Satu tahun Danantara: Menakar langkah, menata masa depan
Negara besar tidak semata-mata ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan alam. Faktor penentu yang lebih mendalam adalah kemampuan ...
(Antara) 13/03/26 11:56 164011
Satu tahun cukup untuk menilai arah: apakah Danantara bergerak menuju tujuan strategis, atau kehilangan momentum.
Jakarta (ANTARA) - Negara besar tidak semata-mata ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan alam. Faktor penentu yang lebih mendalam adalah kemampuan mengelola sumber daya secara cerdas dan berkelanjutan.
Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa cadangan sumber daya melimpah tidak otomatis menjamin kemakmuran. Banyak negara kaya sumber daya justru terjebak stagnasi, sementara negara dengan keterbatasan alam mampu menjelma menjadi kekuatan global berkat tata kelola ekonomi yang efektif.
Pada titik inilah Indonesia berada di antara dua kemungkinan tersebut, menjadi negara yang berhasil membangun sistem dan tata kelola ekonomi yang kuat, atau justru menjadi negara yang gagal mengelola potensi dan kekayaannya sendiri.
Dengan populasi lebih dari 275 juta jiwa dan ekonomi yang kini bernilai lebih dari 1,4 triliun dolar AS, Indonesia sering disebut sebagai salah satu kekuatan ekonomi masa depan. Berbagai lembaga internasional bahkan memproyeksikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia pada pertengahan abad ini. Namun, potensi bisa menjadi peluang sekaligus ilusi jika tidak dikelola dengan tepat.
Dalam konteks inilah pembentukan Danantara menjadi menarik untuk dicermati. Setahun setelah lembaga ini hadir, refleksi terhadap perannya menjadi penting, bukan hanya untuk menilai kinerja jangka pendek, tetapi untuk melihat apakah Indonesia sedang membangun fondasi institusi ekonomi yang cukup kuat untuk mengelola masa depannya sendiri.
Pertumbuhan Tanpa Transformasi?
Selama dua dekade terakhir, Indonesia sering dipuji sebagai salah satu kisah sukses stabilitas ekonomi di negara berkembang. Pertumbuhan rata-rata 5 persen per tahun, inflasi terkendali sekitar 3 persen, serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah dianggap sebagai fondasi penting. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah stabilitas ini cukup untuk membawa Indonesia naik kelas?
Banyak ekonom berpendapat bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar mempertahankan pertumbuhan, melainkan melakukan transformasi ekonomi.
Struktur ekonomi masih bergantung pada komoditas dan konsumsi domestik. Kontribusi manufaktur stagnan di kisaran 19 persen PDB selama dua dekade. Ketimpangan distribusi manfaat pertumbuhan juga nyata. Rasio Gini memang turun dari 0,41 pada 2011 menjadi 0,38 pada 2023, tetapi kesenjangan akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan infrastruktur tetap besar. Artinya, pertumbuhan belum sepenuhnya inklusif.
Untuk mempercepat transformasi, kebutuhan investasi Indonesia sangat besar. World Bank memperkirakan rasio investasi ideal 35–40 persen dari PDB, sementara saat ini baru 30–32 persen. McKinsey Global Institute bahkan menghitung tambahan investasi hingga 600 miliar dolar AS diperlukan dalam dua dekade ke depan, terutama di sektor infrastruktur, energi, manufaktur bernilai tambah, dan ekonomi digital.
APBN jelas memiliki keterbatasan. Belanja negara sebagian besar terserap untuk belanja rutin dan program sosial. Karena itu, Indonesia membutuhkan instrumen tambahan untuk mengelola sumber daya ekonomi secara lebih produktif.
Mengoptimalkan Aset Negara
Indonesia sebenarnya memiliki potensi aset ekonomi besar melalui BUMN, dengan total nilai aset diperkirakan lebih dari Rp10.000 triliun yang mencakup berbagai sektor strategis dari energi, perbankan, hingga infrastruktur.
Jika dikelola secara profesional, aset ini dapat menjadi motor pembangunan. Namun pengelolaan skala besar menuntut tata kelola yang kuat, strategi investasi jangka panjang, dan kemampuan membaca dinamika global.
Di sinilah gagasan mengenai penguatan lembaga pengelola investasi negara menjadi relevan.
Banyak negara telah membuktikan efektivitas lembaga pengelola investasi negara. Singapura, melalui Temasek dan GIC, berhasil memperkuat struktur ekonominya meski sumber daya alam terbatas. Norwegia mengelola dana kekayaan negara hingga lebih dari satu triliun dolar AS, menjadikannya sovereign wealth fund terbesar di dunia. Pelajaran penting dari mereka: keberhasilan bukan sekadar soal besarnya aset, melainkan kualitas institusi yang mengelola.
Tanpa keberadaan lembaga dan institusi pengelolaan ekonomi yang kuat, kekayaan negara hanya akan menjadi angka dalam laporan keuangan. Oleh sebab itu kehadiran Danantara yang telah berjalan selama 1 tahun terakhir menjadi harapan tentang keberadaan lembaga dan institusi yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional secara jangka panjang.
Tahun Pertama: Menguji Fondasi
Satu tahun perjalanan Danantara harus dilihat sebagai fase awal. Sejarah menunjukkan bahwa membangun institusi ekonomi kuat membutuhkan waktu panjang. Temasek dan GIC di Singapura, maupun sovereign wealth fund Norwegia, memerlukan puluhan tahun untuk mencapai reputasi global. Karena itu, evaluasi terhadap Danantara tidak bisa hanya berfokus pada hasil investasi jangka pendek, melainkan pada kualitas fondasi tata kelola yang sedang dibangun.
Pada fase awal, struktur organisasi dirancang, strategi investasi disusun, dan mekanisme tata kelola diuji. Hasilnya mungkin belum terlihat dalam angka pertumbuhan, tetapi justru di sinilah masa depan ditentukan. Institusi kuat lahir dari disiplin, konsistensi, dan kalkulasi jangka panjang. Satu tahun cukup untuk menilai arah: apakah Danantara bergerak menuju tujuan strategis, atau kehilangan momentum.
Danantara lahir dari gagasan besar: negara tidak cukup hanya mengatur perekonomian, tetapi juga harus mampu mengelola kekayaan secara strategis. Lembaga ini diproyeksikan bukan sekadar sebagai pengelola investasi, melainkan instrumen untuk memperkuat kapasitas negara dalam pembangunan jangka panjang.
Refleksi setelah satu tahun menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan kemakmuran yang lebih luas dan berkelanjutan. Pertanyaan mendasar tetap sama: apakah fondasi kelembagaan yang sedang dibangun cukup kuat untuk menjawab tantangan struktural ekonomi Indonesia?
Menata Masa Depan
Setahun perjalanan Danantara tentu belum cukup untuk memberikan dampak ekonomi yang besar. Namun satu tahun cukup untuk membangun fondasi dan menentukan arah.
Ke depan, tantangan yang dihadapi tidak akan semakin ringan. Ekonomi global sedang mengalami perubahan besar, mulai dari transformasi teknologi hingga dinamika geopolitik yang mempengaruhi arus investasi internasional.
Dalam situasi seperti ini, negara membutuhkan keberadaan lembaga yang mampu mengelola aset dan investasi secara kuat, bahkan tidak hanya secara finansial, tetapi juga struktural yang dapat beradaptasi terhadap berbagai perubahan situasi dan kondisi ekonomi secara global.
Keberadaan Danantara memiliki peluang untuk memainkan peran besar tersebut. Namun peluang itu hanya dapat diwujudkan melalui konsistensi kebijakan, profesionalisme kelembagaan, serta komitmen terhadap prinsip tata kelola yang baik.
Pengelolaan kekayaan negara bukan hanya tentang nilai aset yang dimiliki hari ini. Namun tentang bagaimana kekayaan tersebut dikelola secara profesional untuk membangun dan menciptakan masa depan ekonomi nasional yang lebih baik untuk generasi-generasi mendatang.
Karena itu, satu tahun perjalanan Danantara harus dilihat sebagai awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Sebuah momentum untuk menakar langkah yang telah ditempuh sekaligus menata masa depan yang ingin dibangun menuju Indonesia emas 2045.
Sejarah menunjukkan bahwa potensi bukanlah sebuah jaminan. Namun juga membutuhkan langkah dan kebijakan strategis yang tepat sasaran, keberadaan lembaga dan institusi yang kuat khususnya dalam hal pengelolaan aset dan investasi menjadi salah satu faktor yang penting untuk melihat bagaimana kemampuan sebuah negara untuk mengelola sumber daya secara strategis.
Jika fondasi itu dibangun dengan cukup kuat berlandaskan tata kelola yang transparan, profesionalisme yang konsisten, dan visi jangka panjang maka lembaga ini dapat menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan pembangunan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Danantara bukanlah semata tentang kinerja sebuah lembaga investasi. Ia adalah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah Indonesia mampu membangun institusi ekonomi yang cukup kuat untuk mengelola masa depannya sendiri.
Satu tahun mungkin belum cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Namun satu tahun cukup untuk mulai menakar langkah dan menata arah masa depan yang ingin kita bangun bersama.
Seperti banyak lembaga besar di dunia lainnya, keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh satu tahun perjalanan, tetapi juga dari seberapa konsistennya sebuah lembaga berjalan dengan tata kelola yang profesional dan kuat secara struktural. Keberanian untuk membangun sebuah lembaga investasi yang kuat melalui kehadiran Danantara menjadi faktor yang menentukan dalam pembangunan ekonomi nasional untuk masa-masa yang mendatang.
*) Tommy Darmadi, Ketua Bidang BUMA PP GP Ansor
Copyright © ANTARA 2026
#danantara #pengelolaan-sumber-daya #aset-negara #transformasi
https://www.antaranews.com/berita/5472238/satu-tahun-danantara-menakar-langkah-menata-masa-depan