Kemenkes Kolaborasi Kembangkan Riset Genomik di Indonesia

Kemenkes Kolaborasi Kembangkan Riset Genomik di Indonesia

Kolaborasi lintas sektor di Indonesia mempercepat riset genomik untuk kedokteran presisi, mengatasi penyakit kronis, dan mengoptimalkan sumber daya genetik nasional.

(Bisnis.Com) 13/02/26 13:45 135870

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan riset genomik di Indonesia memasuki babak baru melalui kolaborasi strategis lintas sektor. Langkah ini bertujuan mengintegrasikan infrastruktur serta data guna mempercepat implementasi kedokteran presisi di tanah air.

Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Brian Yuliarto menegaskan, riset genomik merupakan kerja lintas disiplin yang tidak dapat dilakukan secara parsial. Sebagai langkah konkret, pemerintah dapat membentuk Konsorsium Riset Genomik Nasional.

"Konsorsium ini menjadi platform strategis yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit pendidikan, hingga mitra industri," ujar Brian ketika menghadiri Forum komunikasi strategis nasional bertajuk “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2).

Kepala Badan Riset Nasional (BRIN) Arif Satria juga menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung konsorsium melalui penyediaan akses fasilitas riset berstandar tinggi (high-end facilities). Langkah ini menjadi solusi atas mahalnya biaya pengadaan laboratorium genomik yang sulit dipenuhi oleh setiap institusi secara mandiri.

"BRIN membuka kolaborasi seluas-luasnya agar fasilitas yang ada dapat digunakan bersama guna memacu inovasi nasional," kata Arif.

Sementara itu, Menteri Kesehatan, Budi G. Sadikin menyampaikan bahwa pengembangan genomik akan membawa perubahan besar dalam industri kesehatan Indonesia. Menkes menekankan bahwa riset genomik membutuhkan kerja sama lintas disiplin, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran.

“Dengan memahami genom, diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kita bisa periksa dengan pasti ketika ciri-ciri penyakit sudah muncul, lalu langsung tahu bagaimana cara mengobatinya dengan presisi. Ini yang akan mereformasi industri kesehatan di Indonesia,” ujar Menkes Budi.

Ke depan Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) difokuskan pada sejumlah penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara sebagai pilot project. Melalui konsorsium riset yang melibatkan lintas sektor seperti Kemenkes, Kemdiktisaintek, BRIN, perguruan tinggi, serta rumah sakit, maka Indonesia diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan data genomik untuk kebijakan kesehatan dan pelayanan publik.

Kementerian Kesehatan RI mempercepat implementasi kedokteran presisi sebagai jawaban atas terus melonjaknya pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis di Indonesia. Melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), pengobatan kini diarahkan pada pendekatan berbasis profil genetik individu yang lebih akurat dan efisien.

Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin menjelaskan, teknologi genomik yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) memungkinkan pemeriksaan kesehatan menjadi lebih personal. Hal ini menjadi titik balik dari paradigma lama "satu obat untuk semua".

"Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis, pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan," ujar Menkes Budi dalam Forum komunikasi strategis nasional bertajuk “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2).

Hingga awal tahun 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan menghasilkan 16.000 sequence whole genome manusia (red: genome sequencing merupakan suatu pengurutan nukleotida DNA dari suatu genom organisme). Capaian ini dipandang bukan sekadar angka riset, melainkan basis data penting untuk menekan pemborosan anggaran kesehatan.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti kaitan erat antara genomik dan ketahanan fiskal negara. Menurutnya, terapi yang tepat sasaran akan memangkas biaya pengobatan yang berlarut-larut akibat diagnosis yang tidak akurat.

"Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif," kata Febrian.

Namun demikian, Febrian mengingatkan bahwa proyek ini adalah "lari maraton" yang membutuhkan konsistensi dan komitmen jangka panjang, bukan hasil instan.

Dukungan serupa datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar inisiatif genomik ini tidak berhenti pada urusan medis, tetapi diperluas untuk mengelola keanekaragaman hayati Indonesia secara luas.

Optimasi sumber daya genetik nasional, menurut Luhut, adalah kunci tidak hanya pada ketahanan kesehatan, namun juga ketahanan pangan serta ekonomi nasional di masa depan. "Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal," tegasnya.

Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai hubs (pusat jejaring). Kedepan, integrasi data genomik ini diharapkan menjadi pilar utama sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan mandiri.

#genomik-indonesia #riset-genomik #kolaborasi-riset #kedokteran-presisi #konsorsium-riset #infrastruktur-genomik #brin-fasilitas-riset #kesehatan-indonesia #penyakit-prioritas #bgsi-indonesia #profil-g

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260213/106/1952741/kemenkes-kolaborasi-kembangkan-riset-genomik-di-indonesia