Emiten Bakrie (ENRG) Pacu Ekspansi Anorganik Manfaatkan Fundamental Solid
ENRG agresif ekspansi anorganik dengan akuisisi blok migas, memperkuat produksi dan cadangan. Saham ENRG naik, didukung fundamental solid dan prospek pertumbuhan.
(Bisnis.Com) 24/10/25 05:00 13997
Bisnis.com, JAKARTA — Setelah menuntaskan sejumlah akuisisi penting sepanjang 2024, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) mulai memantapkan langkah menuju pertumbuhan anorganik yang lebih agresif.
Fokus perusahaan kini bukan lagi sekadar menjaga stabilitas produksi, melainkan memperluas portofolio minyak dan gas (migas), serta memperpanjang umur cadangan secara berkelanjutan.
Langkah itu bukan tanpa alasan. Dalam dua tahun terakhir, ENRG telah memperbesar basis produksinya lewat beberapa transaksi strategis.
Pada 2024, emiten Grup Bakrie tersebut sudah mengambil alih mayoritas kepemilikan di blok Siak dan Kampar di Riau, dua aset minyak yang kini menjadi tulang punggung kenaikan produksi minyak perusahaan.
Selain itu, ENRG juga menambah kepemilikan di blok gas Sengkang di Sulawesi Selatan dari 49% menjadi 100%, langkah yang memperkuat kontrol operasional sekaligus memperbaiki efisiensi rantai pasok energi gas. Aset tersebut kini menjadi salah satu penyumbang utama stabilitas pasokan gas perusahaan.
Direktur Utama & CEO ENRG Syailendra S. Bakrie mengatakan aset Siak dan Kampar berperan meningkatkan produksi minyak tahun ini. Adapun tambahan produksi dari Sengkang membantu ENRG menjaga kinerja produksi gas.
Dia menekankan bahwa perseroan akan tetap agresif dalam melakukan eksplorasi di paruh kedua guna membuka potensi lapangan baru.
“Ke depannya, kami akan terus melanjutkan eksplorasi sepanjang semester kedua tahun 2025 untuk mengejar penemuan-penemuan baru, sekaligus menjalankan program pengembangan yang bertujuan menjaga dan meningkatkan produksi,” ujarnya dalam paparan publik, Kamis (23/10/2025).
Sejalan dengan strategi ekspansi, ENRG juga memperkuat portofolio cadangan dan sumber daya migas. Perusahaan saat ini telah mengelola 434 juta barel ekuivalen cadangan terbukti dan terukur dengan rata-rata umur produksi 26 tahun dari 13 aset migas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Strategi akuisisi juga beriringan dengan aktivitas eksplorasi yang berkesinambungan. Dalam lima tahun terakhir, ENRG telah mengebor 18 sumur eksplorasi, dan 11 di antaranya berhasil menemukan prospek migas baru.
Perseroan turut mempertahankan reserve replacement ratio sebesar 2,1 kali. Dengan demikian, setiap satu barel migas yang diproduksi oleh perseroan mampu diganti dengan cadangan baru sebanyak dua kali lipat.
Seiring hal tersebut, ENRG meraih penjualan bersih sebesar US$239 juta atau meningkat 18% dibandingkan periode sama tahun lalu. EBITDA juga naik 25% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$149 juta, sementara laba bersih mencapai US$35,7 juta atau meningkat 7% YoY pada semester I/2025.
Secara operasional, produksi minyak perseroan juga naik menjadi 8.380 barel per hari, sementara produksi gas turun tipis 3% menjadi 225 juta kaki kubik per hari. Di sisi lain, harga rata-rata minyak ENRG tercatat US$72,08 per barel, turun 14% dibandingkan tahun lalu, sejalan dengan tren harga global.
ENRG juga baru saja menggelar private placement. Perseroan tercatat menerbitkan sebanyak 350.000.000 saham baru seri B dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dengan harga pelaksanaan mencapai Rp770 per saham, perseroan mengantongi Rp269,50 miliar dari aksi korporasi tersebut.
“Seluruh saham baru tersebut akan diambil bagian oleh PT Samuel International yang bukan merupakan pihak terafiliasi dari perseroan,” tulis manajemen ENRG dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini.
Pemenang Baru Industri Migas
Dalam perkembangan lain, ENRG dinilai berpotensi menjadi salah satu pemenang baru di industri migas karena ditopang portofolio aset yang terdiversifikasi, ekspansi agresif melalui akuisisi, serta fundamental solid.
Verdhana Sekuritas, dalam riset terbarunya, memberikan rekomendasi beli untuk saham ENRG dengan target harga Rp1.120 per saham. Mencerminkan potensi kenaikan nilai seiring pertumbuhan bisnis yang dipimpin manajemen.
Di lantai BEI, saham ENRG kini bertengger di level Rp975 per saham. Harga itu mencerminkan lonjakan sebesar 323,91% sepanjang tahun berjalan (year to date/Ytd), serta meningkat hingga 103,97% selama 3 bulan terakhir.
Dari meja konsensus Bloomberg Terminal, seluruh analis yang mengulas saham ENRG menyematkan peringkat beli dengan target harga rata-rata 12 bulan mencapai Rp1.165. Mencerminkan potensi return 19,5% dari harga saat ini.
Analis Verdhana Sekuritas Michael Wildon mengatakan ada tiga katalis utama yang menopang prospek kinerja ENRG ke depan. Pertama, perseroan mengelola 13 aset migas dengan 9 di antaranya telah berproduksi aktif.
Kedua, struktur pendapatan ENRG didominasi oleh gas alam yang berkontribusi sekitar 70% terhadap total penjualan. Ketiga, perusahaan diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba bersih rata-rata 23% (CAGR) sepanjang periode 2025–2027, sejalan dengan pertumbuhan produksi sekitar 10%.
Menurutnya, pertumbuhan ENRG banyak ditopang oleh strategi ekspansi yang konsisten dan disiplin manajemen dalam menjalankan proyek. Perseroan juga memiliki umur cadangan dan sumber daya hingga 26 tahun, serta mempercepat peningkatan produksi melalui akuisisi dan proyek organik.
Dalam proyeksi Verdhana, produksi ENRG diperkirakan mencapai 41 mboepd pada 2025 dan ditargetkan meningkat ke 55 mboepd pada 2030. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kontribusi dari blok Kangean, Siak, Kampar, dan Gebang.
“Efisiensi biaya menjadi salah satu keunggulan utama perseroan. Biaya lifting ENRG tercatat hanya sekitar US$12 per boe, mencerminkan disiplin dalam pengendalian belanja modal tahunan,” ucapnya dalam riset.
Verdhana juga menyoroti potensi pertumbuhan laba yang kuat dalam tiga tahun ke depan. Laba bersih diperkirakan akan melonjak seiring peningkatan volume produksi, dengan asumsi harga minyak stabil di kisaran US$70–65 per barel.
Akuisisi atas blok Siak dan Kampar di Riau disebut menjadi pendorong efisiensi dan kenaikan volume produksi, sekaligus membuka ruang tambahan bagi peningkatan cadangan migas. Potensi upside juga datang dari aktivitas eksplorasi yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah kerja.
Adapun kontribusi gas disebut menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan arus kas. Verdhana memperkirakan harga gas ENRG sekitar US$6,8 per mmbtu, dengan lebih dari 65% penjualan sudah terikat dalam kontrak jangka panjang.
Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas sebelumnya mengatakan ENRG juga telah memperkuat posisinya di Blok Kangean dan mengupayakan perpanjangan kontrak yang akan habis pada 2030. ENRG telah menambah 25% partisipasi interest di Blok Kangean melalui akuisisi dari JAPEX.
Aksi itu menunjukkan perseroan memiliki strategi pertumbuhan jangka menengah-panjang melalui ekspansi, kemitraan strategis, dan monetisasi aset.
Sejalan dengan ekspansi blok migas yang dimiliki perseroan, Kiwoom Sekuritas menaksir pendapatan ENRG mencapai US$561 juta pada 2025, meningkat dibandingkan pendapatan 2024 sebesar US$467 juta. Sementara itu, pendapatan 2026 dan 2027 ditaksir menjadi US$563 juta dan US$567 juta.
Kinerja bottom line juga diproyeksikan meningkat seiring dengan kinerja pendapatan yang naik. Laba bersih perseroan pada 2025 diperkirakan mencapai US$92 juta, tumbuh dari laba bersih 2024 sebesar US$76 juta.
“Meski valuasi saat ini berada di atas rata-rata historis lima tahun, ENRG masih diperdagangkan di bawah perusahaan sejenis, menunjukkan potensi untuk re-rating lebih lanjut yang didukung oleh perbaikan fundamental,” tuturnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#enrg #bakrie-group #ekspansi-anorganik #akuisisi-migas #produksi-minyak #produksi-gas #blok-siak #blok-kampar #blok-sengkang #cadangan-migas #eksplorasi-migas #fundamental-solid #saham-enrg #pertumbuh