Tujuan PepsiCo Sangat Jelas: Tidak Ada Deforestasi, Tidak Ada Konversi Lahan

Tujuan PepsiCo Sangat Jelas: Tidak Ada Deforestasi, Tidak Ada Konversi Lahan

Pabrik PepsiCo di Cikarang telah 100% menggunakan energi terbarukan, itu kombinasi dari sertifikat energi terbarukan (REC) dan biomassa.

(Katadata) 28/04/26 13:19 205139

Produk makanan ringan Cheetos, Lays, dan Doritos kembali ke pasar Indonesia di bawah naungan PT PepsiCo Indonesia setelah sempat perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu sempat hengkang pada 2021. Perusahaan kembali dengan mendirikan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak 2025.

Ketika PepsiCo meninggalkan Indonesia, produksi camilan berbahan dasar kentang dan jagung tetap memanfaatkan sumber bahan baku dari nusantara. Saat ini, dengan didirikannya pabrik di dalam negeri, sumber bahan baku, produksi, dan pemasarannya berputar di Indonesia.

Bisnis ini sangat bergantung pada aktivitas agrikultur, yang sangat berdampak terhadap lingkungan. Belum lagi kebutuhan air dalam jumlah besar dalam produksi camilan, hingga sisa bahan baku dan sampah kemasan yang terbuang ke lingkungan.

Kepentingan bisnis dan kelestarian sumber daya alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik bisnis yang berkelanjutan di Indonesia.

Dalam sebuah wawancara terbatas dengan sejumlah media,Chief Sustainability Officer PepsiCo Global, Jim Andrew, membeberkan upaya-upaya berkelanjutan dalam operasional bisnisnya. Mulai dari pertanian regeneratif, energi bersih untuk operasional pabrik, hingga pemanfaatan limbah untuk ekonomi sirkular.

Ia juga menegaskan upaya perusahaan untuk mendapatkan pasokan bahan baku yang berkelanjutan memastikan tidak terjadi deforestasi dan konversi lahan. Berikut kutipan wawancaranya.

Anda memanfaatkan banyak minyak kelapa sawit dari Indonesia dan PepsiCo sebenarnya tengah fokus dalam kepatuhan rantai pasoknya. Bagaimana strategi global perusahaan Anda?

Ketika kami memikirkan tentang berbagai pasokan agrikultur, pedoman kami adalah strategi keberlanjutan ‘PepsiCo Positive’. Itu benar-benar menempatkan keberlanjutan di dalam inti strategi bisnis kami. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai sesuatu yang ada di luar sana dan menjalankan bisnis secara terpisah, ini satu kesatuan yang menjadi komponen inti.

PepsiCo Positive adalah citra perusahaan. Kami menerapkan citra pada segalanya, kami pun berpikir, ‘Bagaimana kami benar-benar mengaitkannya?’ Kami menyadari ada tiga bidang, salah satunya kami sebut ‘Positive Agriculture’, karena kami perusahaan makanan, sekitar 60% (produksi perusahaan) adalah makanan. Yang ada di negara ini adalah Lays, Cheetos, dan Doritos.

Kami memiliki pabrik baru yang sangat besar yang telah kami bangun. Investasinya sekitar US$ 200 juta (Rp 3,48 triliun, kurs Rp 17.240 per US$) dan kami memulai operasionalnya tahun lalu. Namun, kami sudah lama membeli bahan baku dari Indonesia.

Yang selalu kami perhatikan untuk memperoleh bahan baku dari seluruh dunia, adalah ‘Bagaimana kami melakukannya dengan baik?’ dan ‘Bagaimana kami melakukannya secara berkelanjutan?’

Jadi, kami memiliki tiga tujuan utama atau kami sebut pilar, yaitu Positive Agriculture, Positive Value Chain, dan Positive Choices.

Positive Choices adalah portofolio (produk) kami. Positive Value Chain adalah tujuan kami terkait emisi, penggunaan air, dan kemasan. Lalu Positive Agriculture, karena jika kami tidak memiliki komoditas tanaman pangan, kami tidak bisa berbisnis. Jadi kami bekerja sangat erat dengan petani dan komunitas lokal, bagaimana kami membantu mereka menjalankan pertanian yang lebih baik, lebih berkelanjutan.

Ini adalah pertanian regeneratif. Bagaimana kami mendapatkan bahan baku kami secara berkelanjutan dan kami dapat meningkatkan mata pencaharian para petani dan komunitas yang terlibat. Jadi kami berbincang banyak petani di Kalimantan Timur dan meninjau praktik baik perkebunan besar maupun pertanian lahan kecil dengan luas 2.000 hektare.

Kami meninjau keduanya. Bagaimana mereka merawatnya? Juga bagaimana mereka merawatnya dengan cara yang berkelanjutan dan mendukung mata pencaharian mereka dalam jangka panjang?

Termasuk hutan dan kemampuannya untuk tumbuh, selama tahun-tahun berikutnya. Saat ini kondisi lingkungan banyak berubah, dan kami sebagai perusahaan membutuhkan rantai pasok yang tangguh. Artinya, kami membutuhkan para petani untuk tetap bertani. Kami ingin mereka berhasil, kami ingin mereka produktif.

Jadi apa yang kami telah lakukan dan sering saya lakukan di berbagai belahan dunia adalah bekerja sama dengan tim kami di tingkat tapak sehingga mereka dapat bekerja dengan berbagai mitra, termasuk dengan petani. Ini bisnis dengan skala sangat lokal.

Saya banyak berbincang dengan para petani setiap tahun dan mereka dapat menceritakan pada Anda, "Perkebunan saya ini berbeda." Kami baru saja berbincang pekan ini dengan para petani, dan mereka mengatakan, "Bagian di sana dulu, tanahnya berbeda, ada yang tanahnya satu jenis, ada yang kondisinya sudah rusak, dan saya sudah memulihkannya." Itu adalah hal yang sangat penting dalam bekerja sama dengan petani.

Dalam rantai pasok global kami, kami memiliki sekitar 300 ribu petani yang bekerja sama secara langsung maupun tidak langsung. Jadi kami tidak bisa menyentuh setiap petani, tapi kita bekerja sama dengan mitra yang dapat mendukung para petani untuk melakukan apa yang banyak kami lihat pekan ini di tingkat tapak.

Ketika kamu hanya membantu satu petani, satu perkebunan, tapi tanah di sekitarnya tidak efektif, maka itu tidak akan berhasil seperti kamu bekerja pada keseluruhan lanskap dan komunitas yang ada. Baik itu memastikan tanahnya tetap sehat atau pemulihan airnya berhasil.

Jadi, kami mencari aksi kolektif dengan mitra yang benar-benar memahami kondisi lingkungan lokal dan dipercaya para petani. Kami berusaha bekerja sama dengan para petani dan membantu mereka berubah. Untuk melakukannya, petani harus percaya itu adalah bisnis mereka. Itulah bagaimana mereka menyajikan makanan di meja untuk keluarga mereka.

Jim Andrew
Jim Andrew (Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas)

Perusahaan memiliki tujuan utama Positive Agriculture, untuk mendukung pertanian regeneratif. Bagaimana konsep pertanian regeneratif ini dilakukan di lapangan?

Pertanian regeneratif adalah serangkaian praktik pertanian di mana pertani akan membantu meningkatkan kualitas tanah. Untuk melakukannya, tergantung pada dimana mereka berada.

Upaya untuk meningkatkan kualitas tanah di Kalimantan Timur akan sangat jauh berbeda dengan di Amerika Serikat (AS). Di sana pun, sebagian memiliki masalah air, ada juga yang tidak. Ada yang mengalami degradasi tanah, ada yang memiliki tanah dengan kualitas sangat baik.

Jadi, ini alasan mengapa kami bekerja sama dengan mitra lokal yang dipercaya para petani dan memahami kondisi lokal, sehingga dapat menentukan apa yang tepat untuk dilakukan petani. Berapa banyak pupuk yang diperlukan? Bagaimana cara menyiapkan tanahnya? Semua hal yang berkaitan dengan itu.

Inilah upaya untuk membantu peningkatan kualitas tanah dan bukan hanya untuk satu tahun, tapi selama bertahun-tahun. Sekali lagi, kami bertemu dengan banyak petani pekan ini.

Kekhawatiran mereka, memang betul saya ingin menghasilkan uang dan memiliki perkebunan sekarang. Tapi, anak saya atau generasi selanjutnya, saya ingin mereka bisa mengikuti jejak saya. Untuk melakukannya, saya harus melindungi hutan, saya harus melindungi tanah.

Lalu, bagaimana Anda memandang isu deforestasi atau atau keterkaitan perkebunan besar dengan bencana? Ini mungkin berkaitan juga dengan bisnis PepsiCo, bagaimana menurut Anda?

PepsiCo sangat jelas mengenai pendekatan yang kami gunakan untuk mendapatkan bahan baku berkelanjutan. No Deforestation, No Conversion (tidak ada deforestasi, tidak ada konversi lahan). Tujuan kami sangat jelas untuk 2030 dan kami bekerja sama dengan lembaga-lembaga khususnya pemasok utama kami.

Jadi, mereka bekerja sama dengan orang yang memasok mereka dengan memastikan bahwa kami bekerja sangat keras agar tidak menyebabkan deforestasi di dalam rantai pasok. Ini sesuatu yang terus menerus kami lakukan secara serius, kami memiliki kebijakan untuk mendukungnya.

Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, apakah Anda menemukan sesuatu yang spesial atau menantang di sini? Bagaimana untuk menghadapinya?

Jika kita melihat gambaran besarnya, para petani di seluruh dunia, apapun yang mereka tanam, dan saya akan membahas Indonesia, sedang menghadapi tantangan yang semakin sulit. Perubahan iklim membuatnya lebih menantang. Tempat yang panas semakin panas, tempat yang basah semakin basah, yang kering semakin kering.

Badai semakin ekstrem, semakin besar. Jadi saya berpikir menjadi petani itu sangat menantang, di mana pun itu di dunia. Mereka harus tetap hidup.

Ketika membahas Indonesia, khususnya minyak kelapa sawit, saya rasa itu tidak berbeda karena mereka menghadapi tantangan yang sama. Jenis perkebunannya berbeda, mereka menanam kelapa sawit, jagung, tapi tidak dengan oats.

Namun mereka harus berhasil, mereka harus menghadapi tantangan cuaca yang sama. Kebijakan kami mengenai deforestasi serupa untuk di seluruh dunia.

Mata pencaharian petani, pasokan berkelanjutan, itu hal-hal yang sangat konsisten. Secara spesifik itulah mengapa kami bekerja sama sangat erat dengan mitra lokal dan bentuk kolaborasinya selalu berbeda, namun secara keseluruhan tantangannya sama di seluruh dunia.

Ketika berbicara mengenai tantangan iklim dan bencana alam, yang menjadi catatan adalah yang terjadi di Tenggulun, Aceh. Salah satu area restorasi di bawah program PepsiCo dilaporkan tidak terlalu terdampak banjir. Bagaimana Anda menjelaskan kondisi area ini?

Kami masih bekerja bersama mitra lokal kami, pelaksana kami, untuk mendapatkan informasi detail dan memahami apa yang menyebabkan apa. Namun sekali lagi, jika kita melihat gambaran besarnya, kita tahu area yang telah direforestasi lebih tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan itu, badai ekstrem atau kekeringan atau apapun itu.

Jadi apakah dalam kasus ini, apa yang kami lakukan secara langsung menjadi penyebabnya atau justru mendukungnya, kami masih berusaha mencari lebih lanjut. Namun umumnya, kita tahu ekosistem yang sehat lebih tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan dari alam.

Kami sangat bersyukur mengetahui area tersebut, apapun alasannya, lebih sedikit terdampak daripada area lainnya. Tampaknya itulah area reforestasi dan memiliki ekosistem alami dan daya dukung yang paling kuat.

Bagi PepsiCo, itu sesuatu yang sangat penting, ketahanan dari rantai pasok kami. Ya, kami membutuhkan petani yang dapat mengatasi kemungkinan perubahan cuaca dan terus bertani sebab kami membutuhkan tanaman pangan. Kita membutuhkan kentang, minyak kelapa sawit, jagung.kita membutuhkan ini semua agar dapat membuat produk yang kita jual kepada konsumen setiap hari.

Ada statistik yang sangat menggembirakan, di seluruh dunia, sekitar satu miliar produk kami dinikmati setiap harinya. Jadi, kami membutuhkan banyak tanaman pangan agar dapat mendukung besarnya bisnis ini dan memberi senyuman di wajah orang-orang. Ya, semua orang menikmati keripik, kan.

Ketika PepsiCo menghentikan produksi makanan ringan di Indonesia pada 2021, PepsiCo Global tetap melanjutkan untuk menghasilkan bahan baku dari Indonesia?

Kami terus memasok sejumlah tanaman dan komoditas pertanian dengan ‘Positive Agriculture’, secara berkelanjutan. Itu tidak berubah karena Indonesia adalah negara yang penting bagi PepsiCo, untuk keduanya.

Area di mana kami mendapatkan pasokan, negara asal pasokan kami, juga perusahaan, negara tempat kami beroperasi. Beberapa tahun kami tidak melakukan operasi di sini, tapi Indonesia tetap menjadi sumber pasokan penting. Kini kami memiliki keduanya, namun itu sudah menjadi hal yang sangat penting dalam jangka waktu panjang.

Dari 300 ribu petani global yang menjadi mitra, berapa banyak dari Indonesia?

Kami tidak memiliki laporan mengenai angka yang pasti, tapi secara langsung maupun tidak langsung ketika menghitung petani kecil, ada sangat banyak di Indonesia, termasuk yang perkebunannya sangat luas.

Salah satu pria yang kami temui pekan ini memiliki 2.000 hektare lahan. Di tempat lain, bertemu dengan sekitar 10-15 petani. Kami makan siang bersama dan mereka menunjukkan kepada kami bagaimana lembaga yang bekerja sama dengan mereka membantu para petani menanam kakao secara tumpang tindih dengan kelapa sawit. Sehingga, mereka memiliki penghasilan tambahan dari kakao.

Selain itu, hal ini juga bermanfaat bagi kesuburan tanah dan membantu mendiversifikasikan kegiatan pertanian mereka. Di sana kami bertemu dengan sekitar 10-15 petani, tetapi skala usaha mereka semua cukup kecil. Itu di Kutai, Kalimantan Timur.

PepsiCo mengirim sejumlah petani Indonesia untuk belajar dari Thailand, apa tujuannya?

Keripik Lays mungkin menjadi merek makanan terbesar di dunia dan sangat disukai konsumen. Rasanya, teksturnya, penampilannya. Budaya menggoreng kentang di rumah sudah ada sejak lama, kami hanya punya dapur lebih besar untuk membuatnya.

Tapi semuanya dimulai dari kentang. PepsiCo memiliki varietas genetiknya sendiri di banyak negara untuk memastikan kentang tersebut sempurna dari segi DNA, tetapi kita membutuhkan petani untuk menanamnya dengan cinta dan perhatian agar berkualitas. Ketika kami masuk ke negara baru, ada proses edukasi yang kami lakukan bersama petani negara tersebut untuk membantu mereka belajar cara menanam kentang Lays sebaik mungkin.

Tanah, air, dan jika memungkinkan genetika yang tepat untuk memaksimalkan hasilnya. Para petani belajar paling baik dari sesama petani. Saat mereka pergi melihatnya, mereka mencelupkan jari mereka ke ladang lain dan petani itu memberitahu mereka ‘inilah yang berhasil’, maka itu seperti sihir.

Itulah mengapa kami berusaha melakukan hal-hal seperti membawa petani ke Thailand untuk berbincang dengan petani lain yang telah berhasil menanam kentang selama bertahun-tahun.

Pelatihan ini membantu seluruh ekosistem pertanian di Indonesia dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Petani mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi, mereka menghasilkan lebih banyak uang, dan mereka mampu menekan biaya dengan menggunakan input dalam jumlah tepat. Bukan hanya untuk satu tahun, tetapi untuk jangka panjang.

Kami mengajak mereka untuk melihat langsung dan seiring waktu mereka menjadi petani yang lebih baik. Di banyak negara, kami memiliki apa yang kami sebut sebagai demo farms atau lahan percontohan. Pada suatu saat, saya yakin kami tidak akan membawa mereka ke Thailand, kami akan membawa mereka ke seorang petani Indonesia yang sukses menanam kentang beberapa tahun.

Pabrik PepsiCo di Indonesia, di Cikarang menggunakan energi bersih dalam operasinya. Saya ingin tahu energi bersih apa yang dimanfaatkan dan berapa besar implementasinya? Mungkin berapa persen dari total energi yang digunakan?

Ya, sekali lagi, pabrik kami dibangun saat kembalinya kami ke negara ini dengan nilai sekitar US$ 200 juta. Kami merancangnya sangat ramah lingkungan sejak dari awal. Sebab, ketika kami membangun pabrik baru, kami menyebutnya sangat ‘Sustainable from the Start’ (berkelanjutan sejak awal). Kami ingin membangunnya dengan cara yang dapat membantu tujuan kami pada 2030.

Jadi, itu telah 100% menggunakan listrik terbarukan. Itu dicapai melalui berbagai kombinasi dari sertifikat terbarukan, RECs (renewable energy certificate), dengan biomassa. Ada sebuah ketel uap (boiler) bertenaga biomassa, khususnya yang kami gunakan untuk membuat keripik Lays. Kami memiliki sejumlah perjanjian jual-beli listrik. Jadi kami memiliki portofolio penggunaan listrik terbarukan. Tapi sudah 100% hari ini.

Air juga menjadi topik yang penting, jadi kami memiliki manajemen air yang sangat kuat. Bagi kami, kami memiliki visi bahwa pada 2030 kami akan mencapai Net Water Positive. Artinya, jumlah air yang kami gunakan untuk membuat produk akan lebih rendah dari yang kami pulihkan ke daerah aliran sungai, ke area di mana air diperoleh.

Kami melakukannya dengan cara memastikan bahwa pabrik beroperasi sangat efisien. Jadi kami menerapkan praktik terbaik di pabrik sejak awal. Selain itu, kami juga memiliki proyek pemulihan cadangan air. Saya harus mengeceknya agar tidak salah menyebutkan, jadi kami proyek restorasi, pemulihan cadangan air di Sukabumi. Kami merestorasi 7.000 benih di area seluas 30 hektare. Ini adalah contoh proyek pemulihan cadangan air yang sudah dijalankan.

Itu telah memulihkan kembali cadangan air dalam jumlah sangat besar. Ke depan, kami ingin melihat bagaimana cara mengurangi penggunaan air sekaligus memulihkan cadangan air tersebut untuk mencapai Net Water Positive.

Kami juga bekerja sama dengan perusahaan air minum dan ini sangat inovatif. Kami bekerja sama dengan mereka untuk menggunakan air daur ulang dari sistem mereka untuk hal-hal seperti mencuci kentang. Jadi, penggunaan air bersih benar-benar rendah dan sangat efisien.

Begitu juga soal limbah. Kami selalu mencari cara untuk menggunakan ulang limbah sebanyak mungkin, mengurangi limbah dan menggunakannya kembali sebanyak yang kami mampu. Anda benar, pabrik ini adalah salah satu contoh nyata di seluruh sistem kami di seluruh dunia perihal efisiensi, keberlanjutan, dan menjadi pengelola sumber daya yang baik.

Melanjutkan perihal sampah dari pabrik, itu akan menjadi limbah organik yang mungkin dapat digunakan untuk kompos dan lain sebagainya, apakah PepsiCo memiliki program untuk menjalankannya?

Kami memulainya dengan meminimalisasi limbah, karena dengan mengurangi, mengurangi, mengurangi, ini adalah pendekatan terbaik. Benar bahwa limbah keluar dari pabrik kami, dari kemasan, limbah air, dan semuanya. Jadi kami selalu berupaya mengurangi lalu kami berupaya menggunakan kembali di manapun kami bisa.

Jadi hal-hal seperti boiler bertenaga biomassa menggunakan limbah yang biasanya berasal dari lingkungan setempat. seperti limbah pertanian atau semacamnya.

Di pabrik kami di Inggris misalnya, kami mengumpulkan kulit-kulit kentang dan memasukannya dalam anaerobic digester (pengurai limbah tanpa oksigen), lalu mengubahnya menjadi pupuk yang kemudian disalurkan kepada petani untuk digunakan di ladang mereka untuk menanam kentang. Jadi ini adalah sistem sirkular yang sangat baik. Sekali lagi, apa yang kami lakukan tergantung pada lokasi kami, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah.

Sekali lagi, kemampuan untuk memanfaatkan air daur ulang dalam kegiatan seperti mencuci merupakan pendekatan yang sangat inovatif, yang dapat terwujud berkat kerja sama baik dengan perusahaan air minum setempat.

Mengetahui kerja Anda dan Tim PepsiCo, saya membayangkan itu pasti membutuhkan biaya lebih banyak, untuk membuatnya berkelanjutan. Ini ada biaya tambahan. Bagaimana untuk berkompromi dengan itu? Satu sisi harus ramah lingkungan dan di sisi lain produk tersebut harus terjangkau harganya

Keterjangkauan bagi konsumen di seluruh dunia, keterjangkauan adalah isu besar dan kami sangat menyadari pentingnya keterjangkauan dan apa yang perlu kami lakukan agar bisnis kami bisa sukses. Kami juga menyadari, untuk mencapai kesuksesan, bisnis kami harus berkelanjutan.

Jika para petani tidak bisa menanam produk yang kita butuhkan di Indonesia, seperti jagung, kelapa sawit, atau kentang, bisnis kita tidak akan berjalan. Jadi kita harus melakukannya keduanya. Tentu saja, produk kita harus terjangkau dan kita harus memastikan bahwa pertumbuhan kita berkelanjutan.

Kami berada di Indonesia untuk jangka panjang. Jadi bukan hanya dari pasokan, tetapi juga dari sudut pandang bisnis dan operasional, kami harus memastikan produk kami terjangkau, inovatif, dan berkualitas tinggi sehingga semua orang di ruangan ini membeli lebih banyak dan menikmatinya.

Kami harus melakukannya dengan cara berkelanjutan hingga ke seluruh rantai pasok kita. Baik itu air atau pertanian, harus berkelanjutan. Ini berlaku di seluruh dunia, jadi kita harus melakukan keduanya dan tidak memisahkannya. Itulah yang membedakan PepsiCo.

Sekali lagi, PepsiCo Positive bukanlah CSR yang terpisah dari bisnis. Kami melihat dewan direksi kami, CEO kami, memahami pentingnya membangun bisnis berkelanjutan. Untuk melakukannya, Anda harus memastikan seluruh rantai pasok dan semua orang di dalamnya juga berkelanjutan.

PepsiCo banyak menggunakan plastik dan sebagainya, bagaimana PepsiCo mengelola produk pascapakai atau limbah plastiknya? Bagaimana upaya pengumpulannya berjalan?

Kami memiliki visi bahwa kemasan tidak akan pernah menjadi limbah. Setidaknya itu aspirasi kami di seluruh dunia. Namun tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian, butuh kerja sama. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perusahaan, dan konsumen harus berperan membantu menciptakan ekonomi sirkular untuk kemasan. Oleh karena itu, kami bekerja sangat erat dengan organisasi di Indonesia di seluruh rantai nilai.

Kami bekerja sama erat dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) untuk program pengumpulan (kemasan pasca pakai) dalam rangka EPR (extended producers responsibility) dan Bali Waste Cycle, itu adalah organisasi yang bekerja sangat erat karena kami butuh mitra.

Semua langkah itu harus dijalankan untuk mewujudkan ekonomi sirkular. Jika salah satunya terlewatkan atau tidak terlaksana, maka sistemnya akan runtuh.

Tapi di level global, pada 2024 yang merupakan data terbaru, kami telah mengurangi penggunaan plastik baru dalam lingkup kami sebesar lima persen secara tahunan. Jadi kami memiliki sekitar 15% kandungan daur ulang dalam lingkup kami.

Kami sedang berupaya mengurangi, kami berupaya menggunakan lebih banyak kandungan bahan daur ulang, dan bekerja sama dengan lembaga seperti Ellen MacArthur Foundation secara global, serta Bali Waste Cycle dan IPRO secara lokal agar dapat bekerja sama untuk menciptakan ekonomi sirkular.

Dukungan pemerintah seperti apa yang menurut Anda diperlukan untuk mendukung penggunaan bahan daur ulang dalam kemasan?

Pemerintah memainkan peran sangat penting dalam menetapkan kerangka kebijakan untuk ekonomi sirkular terkait kemasan. Apakah Anda memiliki infrastruktur untuk mengumpulkan kemasan? Apakah Anda memiliki sistem EPR yang dirancang dengan baik dan berfungsi? Apakah anda memiliki persyaratan kandungan daur ulang? Apakah Anda berpikir secara luas atau hanya berpikir sempit perihal bahan?

Jadi, ada serangkaian hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk membantu menetapkan kerangka kebijakan yang kemudian membantu memobilisasi seluruh ekosistem. Sekali lagi, tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian.

Tahun 2030 hanya empat tahun dari sekarang, Anda menyebutkan sejumlah target tapi apakah anda mengevaluasi visi tersebut dan apakah anda telah memiliki catatan, mungkin secara tidak resmi, melampaui 2030?

Kami melaporkan perkembangan setiap tahun dalam mencapai setiap tujuan yang telah ditetapkan. Anda dapat menemukan laporkan terakhir di situs kami, kami melaporkannya setiap tahun. Versi terbaru baru akan keluar beberapa bulan yang mana akan merangkum semua data dari 2025.

Sebagian telah dirilis, sebagian lagi masih dalam proses. Kami telah mencapai beberapa target air kami lebih awal. Meskipun demikian, kita akan menghadapi tantangan 2030 dan kita akan memantau kemajuan kita. Jadi kita sangat transparan. Orang-orang dapat melihat dimana kami, apa yang kami kerjakan, apa yang menjadi tantangan-tantangan.

Terkait rencana setelah 2030, kami masih fokus pada target 2030. Ketika sudah lebih dekat tentu kami akan mulai memikirkannya. Kami belum memulai untuk setelah 2030. Seperti yang Anda katakan, itu masih panjang, 4,5 tahun lagi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Katadata Apps on Apple AppstoreKatadata Apps on Google Playstore
mobile apps preview

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Editor: Hari Widowati

Cek juga data ini

#pepsico #ekonomi-sirkular #industri-hijau #give-me-perspective

https://katadata.co.id/indepth/wawancara/69f0517329d93/tujuan-pepsico-sangat-jelas-tidak-ada-deforestasi-tidak-ada-konversi-lahan