Tak Hanya SBN, Dapen BCA Bidik Obligasi Korporasi & Penyertaan Langsung
Dapen BCA diversifikasi investasi ke obligasi korporasi dan penyertaan langsung untuk optimalkan imbal hasil dengan strategi adaptif dan terukur.
(Bisnis.Com) 28/01/26 13:40 116999
Bisnis.com, JAKARTA — Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran pasti (PPIP) Bank Central Asia atau Dapen BCA mengungkap strategi diversifikasi investasinya dengan tidak hanya mengandalkan Surat Berharga Negara (SBN) saja.
Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno menyebut pihaknya kini juga fokus pada obligasi korporasi berkualitas tinggi dan penyertaan langsung. Obligasi korporasi dipilih untuk mengoptimalkan imbal hasil dengan risiko yang terukur.
“Sementara penyertaan langsung dilakukan secara selektif pada entitas berfundamental kuat, guna memberikan kontribusi imbal hasil yang lebih optimal dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” bebernya kepada Bisnis, Rabu (28/1/2026).
Dia melanjutkan, dalam menghadapi dinamika perubahan suku bunga dan kondisi pasar keuangan, Dana Pensiun BCA terus menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang adaptif dan terukur.
Strateginya adalah melakukan pengelolaan durasi aset yang selaras dengan kewajiban jangka panjang, pemanfaatan instrumen berpendapatan tetap untuk menjaga stabilitas imbal hasil, serta penempatan dana secara selektif pada instrumen yang memiliki profil risiko terukur.
“Selain itu, pemantauan kondisi makroekonomi dan pasar keuangan dilakukan secara berkala sebagai dasar penyesuaian strategi investasi,” ucapnya.
Adapun menurutnya, sejauh ini ketentuan batasan investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi kerangka utama dalam pengelolaan portofolio perusahaan, untuk memastikan disiplin pengelolaan risiko dan penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten.
Lebih jauh, dia membeberkan komposisi penempatan dana investasi Dapen BCA per Desember 2025 masih didominasi oleh SBN yang mencapai 39,23%. Kemudian diikuti dengan tanah dan bangunan sebesar 15,22%.
“Selanjutnya ada deposito sebesar 14,51%, penyertaan 14,37%, obligasi korporasi 6,05%, sertifikat Bank Indonesia (SRBI) 5,32%, dan saham serta reksadana 5,30%,” ujar Budi.
Sementara itu, return of investment (ROI) berada pada level yang stabil dan sejalan dengan profil risiko portofolio.
“Dengan peningkatan kinerja dilakukan melalui optimalisasi alokasi aset, pemilihan instrumen berkualitas, dan evaluasi portofolio secara berkala,” pungkasnya.
Sebagai informasi, OJK mencatat total investasi industri dana pensiun pada November 2025 tercatat sebesar Rp388,10 triliun. Angka ini tumbuh 5,61% year-on-year (YoY).
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan portofolio investasi dana pensiun masih didominasi oleh instrumental yang relatif konservatif.
“Terutama Surat Berharga Negara [SBN], deposito, serta obligasi dan sukuk korporasi, sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko jangka panjang,” katanya dalam lembar jawaban RDK Desember 2025, Selasa (27/1/2026).
Sementara itu, lanjutnya, hingga November 2025, kinerja investasi dana pensiun mencatatkan imbal hasil (ROI) sebesar 7,34%. Baginya ini mencerminkan pengelolaan investasi yang prudent di tengah dinamika pasar keuangan.
#dana-pensiun #dapen-bca #obligasi-korporasi #penyertaan-langsung #investasi-dapen-bca #strategi-investasi #imbal-hasil #risiko-terukur #portofolio-investasi #pengelolaan-portofolio #otoritas-jasa-keua