Kasus Siswa SD di NTT, Sosiolog Desak Layanan Mental untuk Anak
Kasus tragis siswa SD di NTT karena kemiskinan soroti pentingnya perhatian pada kesehatan mental anak.
(Bisnis.Com) 10/02/26 03:00 131237
Bisnis.com, SURABAYA – Guru Besar Departemen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Bagong Suyanto menyoroti peristiwa siswa SD kelas IV di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri.
Seperti diketahui, langkah bunuh diri tersebut diduga dipicu oleh ketidakmampuan keluarga dalam membeli buku tulis dan pena. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan di lokasi saat evakuasi korban di lokasi kejadian.
Korban menulis sosok ibunya berinisial MGT (47) dalam surat menggunakan bahasa Bajawa, di mana terdapat ungkapan kekecewaan dan perpisahan korban kepada ibunya.
Sebelum kejadian, korban meminta uang kepada ibundanya untuk membeli buku tulis dan pena seharga kurang dari Rp 10.000. Namun, karena kondisi kesulitan ekonomi, permintaan korban tidak dapat dikabulkan.
Bagong mengungkapkan bahwa peristiwa kelam tersebut seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pihak tentang pentingnya pemantauan kondisi psikologis terhadap anak-anak di lingkungan sekitar mereka.
"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup," beber Bagong, Senin (9/2/2026).
Dirinya menyatakan bahwa keluarga dan lingkungan sekitar seharusnya memiliki peran yang sentral dalam upaya mendeteksi tanda-tanda adanya masalah emosional atau psikologis pada anak.
"Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan," tegasnya.
Bagong juga menyoroti tekanan yang bersumber dari masalah kemiskinan sebagai faktor besar yang memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak.
Seperti diketahui, Sejak usia sekitar 1 tahun 7 bulan, korban telah tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, setelah tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya serta ayah kandungnya yang merantau hingga tidak diketahui jejaknya lagi.
"Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak sering kali merasakan dampaknya, baik secara langsung maupun tidak langsung," ucap Bagong.
Oleh sebab itu, mantan Dekan FISIP Unair tersebut berharap pemerintah dapat mengembangkan sistem dukungan komunitas melalui lembaga sosial lokal guna memberikan dukungan psikologis dan emosional kepada anak-anak, khususnya yang terdapat di daerah terpencil.
"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak, serta menciptakan jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama yang berada di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," pungkasnya.
#siswa-sd-bunuh-diri #kesehatan-mental-anak #kasus-bunuh-diri-ntt #sosiolog-unair #dukungan-psikologis-anak #kemiskinan-dan-kesehatan-mental #peran-keluarga-kesehatan-mental #akses-layanan-psikologis #n-a