Saudara Kepo Nanya Kapan Nikah Saat Lebaran, Ini Kata Psikolog
Pertanyaan "kapan nikah?" saat Lebaran sering muncul karena norma sosial dan budaya Indonesia yang mengaitkan kehidupan pribadi dengan harapan keluarga besar.
(Bisnis.Com) 20/03/26 20:58 169956
Bisnis.com, JAKARTA - Ketika Lebaran, pertanyaan “kapan nikah” atau "kapan punya anak" kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Pertanyaan ini seolah menjadi template tahunan yang terus berulang.
Selain hidangan khas dan tradisi saling bermaafan, pertanyaan-pertanyaan yang bersifat personal tersebut seolah jadi ritual baru yang hampir muncul tiap tahunnya. Bagi sebagian orang, ini terdengar ringan dan akrab, tetapi bagi yang ditanya, pertanyaan tersebut bisa terasa sensitif dan mengusik ruang pribadi.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar basa-basi tanpa makna. Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa pertanyaan seperti “kapan nikah?” atau “kapan punya anak?” kerap muncul dalam percakapan keluarga saat Hari Raya karena dipengaruhi berbagai faktor psikologis dan sosial yang telah mengakar dalam budaya masyarakat di Indonesia.
Dari perspektif psikologi sosial dan budaya, kebiasaan tersebut berkaitan dengan norma yang berkembang di masyarakat. Ada ekspektasi tentang tahapan hidup yang dianggap ideal, mulai dari menyelesaikan pendidikan, bekerja, menikah, hingga memiliki anak. Norma ini kemudian membentuk harapan sosial, yakni pandangan kolektif mengenai bagaimana seseorang seharusnya menjalani kehidupannya..
"Dalam kajian tentang norma sosial, individu cenderung mengingatkan atau menanyakan hal-hal yang dianggap sebagai standar sosial dalam kelompoknya. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai pernikahan atau anak sering muncul sebagai bentuk penguatan norma yang dianggap umum dalam masyarakat," katanya.
Kemudian, Kasandra menyebut dalam konteks budaya kolektivistik seperti di Indonesia, kehidupan pribadi kerap dipandang sebagai bagian dari kepentingan keluarga besar. Dalam konteks ini, identitas individu sangat erat terkait dengan keluarga dan komunitasnya.
Oleh karena itu, katanya, keputusan seperti menikah dan memiliki anak bukan semata dianggap sebagai pilihan pribadi, melainkan juga bagian dari harapan dan keinginan keluarga.
"Masyarakat juga memiliki “social timetable” atau jadwal sosial mengenai kapan seseorang harus mencapai tahap-tahap tertentu dalam hidup. Neugarten, Moore, dan Lowe (1965) menjelaskan bahwa masyarakat memiliki harapan tentang waktu yang dianggap tepat untuk peristiwa hidup seperti menikah atau memiliki anak. Ketika seseorang belum mencapai tahap tersebut, lingkungan sosial sering kali menanyakannya karena dianggap berada di luar jadwal sosial yang umum," imbuhnya.
Di luar itu, Kasandra memandang pertanyaan tersebut sebenarnya juga dapat dilihat secara sederhana, yakni sebagai bentuk komunikasi sosial atau obrolan ringan dalam interaksi keluarga. Dalam kajian komunikasi interpersonal, orang memang cenderung menggunakan topik yang umum dan relevan dengan tahap kehidupan seseorang untuk memulai atau menjaga percakapan.
Namun, tak dapat dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap menimbulkan rasa tidak nyaman. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan generasi. Generasi yang lebih tua umumnya tumbuh dalam kondisi sosial dan ekonomi yang mendorong pernikahan di usia lebih muda, sehingga memiliki pandangan berbeda terhadap waktu yang dianggap ideal untuk menikah.
Namun, kondisi generasi muda saat ini cenderung menunda pernikahan dengan mempertimbangkan pendidikan, karier, serta kesiapan psikologis. Fenomena ini dikenal sebagai Emerging Adulthood, yaitu fase kehidupan pada usia 18–29 tahun ketika individu lebih fokus mengeksplorasi identitas, karier, dan relasi sebelum mengambil komitmen jangka panjang seperti pernikahan.
#kapan-nikah #kapan-punya-anak #pertanyaan-lebaran #psikolog-lebaran #norma-sosial #budaya-indonesia #ekspektasi-hidup #harapan-sosial #identitas-keluarga #social-timetable #komunikasi-sosial #obrolan