Ragam Kinerja Emiten Asuransi Sepanjang 2025

Ragam Kinerja Emiten Asuransi Sepanjang 2025

Kinerja emiten asuransi 2025 bervariasi, TUGU unggul dengan aset Rp27,71 triliun dan laba Rp762,42 miliar. PSAK 117 mempengaruhi laporan keuangan.

(Bisnis.Com) 05/05/26 10:35 211298

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten asuransi sepanjang 2025 menunjukkan tren yang beragam di tengah penerapan PSAK 117 tentang kontrak asuransi. Hal tersebut tercermin dalam aset, laba tahun berjalan, pendapatan jasa asuransi, dan beban jasa asuransi.

Dari 16 emiten asuransi, masih ada dua perusahaan yang belum mengumpulkan laporan keuangan tahun buku 2025 yang diaudit. Mereka telah menyampaikan potensi keterlambatan penyampaian laporan tahunan kepada OJK dan BEI.

Berdasarkan tabulasi 14 perusahaan asuransi yang dilakukanBisnis, aset terbesar pada 2025 dimiliki PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) sebesar Rp27,71 triliun. Diikuti PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) senilai Rp15,87 triliun dan Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) sebanyak Rp5,74 triliun.

Secara pertumbuhan, tiga perusahaan yang asetnya tumbuh tinggi pada 2025 adalah PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) yang tumbuh 48,89% (year on year/YoY) menjadi Rp3,60 triliun. Selanjutnya, PT Victoria Insurance Tbk (VINS) yang tumbuh 42,24% YoY menjadi Rp334,27 miliar dan PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) tumbuh 38,43% YoY menjadi Rp347,24 miliar.

Dari sisi laba tahun berjalan 2025, sebanyak enam perusahaan mengalami penurunan laba, satu perusahaan mengalami rugi, dan delapan perusahaan mengalami kenaikan laba.

Adapun, laba terbesar diraih oleh TUGU secara konsolidasian sebesar Rp762,42 miliar, tumbuh 80,61% YoY. Kemudian, laba terbesar berikutnya dicapai LIFE mencapai Rp206,22 miliar, turun 44,52% YoY dan AMAG labanya senilai Rp156,48 miliar, turun 41% YoY.

Menilik pertumbuhannya, perusahaan yang labanya bertumbuh tinggi adalah PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) sebesar 349,33% YoY menjadi Rp22,91 miliar. Untuk diketahui, data tersebut merupakan data yang tercantum di lama resmi perusahaan dan belum diaudit.

Perusahaan asuransi selanjutnya yang labanya bertumbuh tinggi adalah Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) atau dikenal dengan Oona Insurance sebesar 157,95% YoY menjadi Rp99,77 miliar. Kemudian, diikuti oleh Lippo General Insurance Tbk (LPGI) yang tumbuh 125,69% YoY menjadi Rp144,73 miliar.

Menilik pendapatan jasa asuransi, TUGU menempati posisi pertama dengan raihan terbesar senilai Rp9,10 triliun, tumbuh 22,11% YoY. Posisi kedua dan ketiga diikuti LPGI dan AMAG yang masing-masing memperoleh Rp3,76 triliun dan Rp2,79 triliun sepanjang 2025.

Sementara itu secara pertumbuhan, pendapatan jasa asuransi YOII menjadi yang tertinggi sebesar 122,91% YoY menjadi Rp730,69 miliar. Kemudian, LIFE tumbuh 26,67% YoY menjadi Rp1,96 triliun dan TUGU tumbuh 22,11% YoY menjadi Rp9,10 triliun.

Dilihat dari sisi beban jasa asuransi, TUGU memiliki beban terbesar senilai Rp8,25 triliun. Diikuti oleh LPGI sebesar Rp3,42 triliun dan LIFE sebesar Rp2,03 triliun. Ketiganya memiliki pertumbuhan dua digit.

Sementara itu, pertumbuhan beban tertinggi ada pada TUGU yang mencapai 84,21% YoY, MTWI sebesar 47,22% YoY menjadi Rp1,23 triliun, dan LIFE sebesar 35,18% YoY menjadi Rp2,03 triliun.

Di sisi lain, perusahaan yang beban jasa asuransinya turun adalah Asuransi Bintang Tbk (ASBI) turun 21,07% YoY menjadi Rp147,70 miliar, ASMI turun 11,24% YoY menjadi Rp266,46 miliar, Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) turun 7,65% YoY menjadi Rp1,30 triliun, dan ABDA turun 3,77% YoY menjadi Rp766,41 miliar.

Penjelasan Salah Satu Emiten Asuransi

Asuransi Bintang Tbk (ASBI) menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan laporan keuangan tahun buku 2025auditeddengan pengimplementasian PSAK 117 sejak 30 Maret 2026. Bahkan, saat ini telah melakukan laporan kuartal I/2026 PSAK 117unauditedpada 27 April 2026.

Presiden Direktur ASBI Hastanto Sri Margi Widodo menyampaikan hasil jasa asuransi dan hasil usaha bersih pada 2025 mengalami kenaikan sedikit dan beban umum turun sedikit, sehingga laba membaik dibanding tahun lalu.

“Beban asuransi turun signifikan dari Rp40 miliar ke Rp23 miliar sebagai hasil dariportfolio cleansingyang telah kami jalankan selama 3 tahun ini. Untuk Beban umum, konversi 10 kendaraan operasional menjadi mobil listrik juga kontribusi penurunan biaya bahan bakar yang cukup tinggi,” katanya kepadaBisnis, Senin (4/5/2026).

Widodo melanjutkan, peningkatan margin di semua produk didorong oleh upaya perseroan yang dalam dua tahun terakhir mengarahkan indikator kinerja utama (KPI) seluruh pegawai padaContractual Service Margin(CSM) dancost provision.

“Walaupun memang dari sisi volume tetappropertypaling tinggi dan kita sangat mengurangi rangka kapal danengineeringkarenaprofitabilityyang rendah,” sebutnya.

Dikatakan Widodo, tantangan terbesar saat ini adalah adanya potensi perbedaan signifikan dalam penilaian ulang (revaluasi) atas kontrak yang dijual pada 2025 ketika dihitung kembali pada 2026.

Oleh karena itu, kehati-hatian untuk menghindari kontrak merugi (onerous contract) menjadi hal yang krusial. Sebab itu, peran KPI berbasis CSM tadi menjadi penting karena secara otomatis memberikan penalti terhadap kontrak yang tergolong merugi.

“Sehingga keseluruhan pegawai didis-insentifydaripada menjual kontrak merugi,” ucapnya.

Lebih jauh, Widodo mengungkapkan ASBI menjadi salah satu dari lima perusahaan asuransi yang menjalani uji coba New RBC yang dicanangkan OJK-World Bank.

DaripublishedRBC lama (berdasarkan PSAK 104), RBC-nya sebesar 176,08%. Apabila dihitung dengan model New RBC (berdasarkan PSAK 114) dihasilkanCore Solvency Ratio185% danOverall Solvency Ratio319%.

“Kami juga sudah melakukan perhitungan Proforma RBC baru untuk kuartal I/2026 dan menghasilkan tingkatan solvency sebagai berikut, Core Solvency Ratio193% danOveral Solvency Ratio305%,” ungkapnya.

#asuransi-emiten #kinerja-emiten-asuransi #psak-117 #aset-emiten-asuransi #laba-emiten-asuransi #pendapatan-jasa-asuransi #beban-jasa-asuransi #tugu-pratama-indonesia #msig-life-insurance #asuransi-mul

https://finansial.bisnis.com/read/20260505/215/1971359/ragam-kinerja-emiten-asuransi-sepanjang-2025