Indonesia Buka 99 Persen Tarif Barang AS, Ekonom: Strategi Jaga Akses Ekspor
Indonesia buka 99% tarif barang AS! Dosen UNAIR Unggul Heriqbaldi menyoroti ART sebagai strategi jaga akses ekspor, meski ada tantangan kompetisi domestik.
(Kompas.com) 10/03/26 20:42 160951
SURABAYA, KOMPAS.com - Indonesia resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan membuka sekitar 99 persen tarif barang asal Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga akses pasar ekspor Indonesia, meski dinilai belum sepenuhnya mencerminkan hubungan dagang yang setara.
Dosen Ekonomi Internasional Universitas Airlangga, Unggul Heriqbaldi, menjelaskan bahwa dalam perspektif ekonomi internasional, kesepakatan perdagangan tidak selalu bersifat simetris karena sangat dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi serta posisi tawar masing-masing negara.
Menurut dia, Amerika Serikat memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat mengingat ukuran ekonominya yang besar serta status pasar domestiknya sebagai tujuan utama ekspor banyak negara berkembang.
“ART dapat dipahami sebagai strategi Indonesia menjaga akses pasar ekspor, terutama sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang sangat bergantung pada pasar AS,” jelas Unggul, Selasa (10/3/2026).
Unggul menekankan, dalam praktik perdagangan internasional, prinsip resiprositas tidak selalu berarti kesetaraan tarif secara identik.
Jika Indonesia membuka lebih dari 99 persen tarif produk AS, sementara produk Indonesia masih dikenakan tarif hingga 19 persen di pasar AS, maka secara teknis hubungan tersebut belum sepenuhnya simetris.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus utama Indonesia dalam negosiasi kemungkinan besar adalah menjaga stabilitas akses ekspor, bukan menuntut kesetaraan tarif secara langsung.
“Namun tentu saja, pemerintah perlu memastikan bahwa konsesi tersebut diimbangi dengan keuntungan strategis jangka panjang, seperti transfer teknologi, investasi, atau integrasi rantai pasok global,” terangnya.
Dampak ke Industri Domestik
Ia menilai perjanjian ini berpotensi meningkatkan persaingan di pasar dalam negeri. Industri dengan biaya produksi tinggi serta teknologi yang tertinggal akan menghadapi tekanan lebih besar akibat masuknya produk impor.
Sebaliknya, sektor yang membutuhkan bahan baku atau teknologi dari AS justru berpotensi memperoleh keuntungan melalui penurunan biaya produksi.
Unggul menyebut sektor yang relatif rentan umumnya merupakan industri berorientasi pasar domestik dengan produktivitas rendah, seperti pertanian, makanan olahan, serta manufaktur ringan.
“Sementara sektor yang berpotensi diuntungkan adalah industri yang terintegrasi dalam global value chain seperti tekstil, elektronik, serta industri kimia dan farmasi,” imbuhnya.
Peluang Ekspor dan Risiko Pasar Konsumtif
Ia menjelaskan potensi lonjakan impor masih dapat diimbangi oleh peningkatan ekspor Indonesia. Peluang tarif nol dinilai menjadi momentum strategis, terutama bagi industri tekstil mengingat AS merupakan salah satu pasar terbesar produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.
“Jika hanya membuka pasar tanpa strategi industrial yang jelas, maka Indonesia berisiko menjadi pasar konsumsi bagi produk asing.”
“Namun, jika disertai kebijakan peningkatan produktivitas industri, investasi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik, maka perjanjian seperti ini justru bisa menjadi pintu masuk integrasi Indonesia dalam global value chain,” jelasnya.
Unggul menambahkan sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah, antara lain:
- Memperkuat industri domestik melalui peningkatan produktivitas dan adopsi teknologi
- Mendorong investasi manufaktur berorientasi ekspor
- Mengembangkan industri hulu
- Meningkatkan kualitas sumber daya manusia industri
- Memanfaatkan perjanjian dagang untuk mendorong transfer teknologi dan investasi
“Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain penting dalam rantai produksi global,” pungkasnya.
#ekonomi-internasional #rantai-pasok-global #agreement-on-reciprocal-tariff #akses-pasar-ekspor