IEA Ungkap Dua Hal Penting Untuk Masa Depan Asia Tenggara
IEA merekomendasikan Asean Grid dan pemanfaatan mineral kritis untuk menghadapi lonjakan permintaan listrik di Asia Tenggara, didorong oleh AI, AC, dan EV.
(Bisnis.Com) 27/10/25 21:35 17732
Bisnis.com, SINGAPURA – International Energy Agency (IEA) menekankan dua rekomendasi krusial bagi masa depan energi Asia Tenggara, yaitu pengembangan jaringan listrik regional (Asean Power Grid) dan pemanfaatan kekayaan mineral kritis.
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, dalam paparan di Singapore International Energy Week (SIEW), Senin (27/10/2025). Birol menjelaskan bahwa dunia saat ini telah memasuki "era kelistrikan" yang ditandai dengan lonjakan permintaan listrik secara global, tidak hanya di ekonomi berkembang tetapi juga di negara maju.
"Pertumbuhan ini didorong oleh tiga hal baru: kecerdasan artifisial (AI), meningkatnya pendingin ruangan (AC), dan kendaraan listrik (EV). Tidak ada AI tanpa listrik. Sebuah data center ukuran menengah mengonsumsi listrik setara kota dengan 100.000 rumah tangga," ujarnya.
Fenomena meningkatnya permintaan pendingin ruangan, lanjutnya, menjadi pendorong utama konsumsi listrik seiring dengan meningkatnya suhu dan pendapatan.
Kepemilikan AC di Asia Tenggara yang saat ini masih sekitar 20% diperkirakan akan terus meningkat. Di sisi lain, penetrasi pasar EV di kawasan ini sudah mencapai 20% dari total penjualan mobil baru.
Menghadapi gelombang permintaan listrik ini, Birol memberikan dua rekomendasi strategis untuk Asia Tenggara. Pertama, pembangunan dan interkoneksi jaringan listrik (grid) di kawasan yang disebutnya sebagai peluang ekonomi yang sangat besar.
"Membangun jaringan listrik di seluruh kawasan adalah peluang ekonomi yang luar biasa. Ini masuk akal secara ekonomi, strategis, dan lingkungan," tegas Birol.
Ia menekankan bahwa grid yang terinterkoneksi dapat mempercepat integrasi energi terbarukan dan bahkan memfasilitasi masuknya tenaga nuklir ke dalam sistem energi regional. Pembangunan grid ini, menurutnya, adalah hal yang absolut kritis untuk kesuksesan transisi energi.
Kedua, kawasan ini harus mengembangkan sumber daya mineral critical-nya yang melimpah.
"Mineral critikal esensial tidak hanya untuk sektor energi tetapi juga untuk industri, transportasi, dan pertahanan," katanya.
Birol menyoroti kelimpahan nikel, unsur tanah jarang, kobalt, dan kapasitas penyulingan di Asia Tenggara. Memperkuat kapasitas penambangan dan penyulingan di kawasan ini merepresentasikan peluang besar bagi ketahanan energi dan ekonomi, baik untuk kawasan maupun dunia.
Potensi Besar
Birol juga mengungkap alasan IEA membuka kantor regionalnya di Singapura. Menurut data IEA, Asia Tenggara menyumbang 25% dari permintaan energi global, hanya kedua setelah India.
Dalam hal kapasitas pembangkit listrik, dalam sepuluh tahun ke depan Asia Tenggara akan menambah 300 gigawatt — setara dengan membangun kapasitas listrik Jepang dalam satu dekade.
"Di energi, seperti dalam ekonomi, satu aturan emas berlaku: diversifikasi itu baik; konsentrasi itu buruk. Potensi besar Asia Tenggara dalam energi terbarukan, energi nuklir, dan mineral critikal memberikannya peran vital dalam membentuk masa depan energi global yang berkelanjutan dan aman," pungkas Birol.
#asia-tenggara-energi #asean-power-grid #mineral-kritis #permintaan-listrik-global #kecerdasan-artifisial-listrik #pendingin-ruangan-asia #kendaraan-listrik-asia #jaringan-listrik-regional #energi-terb