Efek Normalisasi, Ekonom Mandiri Wanti-Wanti Pelemahan Belanja Pasca Lebaran

Efek Normalisasi, Ekonom Mandiri Wanti-Wanti Pelemahan Belanja Pasca Lebaran

Ekonom Mandiri memperingatkan pelemahan konsumsi pasca-Lebaran 2026 lebih drastis dibanding tahun lalu, dengan penurunan signifikan pada tabungan kelas bawah.

(Bisnis.Com) 09/04/26 12:33 186207

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dan pelaku usaha diimbau untuk mewaspadai tren pelemahan konsumsi masyarakat pasca-Lebaran yang turun lebih dalam pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro mewanti-wanti pola normalisasi setelah siklus perayaan keagamaan tahun ini perlu mendapat perhatian khusus.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), Asmo menjelaskan bahwa secara historis konsumsi di Indonesia selalu ditopang oleh dua siklus utama, yakni siklus Ramadan dan siklus libur Natal serta Tahun Baru (Nataru). Konsumsi biasanya akan memuncak pada jelang perayaan hari raya keagamaan dan kembali turun setelahnya.

“Di Ramadan kemarin itu kita lihat memang sedikit lebih baik [kenaikan konsumsinya]. Tapi begitu turun, ini sudah mulai masuk normalisasi setelah Ramadan [2026], itu turunnya lebih tinggi, lebih drastis dibandingkan dengan tahun 2025,” ujar Asmo dalam Seminar Pusdiklat Pajak, Rabu (8/4/2026).

Lebih rinci, data MSI menunjukkan rata-rata pertumbuhan belanja pada kuartal I/2026 memang mencapai 6,4%, sedikit lebih tinggi dibandingkan dorongan musiman pada kuartal I/2025 yang berada di level 6,2%.

Kendati demikian, pertumbuhan belanja pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 6,2% secara tahunan (year on year/YoY), lebih moderat apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 yang mampu menembus 7,5% YoY.

Lebih lanjut, Asmo menjelaskan tanda-tanda pelemahan daya beli juga terlihat dari pola tabungan masyarakat. Berdasarkan data Mandiri, terdapat disparitas yang cukup signifikan antara pergerakan dana masyarakat kelas bawah, menengah, dan atas.

Untuk kelas bawah atau kelompok dengan rata-rata saldo di bawah Rp1 juta mengalami penurunan tabungan yang signifikan. Indeks tabungan kelompok ini anjlok ke level 74,2 pada Maret 2026, merosot dari posisi Maret 2025 (84,4) dan Maret 2024 (97,4).

"Tapi ini [kelas bawah] selalu dibantu oleh bansos dan perlinsos. Jadi masih ada kemudian meningkat [tabungannya]," ungkapnya.

Untuk kelas menengah alias kelompok dengan saldo Rp1 juta hingga Rp10 juta menunjukkan pergerakan indeks tabungan yang relatif stagnan dari 101,4 pada Maret 2024 menjadi 101,8 pada Maret 2026.

Sementara untuk kelas atas atau kelompok dengan saldo di atas Rp10 juta mencatatkan penurunan indeks tabungan ke level 89,5. Hanya saja, Asmo menegaskan penurunan ini bukan disebabkan oleh tergerusnya daya beli.

“Turun bukan berarti tidak punya uang, tapi menempatkan pada portofolio investasi yang lebih agresif. Ada potensi investasi ini semakin meningkat karena adanya penurunan suku bunga di perbankan,” jelasnya.

Fenomena tekanan pada tabungan kelas bawah dan akumulasi kekayaan pada kelas atas ini turut terkonfirmasi secara solid oleh data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Asmo menyoroti bahwa pada tiering simpanan di bawah Rp100 juta, rata-rata saldo masyarakat saat ini hanya tersisa sekitar Rp1,64 juta hingga Rp1,7 juta.

Angka ini merosot jauh dibandingkan dengan rata-rata saldo pada periode 2013 yang masih berada di kisaran Rp4 juta. Sebaliknya, nasabah tajir dengan tiering simpanan tertinggi terus menumpuk kekayaannya.

"Kalau kita ambil tiering yang paling atas, di atas Rp5 miliar, itu rata-rata saldonya di atas Rp30 miliar," ungkap Asmo

#normalisasi-konsumsi #pelemahan-belanja #pasca-lebaran #ekonomi-indonesia #mandiri-spending-index #daya-beli-masyarakat #tren-konsumsi #siklus-ramadan #siklus-nataru #pertumbuhan-belanja #tabungan-mas

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260409/9/1965151/efek-normalisasi-ekonom-mandiri-wanti-wanti-pelemahan-belanja-pasca-lebaran