunia pada 2025. Dari persentase tersebut, Indonesia menyumbang 66,7% atau setara 2,6 juta ton, disusul Filipina sebesar 6,9% atau 270.000 ton.
Ruang lingkup kerja sama APNI dan PNIA ini bersifat komprehensif dan berjangka panjang, yang mencakup, pertama, pertukaran informasi untuk menstabilkan perdagangan nikel di tingkat regional maupun global.
Kedua, pengembangan bersama untuk teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan (side product) industri pengolahan. Ketiga, pengembangan sumber daya manusia untuk menyokong ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Sebagai langkah akselerasi di dalam negeri, Kemenko Perekonomian menyatakan pemerintah akan memacu pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terhubung langsung dengan rantai pasok mineral kritis ini. KEK diproyeksikan menjadi lokomotif utama yang menarik investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, sekaligus pusat inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional.
#ktt-asean #asean-ktt-48 #ri-filipina-mou #pasokan-nikel #ketahanan-energi-asean #industri-nikel-indonesia #filipina-nikel #nikel-transisi-energi #nikel-energi-storage #indonesia-philippines-nickel-cor