Kredit Multifinance Sentuh Rp506,82 triliun, Tumbuh 0,78% per Januari 2026

Kredit Multifinance Sentuh Rp506,82 triliun, Tumbuh 0,78% per Januari 2026

Piutang pembiayaan multifinance mencapai Rp508,27 triliun per Januari 2026, tumbuh 0,78% (YoY). OJK proyeksikan pertumbuhan hingga 8% pada 2026.

(Bisnis.Com) 03/03/26 15:31 153422

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan di industri multifinance mencapai Rp508,27 triliun per Januari 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan nilai itu tumbuh 0,78% secara tahunan.

“Didukung oleh pembiayaan kerja yang tumbuh sebesar 10,27% year on year [YoY],” katanya dalam konferensi pers daring RDKB OJK Januari 2026, Selasa (3/3/2026).

Menilik perbandingannya secara bulanan, piutang pembiayaan naik tipis sebesar 0,35% (month to month/MtM) dari Rp506,50 triliun.

Lebih jauh, per Januari 2026 ini pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,72%, sedangkan NPF net sebesar 0,82%. Adapun, gearing ratio-nya sebesar 2,11 kali.

OJK memproyeksikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance pada 2026 tumbuh 6%—8% (YoY). Merespons hal ini, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody mengatakan outlook OJK tersebut cukup realistis, meski per akhir 2025 piutang pembiayaan multifinance hanya tumbuh tipis 0,61% (YoY).

“Saya rasa target OJK cukup realistis dan tentunya bisa terealisasi bila tingkat suku bunga bisa bertahan dan likuiditas di pasar membaik,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (10/2/2026).

Jodjana bercerita untuk 2025 dirinya pernah memprediksi piutang pembiayaan multifinance tumbuh tipis sekitar 5%—6%. Hal ini berkaca pada pasar otomotif yang tergerus hingga 7%—8% dan sudah memperhitungkan diversifikasi pembiayaan ke sektor lain.

Sebab demikian, dia menilai pertumbuhan pada 2026 juga masih berat, mengingat goncangan global yang masih tinggi dan disertai dengan ketidakpastian sektor keuangan di dalam negeri.

Menurutnya, gejolak di pasar keuangan dikhawatirkan membuat konsumen lebih hati-hati dalam membelanjakan dana untuk kebutuhan bernilai besar (big ticket items), sehingga akan turut berpengaruh ke pertumbuhan pembiayaan.

“Selain itu, [penjualan] sektor otomotif pun diperkirakan stabil seperti angka tahun lalu di 830.000—850.000 saja, sedangkan kendaraan roda dua masih sekitar 6,5 juta unit,” sebut Jodjana.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar perusahaan pembiayaan lebih teliti dalam melihat sektor dan wilayah mana yang dapat tumbuh dan berkontribusi terhadap total piutang pembiayaan.

“Misalnya tahun lalu, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi pertumbuhan konsumsinya lebih baik dari Jawa dan tahun ini kita mesti memantau apakah tren tersebut masih berlanjut. Serta, diversifikasi pembiayaan harus terus diupayakan dan tidak tergantung pada sektor otomotif semata,” tegasnya.

Meski demikian, Jodjana tidak menampik bahwa pertumbuhan industri multifinance saat ini masih didominasi oleh pengaruh pembiayaan kendaraan bermotor. Hal ini karena sifat collateral yang likuid dan sudah teruji mampu menyeimbangkan NPF.

“Sebab itu, tantangannya adalah melirik pembiayaan sektor lain, yang tentunya mesti di-testing terus menerus. Pembiayaan modal kerja dan investasi juga masih bisa ditingkatkan dan jangan terpaku pada pembiayaan multiguna saja,” pungkasnya. (Putri Astrian Surahman)

#kredit-multifinance #piutang-pembiayaan #ojk-2026 #pertumbuhan-pembiayaan #pembiayaan-kerja #non-performing-financing #gearing-ratio #suku-bunga #likuiditas-pasar #pasar-otomotif #diversifikasi-pembia

https://finansial.bisnis.com/read/20260303/89/1957362/kredit-multifinance-sentuh-rp50682-triliun-tumbuh-078-per-januari-2026