Industri Energi Asia Pasifik Berkembang Pesat, Apa Pendorongnya?
Industri energi Asia Pasifik tumbuh pesat didorong oleh peningkatan pusat data dan perubahan kebijakan energi, menyumbang 85% permintaan global pada 2026.
(Bisnis.Com) 03/02/26 19:22 124523
Bisnis.com, JAKARTA – Wood Mackenzie memperkirakan industri energi di Asia Pasifik berkembang pesat seiring dengan meningkatnya instalasi pusat data dan pergeseran kebijakan energi yang membentuk lanskap ketenagalistrikan di kawasan pada 2026.
Laporan Wood Mackenzie berjudul "Lima Tren yang Perlu Diperhatikan di Sektor Energi dan Energi Terbarukan Asia Pasifik" menyoroti tren utama yang membentuk pasar tahun ini.
Asia Pasifik menjadi penyumbang 85% dari pertumbuhan permintaan energi global tahun ini, dengan peningkatan kapasitas hingga 790 TWh. Faktor pendorong pada tahun ini akan berpusat ke arah pematangan pasar, perubahan regulasi, dan munculnya hambatan rantai pasokan dalam pembangkitan konvensional.
“Pusat data bukan lagi sekadar beban khusus; mereka adalah pendorong utama permintaan transformasional di seluruh Asia Pasifik,” kata Yanqi Cao, Analis Senior, Riset Tenaga Listrik Asia Pasifik, Wood Mackenzie.
Menurutnya, Jepang sebagai salah satu pasar energi yang besar di Asia Pasifik, berpotensi mengalami peningkatan permintaan. Hal ini sekaligus mengubah tren permintaan energi Jepang yang dalam satu dekade ke belakang mengalami penurunan permintaan
Wood Mackenzie memperkirakan demand energi di Asia Pasifik juga akan menjawab kebutuhan pusat data di kawasan.
Persaingan global untuk kapasitas AI dan pusat data secara fundamental mengubah pola permintaan listrik. Meskipun AS dan Eropa diproyeksikan masing-masing akan mewakili 9% dan 5% dari pertumbuhan permintaan global pada 2026, dibandingkan dengan rata-rata 5% dan 1% selama dekade terakhir, Asia Pasifik tetap menjadi pemain utama global.
Menurut Wood Mackenzie, kawasan ini diperkirakan akan menyumbang 85% dari 920 TWh tambahan daya yang dibutuhkan secara global tahun ini. China, pasar listrik terbesar di dunia, terus berkembang dengan skala dua kali lipat dari AS, Eropa, dan seluruh kawasan Asia Pasifik lainnya jika digabungkan.
Di luar China, pertumbuhan kawasan ini didorong oleh India dan Asia Tenggara, yang diperkirakan akan menyumbang masing-masing 50% dan 25% dari pertumbuhan permintaan regional yang tersisa.
Selain itu, Wood Mackenzie memperkirakan tahun ini juga menjadi titik pengendalian pertumbuhan energi terbarukan. Sebelumnya, China diperkirakan akan menurunkan instalasi tenaga surya dan angin untuk pertama kalinya dalam satu dekade, turun menjadi 318 GW pada tahun 2026.
Mekanisme penetapan harga listrik yang baru memaksa pengembang untuk menghadapi paparan pasar spot yang lebih besar, sehingga mengurangi investasi jangka pendek.
Adapun untuk India, yang sempat mencatat rekor pada 2025, aktivitas tender telah melambat karena pasar merasionalisasi proyek yang dilanda kemacetan transmisi. Pada 2026 akan menjadi tahun \'kualitas diatas kuantitas\', dengan tender baru yang semakin mewajibkan penyimpanan dan kewajiban fleksibilitas jaringan.
#energi-asia #industri-energi #asia-pasifik #pusat-data #permintaan-energi #tren-energi #kebijakan-energi #pasar-energi #energi-terbarukan #pertumbuhan-energi #listrik-asia #permintaan-listrik #china-e