Kemenkes Soroti Produk Alkes Lokal Mayoritas Masih Berteknologi Rendah
Kemenkes proyeksikan industri alkes tumbuh 12% hingga 2025. Namun, produk lokal masih didominasi teknologi rendah dan menengah.
(Bisnis.Com) 26/01/26 14:05 114319
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memproyeksikan industri alat kesehatan (alkes) tumbuh sekitar 12% dengan valuasi pasar diperkirakan mencapai sekitar Rp40 triliun hingga 2025. Kendati demikian, dominasi produk lokal masih bertumpu pada teknologi menengah dan rendah.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia mengatakan, pertumbuhan pasar alkes belakangan didorong oleh agenda transformasi kesehatan dengan fokus penguatan sekitar 36.000 fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
"Meskipun jumlah produsen alat kesehatan dalam negeri telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019, segmen teknologi tinggi masih didominasi oleh produk impor," kata Rizka kepada wartawan, Senin (26/1/2026).
Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan kapabilitas fasilitas layanan kesehatan dan memastikan pemenuhan teknologi di setiap fasilitas. Namun, pasar yang berkembang pesat tersebut harus ditopang oleh rantai pasok yang kuat dan berkelanjutan.
Saat ini, ketergantungan impor untuk alat kesehatan berteknologi tinggi masih mencapai sekitar 80%, sementara untuk teknologi rendah dan menengah, produksi lokal telah mendominasi sekitar 80%.
Dalam konteks tersebut, Kemenkes menilai kolaborasi antara Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia (PHC Indonesia) menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional, terutama melalui transfer teknologi dan pengembangan produksi dalam negeri.
Dia menegaskan bahwa pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) harus diwujudkan melalui aktivitas produksi nyata, bukan sekadar sertifikasi administratif, guna menjamin keberlanjutan pasokan alat kesehatan.
“TKDN bukan hanya sekadar sertifikat saja, tapi benar-benar melakukan produksi di Indonesia. Kalau tidak, ketika pandemi atau lockdown, kita tidak bisa punya produk kalau terus bergantung pada impor,” tegasnya.
Rizka menjelaskan, produksi dalam negeri juga sejalan dengan program quick win Presiden Prabowo di sektor kesehatan, termasuk program skrining kesehatan nasional yang diluncurkan sejak 10 Februari 2025. Pada tahun lalu, program tersebut telah menjangkau sekitar 70 juta orang, dan pada tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 130 juta orang.
“Keberhasilan program skrining kesehatan tentu harus didukung oleh ketersediaan fasilitas diagnostik yang memadai di setiap layanan kesehatan primer, salah satunya adalah peralatan ultrasound,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas 66 rumah sakit daerah dari kelas D menjadi kelas C untuk memperkuat layanan spesialistik, khususnya dalam penanganan penyakit prioritas seperti kanker, penyakit jantung, gangguan saraf, dan penyakit saluran kemih.
Transformasi tersebut, lanjut Rizka, menuntut penguatan infrastruktur dan ketersediaan alat kesehatan berteknologi tinggi yang diproduksi di dalam negeri agar layanan diagnosis lebih efektif dan terjangkau.
"Pembangunan infrastruktur kesehatan harus didorong oleh kapasitas industri domestik sehingga solusi medis berteknologi tinggi bisa tersedia secara berkelanjutan untuk melayani masyarakat," terangnya.
Seiring pertumbuhan pasar dan peningkatan kapasitas produksi, Rizka optimistis harga alat kesehatan ke depan dapat menjadi lebih terjangkau, meski proses transisi dari impor ke produksi lokal tidak terjadi secara instan.
"Diharapkannya akan lebih affordable. Biasanya semakin tinggi produksi dan demand, harganya akan semakin turun, meskipun ada masa transisi," pungkasnya.