Industri Petrokimia RI Berburu Pasokan Bahan Baku dari Asia Timur hingga Afrika

Industri Petrokimia RI Berburu Pasokan Bahan Baku dari Asia Timur hingga Afrika

Industri petrokimia Indonesia mencari pasokan bahan baku dari Asia Timur, Afrika, dan Amerika untuk mengurangi ketergantungan impor dari Timur Tengah akibat krisis bahan baku.

(Bisnis.Com) 31/03/26 17:51 177834

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkap produsen petrokimia dalam negeri mulai mendapatkan titik terang pasokan bahan baku dari Asia Timur, Afrika, hingga Amerika untuk mengganti ketergantungan impor dari Timur Tengah.

Sekjen Inaplas Fajar Budiono mengatakan saat ini kondisi pabrikan berada dalam mode bertahan sambil mencari alternatif pasokan. Meski demikian, kondisi force majeure atau keadaan kahar masih terjadi di sejumlah pabrik akibat krisis bahan baku.

“Memang minggu pertama [sejak perang] itu kita agak kaget. Minggu kedua sudah ada yang mengeluarkan force major dan harga juga berubah dengan cepat,” kata Fajar saat dihubungi Bisnis, Selasa (31/3/2026).

Memasuki minggu ketiga sejak konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memanas, pelaku usaha global mulai mencari sumber alternatif bahan baku di luar kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, tantangan masih cukup besar lantaran jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz masih tertutup, sehingga menghambat kelancaran pasokan global.

“Minggu keempat ini kelihatan kita mulai ada titik terang, sehingga dari tetap masih force major, cuman kita force major-nya sudah mulai ke posisi survival mode,” jelasnya.

Di sisi lain, sejumlah fasilitas kilang juga dilaporkan mengalami serangan dan membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Kondisi ini membuat waktu pengiriman bahan baku dari sumber alternatif melonjak hingga 50 hari, jauh dari kondisi normal yang hanya 10–15 hari.

Pelaku industri juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya pengiriman serta ketidakpastian volume pasokan di pasar global. Fajar menyebut, saat ini banyak negara lebih memprioritaskan kebutuhan domestik masing-masing.

“Sehingga kemungkinan untuk mencari alternatif bahan baku yang di luar, yang sekarang agak terbatas,” ujarnya.

Meski begitu, Fajar menilai pasokan feedstock berbasis minyak dan gas mulai menunjukkan perbaikan. Kondisi ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi industri untuk beradaptasi dengan model bisnis baru di tengah tekanan global.

“Tapi kalau feedstock, yang dari minyak dan segala macam, minyak gas itu sudah mulai ada titik terangnya, mudah-mudahan survival mode ini bisa tercipta kondisi atau tantangan baru modeling bisnis di industri petrokimia,” tuturnya.

Dari sisi operasional, pelaku industri saat ini lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pelanggan, meskipun volume bahan baku masih terbatas dan waktu distribusi menjadi lebih panjang.

“Mungkin dari sisi waktu agak lama, yang penting kita berusaha untuk pelanggan itu bisa mendapatkan dulu barang sesuai dengan kebutuhan, meskipun baku tidak banyak tapi ada dulu,” katanya.

Sementara itu, dari sisi pengguna atau konsumen, industri didorong untuk mulai melakukan berbagai inovasi guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku primer yang terbatas.

Fajar menyebut salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan penggunaan material daur ulang untuk menekan kebutuhan bahan baku baru.

“Kita berharap untuk mereka juga melakukan inovasi, yang pertama juga mulai meningkatkan penggunaan recycle material, sehingga mengurangi kebutuhan versi material yang selama ini jumlahnya terbatas,” jelasnya.

Selain itu, pelaku industri juga didorong untuk mencari substitusi bahan alternatif serta melakukan efisiensi desain produk, seperti mengurangi ukuran atau berat tanpa mengurangi fungsi.

“Kemudian yang kedua juga melakukan inovasi bagaimana untuk substitusi bahan-bahan yang lain. Kemudian yang ketiga juga inovasi terhadap ukuran atau berat dari produk yang selama ini digunakan, tanpa mengurangi fungsi,” ujarnya.

Dalam beberapa pekan ke depan, Fajar memperkirakan pola pasokan dan permintaan mulai terlihat lebih jelas, terutama setelah pasokan alternatif mulai tiba meskipun dengan waktu tempuh yang lebih lama.

“Hal-hal yang bisa dikontrol hanya itu, sehingga nanti, kita mudah-mudahan nanti 2–3 minggu ini sudah mulai kelihatan, nanti kalau sudah alternatif list itu bisa datang di 50 hari dari sekarang,” tuturnya.

Dia menambahkan, kondisi pasar diperkirakan masih akan bergejolak dalam jangka waktu yang cukup panjang. Namun, pelaku industri berharap fluktuasi yang terjadi dapat lebih terkendali.

“Jadi artinya kalau gelombang ini kan lokuasinya ada di puncaknya sekali, nanti masih panjang, tetapi kita berusaha untuk bagaimana gelombang ini tidak fluktuasinya terlalu cepat, tetapi landai,” terangnya.

Di tengah kondisi tersebut, Fajar menegaskan bahwa fokus utama industri saat ini bukan pada lonjakan harga, melainkan pada ketersediaan barang di pasar.

“Kita tidak bicara harga naik. Yang penting ada barang dulu. Yang penting harga itu terjangkau oleh user saja. Jadi kita tidak bicara angka, tapi kita bicara harga terjangkau dan barang ada,” jelasnya.

Ia pun memastikan bahwa pasokan dalam negeri sejauh ini masih dalam kondisi aman, sembari mengimbau pelaku industri dan masyarakat untuk tidak melakukan panic buying.

“Iya [dari segi pasokan]. Tapi kalau dalam negeri masih aman lah, yang penting jangan panik dan gunakan atau seperlunya aja dulu,” pungkasnya.

#petrokimia-indonesia #pasokan-bahan-baku-petrokimia #asia-timur #afrika #industri-olefin #aromatik-plastik #ketergantungan-impor #force-majeure #krisis-bahan-baku #distribusi-global #feedstock-minyak

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260331/257/1963353/industri-petrokimia-ri-berburu-pasokan-bahan-baku-dari-asia-timur-hingga-afrika