Harga Minyak Global Memanas Dipicu Ultimatum Trump ke Iran

Harga Minyak Global Memanas Dipicu Ultimatum Trump ke Iran

Harga minyak global naik mendekati level tertinggi 6 bulan setelah ultimatum Trump ke Iran, memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

(Bisnis.Com) 20/02/26 13:25 142022

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia menguat dan bergerak di dekat level tertinggi enam bulan setelah Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum maksimal 15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir, memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (20/2/2026), harga minyak jenis Brent untuk pengiriman April naik 0,5% menjadi US$72,00 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret, yang akan berakhir pada Jumat, menguat 0,5% ke level US$66,78 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Brent melonjak lebih dari 6% dalam dua sesi sebelumnya dan diperdagangkan di kisaran US$72 per barel, sedangkan WTI bertahan di sekitar US$67.

Trump menyebut 10 hingga 15 hari merupakan batas maksimum bagi kelanjutan negosiasi, memicu kekhawatiran pasar atas potensi konflik dan gangguan pasokan minyak global.

AS diketahui melakukan penumpukan militer terbesar di kawasan sejak 2003, menjelang invasi Irak. Langkah ini memunculkan spekulasi bahwa Trump dapat meluncurkan kampanye militer yang lebih luas dibandingkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Sementara itu, laporan Wall Street Journal juga menyebut Gedung Putih mempertimbangkan serangan terbatas guna menekan Teheran kembali ke meja perundingan.

Kepala riset komoditas Westpac Banking Corp., Robert Rennie, menilai langkah tersebut lebih merupakan strategi peningkatan tekanan ketimbang sinyal serangan segera.

Sebagai anggota OPEC, Iran memproduksi lebih dari 3 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 3% dari total pasokan global, dengan mayoritas ekspor mengalir ke China. Namun, risiko utama bagi pasar minyak adalah potensi pemblokiran Selat Hormuz, jalur vital ekspor energi dari negara-negara Teluk Persia, oleh Iran.

Secara year-to-date, harga minyak telah melonjak sekitar seperenam seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan tersebut, menggeser kekhawatiran sebelumnya terkait potensi surplus pasokan yang sempat menekan harga pada akhir 2025.

Konflik berkepanjangan dengan Iran berpotensi mendorong harga lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga bahan bakar di AS dan menjadi isu sensitif menjelang pemilu paruh waktu tahun ini.

Sementara itu, kepala badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa peluang diplomasi Iran terkait aktivitas nuklirnya kian menyempit. Lembaga tersebut tengah membahas proposal konkret dengan Teheran untuk melakukan inspeksi atas lokasi yang dibombardir tahun lalu.

Dari sisi struktur pasar, spread Brent untuk kontrak satu tahun melebar ke posisi backwardation terdalam sejak Juni, mengindikasikan pengetatan pasokan jangka pendek. Selisih enam bulan juga semakin dalam ke zona backwardation.

Selain itu, struktur opsi untuk Brent dan WTI menunjukkan bias bullish yang lebih kuat, mencerminkan ekspektasi kenaikan harga lebih lanjut.

Sentimen positif turut diperkuat data dari Energy Information Administration yang menunjukkan stok minyak mentah AS turun 9 juta barel—penurunan terbesar sejak awal September. Persediaan produk minyak olahan juga tercatat menyusut secara menyeluruh.

#harga-minyak #minyak-dunia #harga-minyak-global #ultimatum-trump #kesepakatan-nuklir-iran #gangguan-pasokan #timur-tengah #harga-brent #harga-wti #pasar-minyak #konflik-iran #selat-hormuz #ekspor-ener

https://market.bisnis.com/read/20260220/94/1954356/harga-minyak-global-memanas-dipicu-ultimatum-trump-ke-iran