Adu Kredit Bank Besar: Mandiri Tertahan, BNI Tancap Gas

Adu Kredit Bank Besar: Mandiri Tertahan, BNI Tancap Gas

BNI mencatat pertumbuhan kredit tertinggi 20,10% YoY pada kuartal I/2026, sementara Mandiri mengalami penurunan 3,52%. BRI dan BCA juga tumbuh positif.

(Bisnis.Com) 05/05/26 09:42 211254

Bisnis.com, JAKARTA — Kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan pertumbuhan kredit yang signifikan pada kuartal I/2026.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, pertumbuhan kredit BNI secara konsolidasian mencapai 20,10% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp919,31 triliun, dibandingkan kuartal I/2025 yang berada di posisi Rp765,46 triliun.

BRI membukukan pertumbuhan kredit sebesar 13,90% YoY menjadi Rp1.497,27 triliun pada periode ini. Pada kuartal I/2025, perseroan tercatat menyalurkan kredit senilai Rp1.314,59 triliun.

Bank besar lainnya yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga mencatatkan pertumbuhan kredit. Hingga Maret 2026, perseroan tercatat telah menyalurkan kredit sebesar Rp980,59 triliun, tumbuh 5,43% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp930,13 triliun.

Sementara itu, kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) justru mengalami koreksi sebesar 3,52% YoY menjadi Rp1.568,08 triliun pada kuartal I/2026, setelah pada periode yang sama tahun lalu membukukan kredit sebesar Rp1.625,28 triliun.

Dari segi jumlah penyaluran kredit, Bank Mandiri menempati posisi tertinggi dengan total Rp1.568,08 triliun, diikuti BRI Rp1.497,27 triliun, BNI Rp919,31 triliun, dan BCA senilai Rp980,59 triliun.

Namun, BNI menunjukkan pertumbuhan kredit tertinggi dengan kenaikan sebesar 20,10% YoY pada kuartal I/2026, disusul BRI yang tumbuh 13,90% YoY, dan BCA 5,43% YoY.

Menurut laporan Analisis Uang Beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), total kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Maret 2026 mencapai Rp8.516,0 triliun, tumbuh stabil dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 yang berada di posisi 8,9% YoY.

Otoritas moneter mengungkapkan, stabilnya pertumbuhan kredit pada periode ini utamanya ditopang oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi dan perorangan yang tumbuh masing-masing sebesar 14,0% dan 3,0% YoY.

Menilik dari jenis penggunaan, BI mencatat bahwa kredit modal kerja pada Maret 2026 tumbuh 4,0% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 yang sebesar 3,7% YoY, didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit pada sektor industri pengolahan dan sejenisnya serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

Kredit investasi relatif stabil sebesar 20,0% YoY, dipengaruhi oleh pertumbuhan pada sektor konstruksi serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

Sebaliknya, kredit konsumsi pada Maret 2026 tumbuh sebesar 5,8% YoY, melambat dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 6,3% YoY. Lesunya pertumbuhan kredit konsumsi utamanya dipengaruhi oleh kredit kendaraan bermotor yang mengalami kontraksi 9,2% YoY serta kredit multiguna dan kredit pemilikan rumah yang mengalami perlambatan pertumbuhan, masing-masing menjadi sebesar 8,2% dan 4,3% YoY.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong sebelumnya mengatakan, momentum Ramadan dan Idulfitri sangat memengaruhi kinerja kredit perseroan pada kuartal I/2026.

Hendra memastikan, perseroan senantiasa menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.

“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,” kata Hendra dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal I/2026 secara daring, Kamis (23/4/2026).

Sementara itu, di tengah kondisi ketidakpastian global, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa perseroan fokus menyalurkan kredit pada sektor-sektor prospektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Kredit kami proyeksikan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan industri,” kata Novita dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri Kuartal I/2026, dikutip pada Senin (4/5/2026).

Pendorong Pertumbuhan Kredit

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan, ketiga bank yakni BRI, BCA, dan BNI mencatat ekspansi yang solid, meski dengan strategi yang berbeda.

Myrdal menyebut bahwa secara umum, pertumbuhan kredit ketiga bank ini dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi domestik, momentum Lebaran, likuiditas perbankan yang longgar, dan strategi fokus pada segmen produktif/UMKM serta digitalisasi.

Sementara itu, dia menilai menyusutnya kredit Bank Mandiri secara konsolidasian merupakan efek penghapusan konsolidasi atau deconsolidation PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) yang efektif berlaku pada awal 2026.

Namun, secara bank-only dan konsolidasian adjusted/pro-forma, kredit Bank Mandiri justru menunjukkan pertumbuhan kuat, di rentang 12,6—17,4% YoY.

Dengan demikian, Myrdal menyebut bahwa secara substansi, Bank Mandiri tetap ekspansif bahkan di atas industri, tetapi tampak menyusut lantaran faktor akuntansi konsolidasi dan pendekatan prudent.

“BSI pernah menyumbang signifikan, 16—17% dari total kredit Bank Mandiri pada 2025. Setelah deconsolidation, angka historis kuartal I/2025 tidak disesuaikan pro-forma di beberapa laporan, sehingga terlihat ‘kontraksi’,” jelas Myrdal kepada Bisnis, Senin (4/5/2026).

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menyampaikan, penurunan kredit pada salah satu bank besar lebih mencerminkan konsolidasi portofolio dan kehati-hatian risiko, bukan hilangnya kapasitas menyalurkan kredit.

Dia menuturkan, bank dengan total kredit terbesar biasanya memiliki basis portofolio yang sangat besar, sehingga pelunasan kredit korporasi, jatuh tempo fasilitas besar, penurunan penarikan fasilitas, atau pergeseran strategi ke kualitas aset dapat membuat pertumbuhan tahunan terlihat menurun.

Portofolio Bank Mandiri masih besar dan didominasi segmen korporasi dan komersial. Pada saat yang sama, Josua menyebut bahwa ada perhatian terhadap kualitas aset, termasuk kredit dalam perhatian khusus sebesar Rp46,21 triliun dan NPL Rp14,99 triliun, dengan tekanan antara lain pada sektor manufaktur, konstruksi, perlengkapan rumah tangga, pertambangan, dan perdagangan.

“Dalam kondisi seperti ini, bank cenderung lebih memilih menjaga kualitas, memperkuat pencadangan, dan mengurangi eksposur pada segmen yang risikonya naik daripada mengejar pertumbuhan agresif,” tutur Josua kepada Bisnis, Senin (4/5/2026).

Kredit KBMI IV Masih Berpotensi Tumbuh

Adapun hingga akhir 2026, kredit KBMI IV secara agregat diperkirakan masih berpotensi tumbuh, kendati kemungkinan tidak merata antarbank.

Secara industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 10—12%, didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di rentang 7-9%.

“Namun untuk KBMI IV, saya memperkirakan pertumbuhan agregat lebih realistis berada di kisaran 8—11%,” kata Josua.

Menurutnya, pertumbuhan kredit KBMI IV berpeluang mendekati batas atas jika belanja pemerintah, proyek prioritas, Kredit Usaha Rakyat (KUR), hilirisasi, dan permintaan modal kerja berjalan baik.

Dalam hal ini, bank yang memiliki basis dana murah kuat, ekosistem transaksi korporasi, jaringan UMKM, dan kualitas aset yang stabil berpeluang tumbuh lebih tinggi.

Sementara bank yang sedang merapikan portofolio kemungkinan akan tumbuh lebih rendah pada semester I/2026, lalu membaik pada semester II/2026 jika risiko sektor riil dan tekanan rupiah mereda.

“Sepanjang 2026, perbankan KBMI IV masih akan menjadi motor kredit nasional, tetapi strategi terbaiknya bukan ekspansi merata ke semua segmen, melainkan pertumbuhan yang disiplin pada debitur dan sektor yang benar-benar memiliki arus kas kuat,” pungkasnya.

#bank-besar #kredit-bank #pertumbuhan-kredit #bank-mandiri #bank-bni #bank-bri #bank-bca #kredit-konsolidasi #kredit-investasi #kredit-konsumsi #kredit-modal-kerja #pertumbuhan-ekonomi #likuiditas-perb

https://finansial.bisnis.com/read/20260505/90/1971216/adu-kredit-bank-besar-mandiri-tertahan-bni-tancap-gas