Harga Ayam-Telur Turun di Hulu, Pemerintah Bidik Efisiensi Rantai Distribusi
Harga ayam dan telur turun di produsen, namun belum di konsumen. Pemerintah fokus efisiensi distribusi untuk menekan harga di pasar.
(Bisnis.Com) 09/03/26 13:38 159094
Bisnis.com, JAKARTA — Harga ayam dan telur mulai melandai di tingkat produsen pada pekan pertama Maret 2026. Namun, penurunan tersebut belum terjadi di tingkat konsumen sehingga pemerintah kini mengalihkan fokus ke arah rantai distribusi di bawah yang diduga terlalu panjang.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun mengatakan secara rata-rata nasional harga telur ayam ras di tingkat produsen masih berada sedikit di atas harga acuan pembelian (HAP), yakni sekitar 2,20%.
Merujuk Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 (Perbadan 6/2024), HAP telur ayam ras di produsen ditetapkan di level Rp26.500 per kilogram, sedangkan di konsumen adalah Rp30.000 per kilogram.
Pada pekan pertama Maret 2026, harga telur ayam ras di tingkat produsen turun 0,64% menjadi Rp27.083 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya di level Rp27.257 per kilogram.
Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar konsumen sehingga pemerintah menilai perlu melakukan penguatan pengawasan pada rantai distribusi.
Data Kementan menunjukkan harga rata-rata telur di tingkat konsumen hanya turun sekitar 0,15% menjadi Rp32.650 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya Rp32.600 per kilogram.
“Artinya mata rantai ini betul-betul juga harus menjadi perhatian. Mestinya kan imbang, tapi ini jauh,” kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 di YouTube Kemendagri, Senin (9/3/2026).
Padahal, lanjut dia, pemerintah telah melakukan koordinasi dengan para produsen telur di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Jawa dan Sumatra untuk mendorong harga kembali mendekati HAP.
Sebelumnya, harga telur sempat terdorong naik setelah beredarnya selebaran (flyer) yang mencantumkan harga Rp27.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat harga di tingkat produsen ikut bergerak mengikuti angka tersebut.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas daging ayam ras. Menurutnya, harga di tingkat produsen sebenarnya sudah mengalami penurunan cukup signifikan.
Secara rata-rata nasional, harga ayam di tingkat produsen bahkan telah berada di bawah HAP dengan penurunan sekitar 1,87% menjadi Rp24.363 per kilogram pada pekan pertama Maret 2026. Namun di tingkat konsumen, harga rerata mingguan karkas daging ayam ras hanya turun sekitar 0,95% menjadi Rp41.550 per kilogram.
Sebagai gambaran, HAP daging ayam ras di produsen adalah Rp25.000 per kilogram dan di konsumen ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram.
“Rantai distribusi dan di posisi pasar akhir yang selalu juga, apakah ini karena rantainya yang panjang, ada yang D1, D2, sehingga harga di konsumennya belum tertekan [turun],” ujarnya.
Selain ayam dan telur, Makmun mengatakan rerata harga mingguan sapi hidup di tingkat produsen masih berada di bawah HAP. Rata-rata harga sapi hidup tercatat sekitar Rp53.510 per kilogram atau sekitar 4,45% di bawah HAP.
Namun demikian, harga di tingkat konsumen justru mengalami sedikit kenaikan dibandingkan pekan lalu meski masih berada di bawah acuan harga pemerintah. Rerata harganya berada di level Rp136.550 per kilogram.
“Di rantainya ini apakah ada kendala logistik atau memang banyak tangan, atau ada upaya mengambil keuntungan lebih di momen seperti saat ini,” ucapnya.
Kendati demikian, dia memastikan dari sisi pasokan, stok komoditas peternakan seperti ayam, telur, dan daging sapi secara nasional masih dalam kondisi aman.
Kementan juga meminta dukungan pemerintah daerah untuk membantu mengatasi kendala distribusi, terutama terkait logistik, agar pasokan dari daerah produsen dapat mengalir lancar ke wilayah konsumsi.
#harga-ayam #harga-telur #rantai-distribusi #harga-produsen #harga-konsumen #harga-acuan-pembelian #penurunan-harga #harga-ayam-ras #harga-telur-ras #harga-daging-ayam #harga-sapi-hidup #pengawasan-dis