Pemerintah Akui Mandatori Bioetanol Berpotensi Kerek Harga Pangan

Pemerintah Akui Mandatori Bioetanol Berpotensi Kerek Harga Pangan

Pemerintah akui mandatori bioetanol bisa naikkan harga pangan, namun mitigasi dilakukan dengan teknologi Jepang. Pabrik bioetanol akan dibangun di Lampung.

(Bisnis.Com) 20/04/26 14:49 196691

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengakui adanya potensi efek rambatan dari implementasi mandatori pencampuran bioetanol pada Bahan Bakar Minyak (BBM), yaitu kenaikan naik harga komoditas pangan di dalam negeri pada masa mendatang.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu tidak menampik adanya potensi perbenturan antara program ketahanan energi dan ketahanan pangan. Penggunaan komoditas pertanian sebagai bahan baku utama (feedstock) bioetanol diproyeksikan bakal memengaruhi dinamika harga di pasaran.

"Jadi for future [untuk ke depannya], ini juga nanti akan meningkatkan harga pangan kita, tetapi pun sebagai penyeimbangannya juga ada," ujar Todotua di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Dia menggarisbawahi bahwa pemerintah telah memitigasi disrupsi pada rantai pasok pangan, yaitu dengan mengadopsi teknologi dari Jepang yang diklaim mampu meminimalisasi risiko tersebut.

Adapun, Todotua mengungkapkan Toyota Group sudah berencana menanamkan modal dalam pengembangan industri bioetanol di Indonesia. Pemerintah dan konsorsium yang terdiri dari Pertamina New & Renewable Energy (NRE) dan Toyota Tsusho telah sepakat memilih Provinsi Lampung sebagai lokasi pembangunan pabrik perdana.

Nantinya, proyek tersebut akan bekerja sama dengan Research Development for Bioethanol (RABID) yang didukung oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang. Todotua mengaku telah meninjau fasilitas riset dan produk RABID di Jepang yang akan dibawa ke Indonesia.

"Teknologi RABID yang mengenai etanol itu sudah masuk ke second generation [generasi kedua]. Kalau second generation, artinya tidak mengganggu ekosistem yang ada untuk ketahanan pangan kita," klaimnya.

Sebagai informasi, bioetanol generasi pertama lazimnya diproduksi dari tanaman konsumsi yang mengandung gula atau pati, seperti tebu dan singkong. Sementara itu, generasi kedua memanfaatkan biomassa berlignoselulosa seperti limbah pertanian, residu tanaman, atau serat, sehingga tidak bersaing langsung dengan piring makan masyarakat.

Pabrik pengolahan di Lampung nantinya akan dirancang sebagai fasilitas multi-feedstock. Dengan pendekatan ini, pabrik dapat memproses beragam jenis bahan baku secara fleksibel, mengombinasikan bahan baku generasi pertama dan generasi kedua agar beban terhadap sektor pangan dapat tereduksi.

"Setidaknya, [bahan baku] second generation di-combine dengan first generation [generasi pertama]," kata Todotua.

Demi menjaga kelancaran pasokan feedstock ke depannya, pemerintah bersama konsorsium investor bersiap untuk membuka lahan perkebunan baru berskala masif yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan.

"Rencana untuk awal penanaman itu 6.000 hektare untuk sorgum saja dulu. Itu untuk supporting-nya [pendukungnya]," tutupnya.

#bioetanol #mandatori-bioetanol #harga-pangan #kenaikan-harga-pangan #ketahanan-energi #ketahanan-pangan #feedstock-bioetanol #teknologi-jepang #toyota-group #industri-bioetanol-indonesia #pabrik-bioet

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260420/47/1967917/pemerintah-akui-mandatori-bioetanol-berpotensi-kerek-harga-pangan