BUMN Research Group Peringatkan Risiko Sistemik di Balik Outlook Negatif Moody's
BRG memperingatkan risiko sistemik setelah Moody's menurunkan outlook tujuh korporasi Indonesia, termasuk BUMN, menjadi negatif. Pemerintah perlu memperbaiki kebijakan.
(Bisnis.Com) 09/02/26 10:36 130209
Bisnis.com, JAKARTA — BUMN Research Group (BRG) memperingatkan adanya risiko sistemik terhadap kredibilitas kebijakan nasional usai Moody’s Ratings merevisi prospek tujuh korporasi Indonesia menjadi negatif.
Penurunan outlook menjadi negatif itu dinilai sebagai alarm bagi pemerintah untuk segera memperbaiki prediktabilitas dan tata kelola kebijakan guna menghindari tekanan beban bunga utang di pasar global.
Adapun ketujuh korporasi yang terdampak meliputi lima entitas milik negara atau BUMN yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.
Selain pelat merah, dua raksasa swasta yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut terdampak.
Dalam laporan BRG yang disusun Toto Pranoto dan Adam F. Amru, keputusan Moody’s kali ini disebut bersifat unik sekaligus mengkhawatirkan.
Pasalnya, laporan Lembaga Management FEB Universitas Indonesia ini menyebut revisi outlook tidak dipicu oleh guncangan eksternal, melainkan oleh faktor endogen yang sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah.
“Langkah tersebut bukan sekadar penyesuaian teknis dalam metodologi pemeringkatan, melainkan mencerminkan kekhawatiran struktural terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia,” tulis laporan BRG dikutip Senin (9/2/2026).
Di sisi lain, Laporan BRG menyebutkan bahwa profil risiko antarkorporasi cukup kontras. Telkom dan Telkomsel, misalnya, dipandang lebih resilien karena disebut memiliki kekuatan kredit mandiri (baseline credit assessment/BCA) pada level baa1 tanpa bergantung pada dukungan pemerintah.
Sebaliknya, holding pertambangan MIND ID dinilai paling rentan karena peringkat Baa2 miliknya sangat bergantung pada dukungan negara, mengingat profil kredit mandirinya berada di wilayah non-investment grade (ba1).
“Apabila peringkat sovereign turun satu takik menjadi Baa3, maka kapasitas dukungan pemerintah terhadap MIND ID juga akan berkurang, yang berpotensi menarik peringkat perusahaan ini ke level non-investment grade,” tulis BRG.
BRG juga mengingatkan sinyal negatif Moody’s ini muncul di tengah proses restrukturisasi besar-besaran BUMN di bawah Danantara Indonesia. Kurangnya transparansi dan komunikasi kebijakan dalam proses konsolidasi tersebut dikhawatirkan akan memperdalam persepsi negatif pasar.
Untuk memulihkan kepercayaan investor global dalam jendela waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, BRG merekomendasikan pemerintah untuk segera menunjukkan konsistensi kebijakan.
Sementara itu, bagi BUMN, fokus utama diarahkan pada penguatan kualitas kredit mandiri melalui disiplin fiskal dan manajemen risiko yang lebih pruden.
“Peringkat kredit dan outlook bukanlah semata-mata penilaian teknis atas neraca keuangan, melainkan cerminan dari kepercayaan pasar global terhadap kapasitas institusional suatu negara dalam mengelola ekonominya,” tulis BRG.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#risiko-sistemik #outlook-negatif #moody-039-s-ratings #bumn-research-group #kredibilitas-kebijakan #beban-bunga-utang #pasar-global #telkom-indonesia #pertamina #mind-id #profil-risiko #sovereign-rat