Gopan Soroti Impor 580.000 Ayam dari AS, Ancam Peternak Lokal?

Gopan Soroti Impor 580.000 Ayam dari AS, Ancam Peternak Lokal?

Impor 580.000 ayam GPS dari AS senilai US$17-20 juta dipandang penting untuk pasokan bibit, namun berpotensi mengancam peternak lokal jika produk turunan seperti karkas masuk.

(Bisnis.Com) 24/02/26 10:15 145348

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana impor 580.000 ekor grand parent stock (GPS) ayam dari Amerika Serikat (AS) senilai US$17–20 juta memicu kewaspadaan pelaku usaha perunggasan.

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) menilai impor bibit indukan tersebut merupakan praktik yang lazim. Kendati begitu, Gopan mengingatkan potensi ancaman dari masuknya produk turunan berupa karkas ayam asal AS.

Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi menyampaikan bahwa impor ayam GPS bukan hal baru dalam industri perunggasan nasional karena Indonesia belum mampu memproduksi bibit indukan tertinggi tersebut.

“GPS adalah induk yang menghasilkan PS [Parent Stock] danFinal Stock[FS]. Impor GPS memang sudah lazim karena kita Indonesia belum bisa memproduksi atau menghasilkan GPS,” kata Sugeng kepadaBisnis, dikutip Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, GPS merupakan pondasi rantai produksi ayam nasional karena akan menghasilkanparent stock(PS) hinggafinal stock(FS) yang dibudidayakan peternak sebagai ayam pedaging. Dengan demikian, impor GPS dinilai sebagai kebutuhan untuk menjaga kesinambungan pasokan bibit dalam negeri.

Namun, Sugeng menyoroti rencana AS untuk mengekspor produk turunan ayam, khususnya karkas yang bersumber dari budidaya final stock. Dia mengingatkan bahwa segmen tersebut merupakan tumpuan utama pendapatan peternak rakyat

“Yang menjadi masalah rencana AS untuk mengekspor produk turunannya, dalam hal ini karkas yang notabene bersumber pada budidaya ayam Final Stock. Sementara peternak berharap dari insentif dari budidaya Final Stock,” ujarnya.

Pelaku usaha kini menunggu kejelasan implementasi kebijakan pemerintah untuk memastikan stabilitas harga ayam nasional tetap terjaga tanpa mengorbankan keberlangsungan peternak kecil.

“Jika benar karkas ayam AS masuk ke Indonesia, berpotensi mematikan usaha peternak kecil. Oleh karenanya, kita tunggu riil implementasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah dan solusinya jika hal tersebut berpotensi mematikan usaha peternak rakyat,” terangnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Tanah Air.

Selanjutnya, dia menuturkan impor bagian ayam sepertileg quarters, breasts, legs,atauthighspada dasarnya diperbolehkan. Namun, kebijakan tersebut tetap mensyaratkan pemenuhan aspek kesehatan hewan, standar keamanan pangan, kebutuhan spesifik, serta ketentuan teknis lain yang berlaku.

Di samping itu, Indonesia juga melakukan importasimechanically deboned meat(MDM) untuk kebutuhan industri makanan domestik. Importasi ini dilakukan untuk bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120.000–150.000 ton per tahun.

“Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik,” pungkas Haryo dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (23/2/2026).

#impor-ayam #ayam-dari-as #ancaman-peternak-lokal #grand-parent-stock #gopan-ayam #karkas-ayam-as #peternak-ayam-indonesia #industri-perunggasan #produk-turunan-ayam #stabilitas-harga-ayam #kebijakan-i

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260224/12/1955249/gopan-soroti-impor-580000-ayam-dari-as-ancam-peternak-lokal