China Dibayangi Deflasi 3 Tahun, Pemerintah Perkuat Langkah Pemulihan Harga

China Dibayangi Deflasi 3 Tahun, Pemerintah Perkuat Langkah Pemulihan Harga

China berkomitmen mengakhiri deflasi 3 tahun dengan langkah pemulihan harga, meski kebijakan masih terukur.

(Bisnis.Com) 05/03/26 15:25 156104

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah China menegaskan komitmennya untuk mengakhiri tren deflasi yang telah menekan perekonomian negara itu selama tiga tahun terakhir.

Melansir Bloomberg pada Kamis (6/3/2026), dalam laporan tahunan pemerintah yang disampaikan Perdana Menteri Li Qiang, para pemimpin China menyatakan akan mengarahkan tingkat harga secara umum kembali ke wilayah positif.

Pernyataan tersebut jauh lebih tegas dibandingkan komitmen tahun lalu yang hanya menargetkan agar tingkat harga secara umum tetap berada dalam kisaran yang wajar.

Harga-harga di seluruh perekonomian China, yang diukur melalui deflator produk domestik bruto (PDB), terus mengalami penurunan sejak awal 2023. Kondisi ini menjadi periode deflasi terpanjang sejak negara itu mulai bertransisi menuju ekonomi pasar pada akhir 1970-an.

Selain Jepang yang dikenal dengan periode stagnasi panjang atau lost decades, hanya sedikit ekonomi besar yang mengalami deflasi berkepanjangan dan melemahkan seperti itu sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Meski retorika kebijakan semakin menguat, langkah yang diambil pemerintah sejauh ini masih bersifat terarah dan terukur. Sejak Juli lalu, Beijing berupaya menekan persaingan berlebihan di sejumlah industri, sekaligus memastikan perlindungan terhadap lapangan kerja.

Di sisi lain, meskipun pemerintah berulang kali berjanji akan mendorong permintaan konsumsi, kebijakan yang ditempuh masih bersifat bertahap dan terbatas.

Laporan kerja tahunan terbaru juga merinci rencana stimulus fiskal yang mengindikasikan nilainya akan relatif setara dengan tahun lalu, sementara pendanaan subsidi barang konsumsi sedikit dikurangi.

Sejumlah ekonom memperkirakan harga konsumen dan produsen di China akan mulai pulih pada tahun ini. Perubahan arah tersebut terutama didorong oleh reli harga komoditas global.

Konflik antara Presiden AS Donald Trump dan Iran juga turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, sekaligus mengancam salah satu sumber impor minyak mentah diskon yang selama ini dinikmati China.

Ekonom China di Gavekal Dragonomics He Wei mengatakan deflator PDB berpotensi kembali ke zona positif tahun ini, bahkan dalam beberapa bulan ke depan jika tren saat ini berlanjut.

Namun demikian, dia menilai faktor eksternal akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan faktor domestik terhadap pemulihan harga di China.

Kenaikan harga juga berpotensi meredakan ketegangan perdagangan global. Deflasi domestik sebelumnya turut menyebabkan depresiasi nilai tukar riil yuan sehingga membuat barang-barang China lebih kompetitif di pasar internasional.

Data resmi menunjukkan harga ekspor China telah turun selama tiga tahun berturut-turut, dengan penurunan rata-rata lebih dari 16% sepanjang periode tersebut.

Inflasi konsumen pada tahun lalu tercatat stagnan dan menjadi yang terlemah sejak 2009. Angka tersebut sempat terdorong oleh lonjakan harga emas sepanjang tahun, dan kemungkinan masih meremehkan besarnya tekanan deflasi jika dibandingkan dengan sejumlah indikator harga alternatif.

Sementara itu, harga produsen turun untuk bulan ke-39 berturut-turut pada Desember, meskipun laju penurunannya menyempit menjadi yang terkecil dalam lebih dari satu tahun.

#china-deflasi #pemerintah-china #pemulihan-harga #deflasi-ekonomi #harga-konsumen-china #harga-produsen-china #deflator-pdb-china #ekonomi-china #kebijakan-ekonomi-china #stimulus-fiskal-china #harga

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260305/620/1958026/china-dibayangi-deflasi-3-tahun-pemerintah-perkuat-langkah-pemulihan-harga