Gartner Peringatkan Migrasi Mainframe Berbasis AI Berisiko Besar Alami Kegagalan

Gartner Peringatkan Migrasi Mainframe Berbasis AI Berisiko Besar Alami Kegagalan

Gartner memperingatkan risiko tinggi dalam migrasi mainframe berbasis AI, dengan 70% proyek diprediksi gagal pada 2026. AI belum mampu menggantikan performa mainframe.

(Bisnis.Com) 15/04/26 17:45 192359

Bisnis.com, JAKARTA — Firma riset Gartner memperingatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menghentikan sistem mainframe atau komputer besar lama, kemungkinan besar tidak akan berjalan semulus yang dibayangkan.

Para analis Gartner memperkirakan lebih dari 70% proyek migrasi mainframe yang dimulai pada 2026 tidak akan memberikan hasil sesuai harapan. Penyebab utamanya adalah terlalu tingginya ekspektasi terhadap kemampuan AI generatif.

Selain itu, Gartner juga memprediksi hingga 75% perusahaan penyedia layanan migrasi mainframe berbasis AI bakal terpaksa mengubah bisnis mereka atau bahkan tutup pada tahun 2030.

Salah satu alasan utama sulitnya migrasi ini adalah karena sistem mainframe telah digunakan selama puluhan tahun untuk menyimpan data penting dan menjalankan aplikasi inti perusahaan.

Akibatnya, data yang ada menjadi sangat besar dan saling terhubung dengan kompleks, sehingga sulit dipindahkan ke sistem lain tanpa risiko besar dan biaya tinggi.

Meski begitu, AI generatif tetap memiliki manfaat. Teknologi ini cukup membantu dalam mengidentifikasi dan menjelaskan masalah teknis yang ada dalam sistem lama. Namun, untuk proses utama seperti mengubah dan memindahkan kode secara otomatis, AI dinilai masih memiliki banyak keterbatasan.

AI juga belum mampu menjamin performa sistem setelah migrasi akan setara dengan mainframe.

“Hal ini juga tidak memperhitungkan kemampuan unik yang ditawarkan oleh mainframe misalnya, memastikan bahwa kinerja dan throughput yang sama tercapai setelah migrasi,” tulis para analis yang dikutip dari The Register, Rabu (15/4/2026).

Gartner menilai dorongan penggunaan AI dalam proyek ini juga dipengaruhi oleh tekanan dari investor. Banyak perusahaan merasa harus menggunakan AI agar terlihat relevan dan menjanjikan di masa depan, meskipun sebenarnya belum tentu dibutuhkan.

Di sisi lain, perusahaan pengguna mainframe memang menghadapi tantangan seperti sulitnya mencari tenaga ahli dan tingginya beban teknis. Hal ini membuat AI terlihat seperti solusi instan, meski kenyataannya tidak sesederhana itu.

“Risiko dari kesalahan perhitungan sangat besar,” tulis para analis.

Karena itu, Gartner mengingatkan perusahaan untuk tidak terlalu percaya pada janji pemasaran AI yang terdengar ajaib. Kesalahan dalam mengambil keputusan migrasi tidak hanya bisa menyebabkan pembengkakan biaya, tetapi juga berisiko mengganggu operasional bisnis secara keseluruhan.

Sebagai saran, Gartner menyebut sebagian besar perusahaan sebaiknya tidak terburu-buru meninggalkan mainframe. Sebaliknya, mereka bisa fokus meningkatkan dan memodernisasi sistem yang sudah ada.

Pandangan ini tentu menjadi kabar baik bagi IBM, salah satu perusahaan yang masih mengandalkan bisnis mainframe. Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiranmainframe akan ditinggalkan, terutama setelah Anthropic memperkenalkan teknologi konversi kode berbasis AI melalui produknya.

Namun, kenyataannya bisnis mainframe masih menunjukkan performa yang kuat. Gartner bahkan menilai mainframe tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjalankan aplikasi-aplikasi penting, meskipun tren komputasi berbasis cloud terus berkembang. (Nur Amalina)

#ai-mainframe-migrasi #migrasi-mainframe-risiko #ai-generatif-mainframe #mainframe-migrasi-2026 #ai-migrasi-tantangan #mainframe-sistem-lama #ai-performa-mainframe #mainframe-data-kompleks #ai-teknolog

https://teknologi.bisnis.com/read/20260415/84/1966875/gartner-peringatkan-migrasi-mainframe-berbasis-ai-berisiko-besar-alami-kegagalan