Prabowo Ungkap Alasan Ngotot Fokus Ketahanan Pangan dan Energi RI
Presiden Prabowo menekankan pentingnya ketahanan pangan-energi berdasarkan akal sehat, bukan ideologi, untuk menghadapi realitas global dan kedaulatan bangsa.
(Bisnis.Com) 20/03/26 13:30 169703
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa fokus pemerintah pada ketahanan pangan dan energi bukan didorong oleh ideologi tertentu, melainkan berdasarkan “akal sehat” dan realitas global.
Hal itu disampaikan dalam sesi tanya jawab bersama jurnalis senior dan pakar di kediamannya di Hambalang, Bogor, yang ditayangkan Kamis (19/3/2026).
“Saya kira mazhabnya mazhab akal sehat, common sense and reality,” ujar Prabowo.
Menurutnya, kebutuhan dasar manusia seperti pangan merupakan fondasi utama dalam kehidupan bernegara dan peradaban. Dia merujuk pada teori kebutuhan dasar dalam psikologi serta pengalaman sejarah umat manusia.
“Pangan itu kebutuhan paling dasar. Tanpa itu, tidak ada peradaban,” katanya.
Prabowo menjelaskan bahwa dari pembacaan sejarah, konflik antar manusia kerap bermula dari perebutan sumber daya, terutama pangan, air, dan lahan subur.
“Perang awalnya rebutan sumber makanan, sumber air, dan wilayah yang subur. Itu common denominator dalam sejarah,” ujarnya.
Dia juga menyinggung pandangan Soekarno yang sejak awal kemerdekaan menempatkan sektor pangan dan pertanian sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
“Bung Karno selalu mengatakan, the hungry stomach cannot wait,” kata Prabowo.
Kritik Ketergantungan pada Globalisasi
Presiden Ke-8 RI itu pun mengkritik pandangan yang terlalu mengandalkan globalisasi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Menurutnya, ketergantungan pada impor tidak selalu bisa diandalkan, terutama di tengah konflik global.
Dia mencontohkan dampak perang Rusia–Ukraina terhadap lonjakan harga pangan dunia, mengingat kedua negara merupakan produsen utama gandum.
“Sekarang dunia semakin kecil, semua saling terhubung. Konflik di satu tempat berdampak ke seluruh dunia,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan apakah kebijakan tersebut didorong oleh prediksi perang, Prabowo menyatakan bahwa konflik merupakan bagian dari sejarah panjang umat manusia.
“Sedih memang, tapi sifat manusia cenderung ingin mendominasi. Itu yang sering memicu perang,” katanya.
Dia menegaskan bahwa perang bersifat destruktif dan harus dihindari, namun negara tetap harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dalam konteks ini, Prabowo merujuk pada pemikiran Thucydides yang menyatakan bahwa “yang kuat akan melakukan apa yang mereka bisa, dan yang lemah akan menderita apa yang harus mereka derita.”
Dia juga mengutip prinsip klasik dari Vegetius, “Si vis pacem, para bellum” — jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.
“Kalau kita tidak siap, kita bisa dihabisi. Itu pelajaran sejarah,” tegasnya.
Contoh Kesiapan Negara di Tengah Sanksi
Sebagai ilustrasi, Prabowo menyinggung kesiapan Iran dalam menghadapi tekanan internasional selama puluhan tahun, termasuk sanksi ekonomi yang panjang.
Menurutnya, kesiapan tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam menghadapi kemungkinan konflik.
Prabowo menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi merupakan bagian dari strategi besar menjaga kedaulatan dan keberlangsungan bangsa.
“Kalau kita ingin benar-benar merdeka, kita harus jamin sumber pangan kita,” tandas Prabowo.
#prabowo-ketahanan-pangan #ketahanan-energi #akal-sehat #realitas-global #kebutuhan-dasar-manusia #pangan-fondasi-peradaban #konflik-sumber-daya #sejarah-pangan #ketergantungan-impor #globalisasi-panga