QRIS Cross Border Makin Luas, Kini Jangkau China

QRIS Cross Border Makin Luas, Kini Jangkau China

Bank Indonesia memperluas QRIS ke China, memudahkan transaksi digital lintas negara tanpa uang tunai.

(Bisnis.Com) 01/05/26 14:32 208607

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) resmi memperluas kerja sama pembayaran lintas negara (cross-border payment) ke China, memperbesar peluang transaksi digital lintas batas sekaligus memperkuat konektivitas sistem pembayaran Indonesia dengan salah satu mitra ekonomi terbesar Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan QRIS Antarnegara merupakan contoh nyata implementasi inovasi domestik yang dikembangkan dan diperluas pemanfaatannya hingga lintas negara.

Seiring dengan diluncurkannya QRIS Antarnegara Indonesia-China, Perry menyebut bahwa warga negara Indonesia yang sedang melakukan perjalanan ke China tidak perlu menggunakan uang tunai dalam bertransaksi. Hal ini juga berlaku bagi warga negara China yang sedang berada di Indonesia.

“Jadi setiap kali kita pergi ke China atau warga China datang ke Indonesia, tidak perlu menggunakan uang tunai. Cukup gunakan ponsel, dan voila, Anda bisa membeli apa saja,” kata Perry dalam Peluncuran Implementasi QRIS Antarnegara China, di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).

Implementasi QRIS antarnegara Indonesia–China juga mempertegas komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas batas (Local Currency Transaction/LCT), sehingga dapat meredam risiko fluktuasi nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi arus perdagangan dan investasi antara kedua negara.

Pada kesempatan tersebut Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menyampaikan komitmen pemerintah China untuk selalu mendukung perluasan akseptasi dan partisipasi QRIS Antarnegara.

“Kami akan terus memperluas partisipasi serta penerimaannya dengan melibatkan lebih banyak bank dan institusi pembayaran,” ujar Wang.

Dengan resminya kerja sama ini, China kini menjadi negara keenam yang bisa mengakses QRIS, setelah Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.

Qris
Qris

Fokus Penguatan Fondasi Ekosistem

Pada tahap awal, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menuturkan bahwa implementasi QRIS Antarnegara Indonesia-China akan difokuskan pada penguatan fondasi ekosistem. Hal ini termasuk perluasan akseptasi merchant, kesiapan infrastruktur, serta edukasi dan adopsi pengguna di kedua negara.

Selain itu, sebagai inisiatif baru dalam konektivitas pembayaran lintas negara, dinamika permintaan dan perilaku pengguna masih dalam tahap pembentukan.

“....sehingga pendekatan yang digunakan lebih bersifat market-driven,” ujar Filianingsih kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).

Kendati demikian, Filianingsih mengungkapkan bahwa hasil sandbox telah menunjukkan traction yang sangat kuat, dengan lebih dari 1,6 juta transaksi inbound senilai sekitar Rp550 miliar serta outbound sekitar 8.900 transaksi senilai Rp6,4 miliar.

Capaian ini, kata dia, menjadi indikasi awal potensi pertumbuhan ke depan seiring semakin luasnya penggunaan dan akseptasi QRIS Antarnegara Indonesia–China.

Ke depan, Filianingsih menyebut bahwa perluasan QRIS Antarnegara akan diarahkan pada negara-negara mitra yang memiliki hubungan ekonomi kuat dan potensi transaksi tinggi dengan Indonesia, serta menunjukkan kesiapan dari sisi ekosistem pembayaran dan kerja sama otoritas.

“Implementasi akan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan masing-masing negara dan perkembangan ekosistem pembayaran lintas negara,” tuturnya.

Adapun, negara yang sedang dalam penjajakan dan diskusi intensif antara lain Vietnam, Filipina dan beberapa negara lainnya.

Implementasi Bertahap

Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (Aspi) Santoso memandang, langkah BI memperluas penggunaan QRIS ke Negeri Tirai Bambu sangat strategis, mengingat besarnya ekosistem digital kedua negara. Dia menyebut, potensi pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata, tetapi juga akan memperkuat transaksi bisnis ke depan.

“Ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi. Karena banyak sekali juga turis dari China maupun turis dari Indonesia datang ke dua negara ini,” kata Santoso di sela-sela Peluncuran Implementasi QRIS Antarnegara China, di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).

Dari sisi Indonesia, implementasi QRIS lintas negara dengan China tidak menghadapi kendala berarti. Pasalnya, sistem QRIS telah terintegrasi dalam satu standar nasional.

Tantangan justru datang dari sisi China yang masih perlu menyatukan berbagai platform pembayaran digitalnya agar dapat terhubung untuk transaksi internasional.

Santoso menuturkan, selama ini sistem pembayaran di China lebih berfokus pada kebutuhan domestik dengan transaksi berbasis mata uang yuan.

Sementara dalam skema lintas negara dengan Indonesia, transaksi dilakukan menggunakan konsep Local Currency Transaction (LCT), yakni langsung antara rupiah dan yuan tanpa melalui mata uang perantara. Kondisi ini menuntut adanya penyesuaian sistem di China, mengingat terdapat perbedaan penggunaan yuan untuk domestik (CNH) dan internasional (CNY).

“Jadi mereka harus mengintegrasikan, tentu ada sedikit adjustment,” ujarnya.

Meski demikian, Santoso menyebut integrasi tersebut terus berjalan secara bertahap. Saat ini, dia mengungkapkan bahwa layanan pembayaran seperti Alipay dan UnionPay sudah dapat digunakan dalam skema QRIS Antarnegara.

Ke depan, Aspi membuka peluang kerja sama dengan mobile payment chat lainnya seperti WeChat Pay.

“Diharapkan nanti semua QR di China akan bisa digunakan,” ungkap Santoso.

Sementara itu, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyebut bahwa perluasan penggunaan QRIS di sejumlah negara menunjukkan eksistensi sistem pembayaran Indonesia. Selain mempermudah pengguna QRIS di negara lain, layanan ini juga mengurangi biaya konversi valuta asing.

Kendati begitu, lanjut dia, baik BI maupun industri pembayaran perlu memerhatikan sejumlah risiko. “Risko siber dan keamanan data, risiko operasional, dan risiko pelindungan konsumen bila terjadi dispute di negara tempat transaksi perlu diperhatikan,” kata Trioksa kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).

Berdasarkan data BI, volume transaksi pembayaran digital pada kuartal I/2026 tumbuh sebesar 37,69% secara tahunan (year on year/YoY), mencapai 14,82 miliar. Capaian ini mencakup transaksi QRIS yang terus tumbuh signifikan mencapai 116,43% YoY.

Sejak perdana diluncurkan pada 2020 hingga saat ini, BI melaporkan bahwa akseptasi QRIS telah menjangkau 44 juta merchant yang utamanya adalah UMKM dan 61,7 juta pengguna. Sejak diluncurkan pada 2020, QRIS telah memfasilitasi sekitar 31 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp2.970 triliun.

Kinerja QRIS antarnegara terus mencatat tren yang positif. Transaksi wisatawan asing di Indonesia (inbound) tercatat lebih besar dibandingkan transaksi masyarakat Indonesia di luar negeri (outbound), baik dari sisi jumlah maupun nilai transaksi.

Pada kuartal I/2026, otoritas moneter mencatatkan total volume transaksi QRIS inbound mencapai 2,79 juta atau meningkat 222% YoY, dengan nilai nominal Rp713,59 miliar. Sementara, transaksi volume QRIS outbound juga meningkat, tercatat 737.647 transaksi dengan nilai transaksi Rp249,26 miliar.

#qris-cross-border #pembayaran-lintas-negara #qris-china #transaksi-digital #sistem-pembayaran-indonesia #qris-antarnegara #mata-uang-lokal #transaksi-lintas-batas #ekosistem-pembayaran #qris-indonesia

https://finansial.bisnis.com/read/20260501/90/1970584/qris-cross-border-makin-luas-kini-jangkau-china