Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dongkrak Inflasi? BI: Tidak Besar, Hanya 0,04 Persen
Bank Indonesia (BI) memastikan dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap inflasi April 2026 relatif terbatas, hanya 0,04%, menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi solid.
(Kompas.com) 23/04/26 11:20 200203
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memastikan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi terhadap inflasi pada April 2026 relatif terbatas.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi yang terjadi seiring perkembangan harga minyak dunia memang memberikan kontribusi terhadap inflasi bulanan.
Namun, kontribusi tersebut dinilai sangat kecil terhadap inflasi secara keseluruhan, yakni hanya sekitar 0,04 persen, sehingga tidak akan mengganggu stabilitas harga secara keseluruhan.
"BBM non-subsidi apabila kita lihat dengan bobotnya di inflasi, maka untuk bulan April ini bisa meningkatkan inflasi tetapi tidak terlalu besar, hanya sebesar 0,04 persenan," ujarnya saat konferensi pers, Rabu (22/4/2026).
Bahkan secara keseluruhan proyeksi inflasi untuk 2026 hingga 2027 masih berada dalam kisaran target bank sentral, yakni 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Hal ini menunjukkan inflasi masih terkendali meskipun terdapat faktor eksternal seperti kenaikan harga energiglobal akibat perang di Iran.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, BI juga tetap optimistis. Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan dari 3,1 persen menjadi 3 persen, perekonomian domestik diperkirakan tetap tumbuh solid di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menambahkan, dinamika perang di Timur Tengah harus diwaspadai karena dapat memengaruhi jalur perdagangan dan harga minyak dunia sehingga dapat mengerek harga BBM dalam negeri.
"Untuk itu Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan dalam negeri ini siap me-respons potensi tekanan inflasi dari global khususnya dari kenaikan harga energi atau BBM," kata Ricky.
Selain itu, risiko cuaca seperti fenomenaEl Nino juga berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi, terutama dari sisi pasokan pangan.
Sebab cuaca ini dapat menimbulkan kemarau yang panjang.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Upaya ini antara lain dilakukan melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Sejumlah upaya yang ditempuh melalui tim tersebut meliputi penguatan distribusi pangan, kerja sama antar daerah antara wilayah surplus dan defisitkomoditas pangan tertentu, hingga pelaksanaan operasi pasar murah guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.
"Selain itu juga upaya dari pengendalian harga juga perlu dilakukan, ini melalui koordinasi dan sinergi antara TPID dan Satgas Pengawasan BBM Bersubsidi di daerah-daerah yang kita lakukan agar BBM Bersubsidi dapat disalurkan tepat sasaran," tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-energi-global #inflasi-bbm-non-subsidi #stabilitas-harga-bi #pengendalian-inflasi-tpip-tpid