Pasokan Ketat Dorong Harga Minyak Naik, Goldman Sachs Revisi Proyeksi

Pasokan Ketat Dorong Harga Minyak Naik, Goldman Sachs Revisi Proyeksi

Bank investasi Goldman Sachs kembali menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal IV-2026 seiring ketatnya pasokan global akibat gangguan produksi.

(Kompas.com) 27/04/26 15:56 204076

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank investasi Goldman Sachs kembali menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal IV-2026 seiring ketatnya pasokan global akibat gangguan produksi di Timur Tengah.

Ini menandai revisi terbaru dalam serangkaian penyesuaian outlook yang dilakukan bank investasi tersebut sepanjang tahun ini.

Dalam catatannya yang dirilis pada Minggu (26/4/2026), Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent menjadi 90 dollar AS per barrel dari sebelumnya 80 dollar AS per barrel.

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Sementara itu, dikutip dari Reuters, Senin (27/4/2026), proyeksi harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) dinaikkan menjadi 83 dollar AS per barrel dari sebelumnya 75 dollar AS per barrel.

Kenaikan proyeksi itu terjadi ketika pasar minyak dibayangi penurunan output di kawasan Teluk dan berlanjutnya gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menyebut, tekanan terhadap pasokan membuat risiko terhadap harga minyak cenderung mengarah ke atas.

“Risiko ekonomi mungkin lebih besar daripada perkiraan dasar minyak mentah kami,” tulis para analis Goldman Sachs dalam catatan tersebut.

Menurut Goldman Sachs, revisi naik dilakukan karena dampak gangguan pasokan dinilai lebih besar dari asumsi sebelumnya.

Bank itu juga memperingatkan, harga produk olahan yang tinggi, potensi kekurangan produk, serta skala guncangan pasokan yang besar dapat terus menopang harga.

Revisi berulang di tengah pasar yang belum stabil

GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

Kenaikan terbaru ini bukan revisi pertama yang dilakukan Goldman Sachs tahun ini. Pada Maret 2026, bank tersebut telah menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak mentah Brent 2026 menjadi 85 dollar AS per barrel dari 77 dollar AS per barrel.

Beberapa pekan kemudian, Goldman Sachs kembali merevisi proyeksi harga minyak dunia kuartal IV 2026 menjadi 90 dollar AS, mencerminkan perubahan cepat dalam asumsi pasar.

Reuters melaporkan, Goldman Sachs juga sebelumnya menilai terdapat “two-way risks” terhadap prospek harga minyak 2026, namun perkembangan konflik dan gangguan pasokan membuat risiko kenaikan kini lebih dominan.

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menilai inventori minyak global berpotensi turun ke level yang sangat rendah apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Goodman Sachs memperkirakan stok minyak dan produk global yang sebelumnya mencapai 8,2 miliar barrel dapat turun menjadi sekitar 7,6 miliar barrel, bahkan di bawah 7,4 miliar barrel bila gangguan berlanjut hingga akhir Mei 2026.

Penurunan cadangan tersebut menjadi salah satu dasar kekhawatiran bahwa pasar minyak memasuki fase yang lebih rapuh.

Selat Hormuz jadi titik kritis

Fokus perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur ekspor utama negara-negara produsen Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Goldman Sachs dalam laporan terpisah pada 24 April 2026 lalu menyebut sekitar 14,5 juta barrel per hari produksi Teluk atau sekitar 57 persen dari level pra-konflik sempat offline pada April 2026.

Meski bank itu menilai produksi bisa pulih dalam beberapa bulan setelah jalur pengiriman kembali normal, risiko jangka pendek tetap tinggi.

Gangguan itu turut mengerek harga spot minyak. Reuters melaporkan harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari 17 persen dalam sepekan, kenaikan mingguan terbesar sejak awal konflik pecah, sementara harga minyak mentah WTI melonjak 13 persen.

NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Pada perdagangan terkini, harga minyak Brent diperdagangkan di sekitar 106 dollar AS per barrel, jauh di atas proyeksi kuartalan Goldman Sachs, mencerminkan premi risiko geopolitik yang masih besar.

Menurut para analis Goldman Sachs, harga spot yang lebih tinggi dari proyeksi dasar tersebut justru menunjukkan adanya upside risk.

“Risiko kenaikan harga minyak tetap signifikan,” tulis para analis Goldman Sachs.

Risiko inflasi dan kekurangan produk olahan

Yang menjadi perhatian Goldman Sachs bukan hanya harga minyak mentah, tetapi juga pasar produk olahan.

Dalam catatannya, bank itu menyoroti tingginya harga refined products dan potensi kekurangan pasokan, yang dapat memperburuk tekanan inflasi energi global.

Revisi proyeksi harga minyak dunia oleh Goldman Sachs juga didorong penilaian bahwa pasar kini bukan hanya menghadapi persoalan guncangan pasokan minyak mentah, tetapi juga risiko bottleneck di sisi pengolahan dan distribusi energi.

Bagi pasar, ini berarti tekanan harga tidak hanya terasa pada harga acuan minyak mentah seperti Brent dan WTI, tetapi berpotensi menjalar ke bensin, solar, hingga avtur.

Sinyal tersebut mulai terlihat. Reuters melaporkan Petrobras Brasil berencana menaikkan harga avtur untuk distributor sebesar 18 persen mulai Mei 2026, salah satunya dipicu perubahan lingkungan harga energi global.

Kenaikan harga produk olahan ini memperkuat pandangan bahwa dampak gangguan pasokan bisa lebih luas dibanding sekadar volatilitas di pasar futures.

Goldman Sachs lihat skenario lebih ekstrem

SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Meski proyeksi dasar harga minyak mentah Brent berada di 90 dollar AS per barrel, Goldman Sachs juga membuka kemungkinan skenario harga yang lebih tinggi bila gangguan memburuk.

Dalam laporan sebelumnya, bank tersebut memperingatkan harga minyak Brent dapat menembus 115 dollar AS per barrel pada skenario gangguan berkepanjangan dan produksi Timur Tengah tidak cepat pulih.

Skenario itu, menurut Goldman Sachs, bukan baseline, tetapi mencerminkan besarnya sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan saat cadangan global menipis.

Para analis Goldman Sachs juga menyebut skala supply shock saat ini sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah pasar minyak modern.

Goldman Sachs menyebut gangguan kali ini berpotensi menjadi guncangan pasokan terbesar yang pernah terjadi di pasar minyak mentah global.

Pernyataan itu menegaskan mengapa Goldman Sachs terus merevisi asumsi harga dalam waktu berdekatan.

Bukan hanya soal perang, tapi struktur pasar

Meski pemicu utama berasal dari ketegangan geopolitik, Goldman Sachs menilai persoalannya lebih dalam, yakni menyangkut struktur pasar minyak yang makin rentan terhadap gangguan pasokan.

Dalam kondisi kapasitas cadangan terkonsentrasi pada sedikit produsen besar dan inventori global menurun, gangguan logistik kecil sekalipun dapat memicu lonjakan harga yang tidak proporsional.

Para analis Goldman Sachs melihat pemulihan produksi minyak Arab Saudi dan UEA bisa lebih cepat dibanding negara lain, tetapi keterbatasan tanker, tekanan reservoir, serta hambatan logistik dapat memperlambat normalisasi produksi.

Karena itu, menurut bank tersebut, pasar tidak bisa hanya mengandalkan asumsi pemulihan pasokan cepat.

Goldman Sachs juga menilai risiko ekonomi akibat harga tinggi bisa melampaui yang tercermin dalam proyeksi harga minyak itu sendiri.

SHUTTERSTOCK Ilustrasi kapal tanker.

Pasar menunggu arah berikutnya

Dengan harga minyak mentah Brent di pasar spot masih diperdagangkan di atas 100 dollar AS per barrel, perhatian pasar kini tertuju pada apakah revisi Goldman Sachs terbaru akan menjadi titik akhir atau justru membuka jalan bagi penyesuaian lanjutan.

Sejauh ini, bank tersebut tetap mempertahankan proyeksi dasar pemulihan pasokan dalam beberapa bulan, namun mengakui ketidakpastian tetap tinggi.

Bagi pasar energi, revisi Goldman Sachs memperkuat pesan bahwa harga minyak dunia 2026 tidak lagi semata ditentukan oleh proyeksi permintaan global, tetapi juga oleh seberapa cepat gangguan pasokan dan logistik di kawasan kunci bisa diatasi.

Dan selama ketidakpastian itu bertahan, volatilitas tampaknya masih akan menjadi tema utama pasar minyak tahun ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#goldman-sachs #harga-minyak #produksi-minyak #harga-minyak-mentah #selat-hormuz

https://money.kompas.com/read/2026/04/27/155624126/pasokan-ketat-dorong-harga-minyak-naik-goldman-sachs-revisi-proyeksi