Harga Gas Alam Melambung Efek Musim Dingin Ekstrem Bersalju di AS

Harga Gas Alam Melambung Efek Musim Dingin Ekstrem Bersalju di AS

Harga gas alam di AS melonjak 57% dalam seminggu akibat musim dingin ekstrem, memicu risiko produksi dan peningkatan konsumsi batu bara.

(Bisnis.Com) 22/01/26 14:44 110775

Bisnis.com, JAKARTA — Harga gas alam melonjak lebih dari 50% dalam dua hari terakhir efek musim dingin dengan suhu terendah di Amerika Serikat (AS). Kenaikan harga gas alam ini berada di jalur menuju penguatan harga mingguan terbesar dalam tiga dekade terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, harga gas alam kontrak teraktif pengiriman Februari ditutup melonjak 25% ke level US$4,875 per juta British thermal units (mmbtu). Lonjakan harga ini menjadi harga penyelesaian tertinggi untuk kontrak bulan terdepan sejak 8 Desember 2025, sebelum menembus US$5 per mmbtu tak lama setelah penutupan.

Adapun, harga telah naik 57% sepanjang pekan ini. Operator bursa CME Group mengatakan kompleks gasnya mencatat rekor transaksi harian lebih dari 2,5 juta kontrak pada 20 Januari 2026.

Lonjakan harga gas alam menyusul pemberitahuan badai akan melanda AS pada akhir pekan ini yang akan membawa Texas ke dalam kondisi beku ekstrem. Selanjutnya, badai akan membawa salju ke daerah New York dan Boston.

Kondisi ini akan menimbulkan risiko gangguan produksi gas ketika air membeku di dalam pipa, situasi yang terbukti sangat merusak bagi Texas pada 2021, ketika pemadaman pasokan gas selama cuaca ekstrem berkontribusi pada runtuhnya jaringan listrik negara bagian tersebut.

Commodity Weather Group menunjukkan model cuaca menunjukkan perubahan menjadi jauh lebih dingin dalam semalam untuk dua pertiga wilayah timur AS hingga awal Februari yang menandakan lonjakan permintaan energi untuk pemanas.

“Ini sedang berkembang menjadi badai paling berdampak sepanjang musim dingin sejauh ini,” kata Jonathan Porter, kepala meteorolog di AccuWeather Inc., dikutp Bloomberg pada Kamis (22/1/2025).

Adapun, dana lindung nilai (hedge fund) menjadi semakin pesimistis terhadap harga gas alam pada akhir pekan lalu, sehingga pasar berada dalam posisi siap reli melihat prakiraan cuaca.

Lonjakan harga gas menjadi kabar buruk bagi konsumen AS yang tengah bergulat dengan tagihan energi yang meningkat. Isu ini juga menjadi beban politik bagi para pejabat, termasuk Presiden AS Donald Trump. Namun, kondisi ini justru menguntungkan produsen gas AS, terutama mereka yang belum mengunci harga untuk sebagian besar rencana produksinya melalui lindung nilai keuangan.

Kenaikan harga gas dapat mendorong peningkatan konsumsi batu bara karena produsen listrik berupaya menekan biaya bahan bakar dengan mengurangi penggunaan gas dan meningkatkan pembakaran batu bara.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menyampaikan produksi listrik AS dari gas turun 4% pada 2025, sementara pembangkitan listrik dari batu bara naik 13%. Adapun, tingginya harga gas membuat batu bara lebih kompetitif.

Lebih lanjut, cuaca dingin juga mendorong lonjakan harga energi secara global. Harga listrik di Jepang naik ke level tertinggi dalam tiga bulan pada Rabu (21/1/2026), sementara kontrak berjangka gas Eropa juga melonjak tajam. Pasar memantau potensi pelemahan angin pusaran kutub (polar vortex) yang biasanya menahan udara dingin ekstrem di Arktik yang dapat memicu suhu beku lebih lanjut.

#gas-alam #harga-gas #musim-dingin #as #lonjakan-harga #badai-salju #texas-beku #permintaan-energi #cuaca-ekstrem #produksi-gas #konsumsi-batu-bara #listrik-as #harga-energi #polar-vortex #produsen-gas

https://market.bisnis.com/read/20260122/94/1946343/harga-gas-alam-melambung-efek-musim-dingin-ekstrem-bersalju-di-as