Kesepakatan Tarif RI-AS: Indonesia Diwajibkan Tingkatkan Impor Batu Bara Metalurgi dari Amerika

Kesepakatan Tarif RI-AS: Indonesia Diwajibkan Tingkatkan Impor Batu Bara Metalurgi dari Amerika

Indonesia diwajibkan mengimpor batu bara metalurgi dari AS sebagai syarat kesepakatan tarif resiprokal. Terdapat juga fasilitasi impor energi senilai $15 miliar.

(Kompas.com) 20/02/26 17:40 142385

JAKARTA, Kompas.com - Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih terungkap tidak hanya mendapat tarif resiprokal sebesar 19 persen.

Namun Indonesia diwajibkan untuk mengimpor batu bara metalurgi atau kokas dari Amerika Serikat (AS), sebagai bagian dari kesepakatan perundingan tarif resiprokal dengan AS.

Melansir dokumen perundingan tarif resiprokal dengan AS, Indonesia harus memfasilitasi dan mendorong peningkatan impor batu bara kokas dari AS.

Meskipun belum dijelaskan besaran volume ataupun nilai impor batu bara dari AS yang harus dilakukan Indonesia.

"Meningkatkan impor batu bara metalurgi AS untuk mendukung pembuatan baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, dan mengurangi ketergantungan pada impor dari pelaku manipulasi pasar di AS," sebagaimana tertulis dalam dokumen kesepakatan tarif AS-RI, Jumat (20/2/2026).

Selain itu, dalam dokumen perjanjian tersebut, Indonesia wajib mendukung dan memfasilitasi peningkatan impor berbagai komoditas energi dan industri dari Amerika Serikat, termasuk batu bara metalurgi, sebagai bagian dari pengaturan komersial impor energi senilai total 15 miliar dollar AS.

Selain itu Indonesia diminta turut meningkatkan impor teknologi batu bara canggih AS dan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, dan komersialisasi teknologi tersebut.

"Termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk penggunaan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk menghasilkan bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk bahan bakar pembangkit listrik dan proses industri lainnya," jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi produksi batu bara Indonesia di sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton.

Pemanfaatan batu bara itu terdiri dari 514 juta ton atau 65,1 persen diekspor, 254 juta ton atau 32 persen untuk pasar domestik, serta 22 juta ton atau 2,8 persen untuk stok.

Saat ini volume perdagangan batu bara dunia mencapai sekitar 1,3 miliar ton per tahun, sementara kontribusi Indonesia mencapai 514 juta ton atau setara 43 persen.

Sekadar informasi melansir laman Kementerian ESDM, batu bara metalurgi merupakan batu bara kalori tinggi yang memiliki karakteristik tertentu yang menghasilkan kokas.

Kokas diproduksi dengan jalan memanaskan batu bara metalurgi dalam oven pada kondisi reduksi tanpa udara dalam suhu sangat tinggi.

Kokas yang dihasilkan dari pemanasan batu bara bersifat porous, keras dan hanya terdiri dari konsentrasi karbon.

Kokas sendiri adalah salah satu material utama yang dibutuhkan dalam produksi baja.

Sebagian besar didorong oleh China dan India yang telah mengubah batu bara metalurgi, terutama kokas menjadi komoditas yang sangat dicari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#batu-bara-metalurgi #tarif-resiprokal #impor-as-indonesia #kesepakatan-energi

https://money.kompas.com/read/2026/02/20/174000726/kesepakatan-tarif-ri-as--indonesia-diwajibkan-tingkatkan-impor-batu-bara