#30 tag 24jam
Pakar ungkap faktor penentu rupiah bisa “rebound” pada semester II
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi memperkirakan, nilai tukar rupiah berpeluang mengalami pembalikan arah ... [585] url asal
#rupiah #nilai-tukar #pelemahan-rupiah #dolar-as #indeks-dolar #moneter
Menentukan titik balik rupiah saat ini sangat bergantung pada kapan variabel eksternal mulai mendingin atau mereda
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi memperkirakan, nilai tukar rupiah berpeluang mengalami pembalikan arah (rebound) ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.200 per dolar AS apabila sejumlah faktor penentu terpenuhi pada semester II 2026
“Menentukan titik balik rupiah saat ini sangat bergantung pada kapan variabel eksternal mulai mendingin atau mereda. Namun, secara teknis dan fundamental, ada beberapa pemicu yang bisa menjadi pembalikan arah (rebound) rupiah,” kata Rahma saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Rahma menjelaskan bahwa penyebab utama dolar yang terlalu kuat adalah ekspektasi suku bunga The Fed. Rupiah berpotensi menemukan titik balik apabila data ekonomi AS mulai menunjukkan titik terang atau pendinginan yang signifikan.
“Jika angka pengangguran di AS merayap naik dan inflasi mereka melandai di bawah 3 persen, pasar akan kembali bertaruh pada pemangkasan bunga. Ini akan berdampak pada penurunan yield Treasury AS, sehingga aliran modal (capital inflow) akan kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia (SBN) yang saat ini menawarkan yield sangat tinggi,” jelas dia.
Bank Indonesia (BI) juga tidak hanya mengandalkan suku bunga, tetapi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus diperkuat. Menurut Rahma, rupiah bisa menguat jika tingkat imbal hasil SRBI sudah mencapai level yang dianggap terlalu murah untuk dilewatkan oleh investor asing.
“Saat ini, dengan yield SRBI yang dipatok di atas 7,3-7,5 persen, daya tarik untuk masuk ke pasar domestik secara bertahap akan terbangun, menciptakan pasokan dolar baru di pasar,” kata dia.
Secara historis, tekanan terhadap rupiah pada kuartal II atau April-Juni juga cenderung meningkat karena korporasi asing di Indonesia gencar menukar rupiah ke dolar AS untuk repatriasi dividen. Memasuki Juli dan Agustus, tekanan musiman tersebut biasanya mereda.
“Jika tidak ada kejutan negatif dari sisi fiskal, rupiah secara alami memiliki ruang untuk menguat karena permintaan dolar dari korporasi menurun. Tapi sebaliknya, jika ada kejutan negatif dari fiskal, maka rupiah terus akan tertekan,” kata Rahma.
Ia menilai terdapat level psikologis tertentu yang mendorong BI melakukan intervensi agresif untuk menjaga kredibilitas rupiah. Jika cadangan devisa dinilai cukup kuat menjaga volatilitas, spekulan cenderung melakukan profit taking sehingga dapat memicu penguatan rupiah secara cepat.
Sebagai negara pengekspor komoditas, Rahma mengingatkan bahwa penguatan rupiah juga bergantung pada stabilitas harga energi. Jika tensi di Timur Tengah mereda dan harga minyak dunia turun ke kisaran 75-80 dolar AS per barel, beban impor energi akan berkurang sehingga menopang neraca perdagangan Indonesia.
Menurutnya, otoritas moneter dan pemerintah biasanya akan beralih ke langkah yang lebih struktural apabila kenaikan suku bunga belum efektif menahan tekanan rupiah. Salah satunya melalui penguatan aturan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa di sistem keuangan domestik.
Selain itu, BI juga dinilai perlu untuk terus menjaga daya tarik instrumen SRBI dengan imbal hasil kompetitif untuk menarik aliran modal asing. Upaya lain dilakukan melalui perluasan transaksi mata uang lokal (LCT) dan pengembangan instrumen non-dolar guna menekan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Di sisi lain, menurut Rahma, pemerintah juga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dengan menahan impor yang tidak mendesak atau menunda proyek yang memiliki komponen impor tinggi.
Namun, ia juga mengingatkan, jika pasar melihat tensi geopolitik terus memanas atau defisit APBN melebar secara tidak sehat, maka kebijakan administratif seperti kewajiban DHE dapat dianggap sebagai sinyal darurat yang justru memicu kekhawatiran investor.
“Langkah-langkah di atas memang terlihat kuat di atas kertas, namun efektivitasnya sering kali berbenturan dengan psikologi pasar,” kata Rahma.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Drama Shutdown AS Memuncak Hari Ini, Ekonomi RI Siap Kena Getahnya?
Data ekonomi AS dan dalam negeri akan menggerakkan pasar hari ini [2,547] url asal
#nilai-tukar-rupiah #dolar-amerika #pasar-valuta-asing #penguatan-dolar-as #perdagangan-valuta #ekonomi-indonesia #indeks-dolar #analisis-pasar #pasar-keuangan #penguatan-dolar #kapitalisasi-pasar #sektor-finansi
(CNBC Indonesia - Research) 11/11/25 15:08
v/35789/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah sementara rupiah menguat
- Wall Street beda arah, Dow Jones mencetak rekor tetapi Nasdaq melemah
- Data ekonomi AS dan dalam negeri akan menggerakkan pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup melemah kemarin Selasa (11/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dan rupiah terpuruk.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona merah kemarin. Indeks merosot 0,31% atau 25,97 poin ke level 8.365,27.
Sebanyak 378 saham turun, 290 naik, dan 147 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 27,6 triliun, melibatkan 71,1 miliar saham dalam 2,33 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 15.248 triliun.
Asing mencatat net sell sebesar Rp 649,29 miliar pada perdagangan kemarin.
Mengutip Refinitiv, utilitas dan finansial menjadi sektor yang turun paling dalam, yakni -2% dan -1,15%. Kemudian diikuti oleh konsumer primer (-0,65%), industri (-0,53%), konsumer non-primer (-0,38%), dan bahan baku (-0,18%).
Sebaliknya, teknologi, properti, kesehatan, dan energi berada di zona hijau dengan penguatan masing-masing 1,26%, 0,99%, 0,91%, dan 0,18%.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin, Selasa (11/11/2025).
Merujuk data Refinitiv, rupiah terkoreksi 0,21% ke level Rp16.680/US$. Sejak awal sesi perdagangan, rupiah langsung tertekan dengan dibuka melemah 0,27% ke posisi Rp16.690/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menembus level psikologis Rp16.700/US$ sebelum akhirnya pelemahan berkurang menjelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau berada di zona hijau dengan menguat 0,08% di posisi 99,665.
Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa (11/11/2025), masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama dari penguatan indeks dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat di tengah meredanya kekhawatiran pasar terkait penutupan pemerintahan (government shutdown) di Amerika Serikat.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menanjak 6,16% pada perdagangan kemarin, dari sebelumnya di 6,14%. Kenaikan ini menandai jatuhnya harga SBN karena adanya aksi jual di kalangan investor.
Dari bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat ke rekor penutupan tertinggipada Selasa, sementara Nasdaq Composite melemah karena investor mengalihkan dana dari saham teknologi ke sektor lain yang dinilai lebih murah.
Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan naik 559,33 poin atau 1,18% dan ditutup pada 47.927,96.
Investor di Wall Street memborong saham-saham blue-chip, termasuk raksasa kesehatan Merck, Amgen, dan Johnson & Johnson.
Indeks S&P 500 juga menguat 0,21% ke level 6.846,61. Namun, Nasdaq yang sarat saham teknologi melemah 0,25% dan berakhir pada 23.468,30.
Perusahaan penyedia infrastruktur cloud kecerdasan buatan (AI), CoreWeave, menjadi salah satu penekan indeks di sesi perdagangan. Sahamnya anjlok lebih dari 16% setelah proyeksi kinerja perusahaan mengecewakan investor, sehingga memukul sentimen perdagangan saham berbasis AI.
Selain itu, saham Nvidia juga terkoreksi sekitar 3% setelah SoftBank menjual seluruh kepemilikannya di perusahaan tersebut senilai lebih dari US$5 miliar.
"Perusahaan teknologi ini adalah mesin pencetak arus kas. Mereka perusahaan yang luar biasa, tetapi titik awal valuasinya tetap penting. Dengan valuasi setinggi sekarang, sedikit saja kabar negatif bisa langsung mengubah sentimen dan mendorong perpindahan dana ke saham-saham bernilai (value equities)," ujar Bill Fitzpatrick, Manajer Portofolio di Logan Capital Management kepada CNBC.
Perdagangan saham AI tertekan sepanjang bulan ini karena kekhawatiran atas tingginya valuasi, yang membuat Nasdaq mencatat penurunan sekitar 1% secara bulanan.
Pada Selasa, sejumlah saham terkait AI seperti Micron Technology, Oracle, dan Palantir Technologies ikut terseret turun seiring pelemahan CoreWeave dan Nvidia.
Micron turun hampir 5%, sementara Oracle dan Palantir masing-masing melemah sekitar 2% dan di atas 1%. ETF Technology Select Sector SPDR (XLK), yang melacak sektor teknologi S&P 500, juga turun sekitar 1%.
"(S&P 500) diperdagangkan jauh di atas 20 kali (price-to-earnings ratio). Angka ini terdorong naik oleh 'Magnificent Seven' dan perusahaan teknologi lainnya," tambah Fitzpatrick, seraya menyebutkan bahwa ada sejumlah saham yang tertinggal dalam reli pasar.
Dia menambahkan ada begitu banyak ekspektasi belanja modal dalam beberapa tahun ke depan, sehingga jika ada sedikit saja penurunan ... bisa menjadi sinyal bahwa keadaan sudah sedikit terlalu berlebihan.
Menambah sentimen negatif di Nasdaq, laporan terbaru dari ADP menunjukkan bahwa selama empat pekan yang berakhir pada 25 Oktober, penciptaan lapangan kerja di sektor swasta turun lebih dari 11.000 pekerjaan per pekan secara rata-rata.
Data ini berbanding terbalik dengan laporan ADP pekan lalu yang menunjukkan peningkatan, dan mengindikasikan pelemahan di pasar tenaga kerja.
Pergerakan pasar pada Selasa terjadi sehari setelah indeks utama AS reli secara menyeluruh menyusul harapan bahwa penutupan pemerintahan AS (government shutdown) yang memecahkan rekor mungkin segera berakhir.
Senat pada Senin malam meloloskan rancangan undang-undang untuk mengakhiri penutupan tersebut dan mengirimkannya ke DPR. Kesepakatan yang dicapai tidak memasukkan tuntutan Partai Demokrat agar setiap RUU pendanaan harus mencakup perpanjangan subsidi Affordable Care Act, dan malah menyerukan pemungutan suara mengenai kredit pajak tersebut pada Desember.
"Saya rasa ada harga yang harus dibayar akibat disfungsi politik, bukan hanya di AS tetapi juga di seluruh dunia," kata Fitzpatrick.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen hari ini, termasuk voting shutdown di AS.Dari dalam negeri data penjualan ritel yang kurang baik bisa menjadi beban.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
Voting Shutdown Hari Ini?
DPR Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik dijadwalkan memberikan suara pada Rabu sore atas kompromi anggaran yang akan memulihkan pendanaan lembaga-lembaga pemerintah dan mengakhiri shutdown yang dimulai 1 Oktober dan kini memasuki hari ke-42.
Jika proses berjalan mulus, drama government shutdown di Amerika Serikat diperkirakan segera berakhir dalam 24-48 jam setelah pemungutan suara di DPR AS (House of Representatives). Artinya, penutupan pemerintahan terpanjang ini berpotensi selesai antara Rabu malam-Kamis waktu AS, atau Kamis-Jumat waktu Indonesia (WIB).
Namun, akhir drama ini belum tentu menjadi happy ending. Ada sejumlah risiko yang bisa menghambat atau bahkan memicu episode lanjutan. Penolakan dari kelompok konservatif Partai Republik di DPR bisa menunda voting atau memaksa negosiasi tambahan.
Sekalipun selesai minggu ini, pendanaan pemerintah hanya diperpanjang hingga 30 Januari, sehingga ancaman shutdown bisa muncul lagi awal tahun depan
Senat, yang juga dikendalikan Partai Republik, telah menyetujui kesepakatan tersebut pada Senin malam, dan Ketua DPR Mike Johnson menyatakan yakin RUU itu akan disetujui di DPR.
Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan menandatangani RUU tersebut menjadi undang-undang.
"Kita akan membuka negara kita. Seharusnya tidak pernah ditutup," ujarnya dalam acara Hari Veteran di Arlington, Virginia, dikutip dari Reuters.
Kesepakatan ini akan memperpanjang pendanaan hingga 30 Januari, membuka peluang terjadinya lagi potensi shutdown, sekaligus membuat pemerintah federal tetap berada di jalur menambah utang yang kini sekitar US$38 triliun.
Dalam beberapa hari ke depan, pemerintah federal bisa kembali berfungsi penuh, memberikan kelegaan bagi pegawai negeri yang tidak menerima gaji dan keluarga berpenghasilan rendah yang bergantung pada subsidi pangan. Namun, butuh beberapa hari bagi sistem penerbangan nasional untuk kembali normal.
Kesepakatan ini memecah belah Partai Demokrat, yang mengupayakan agar subsidi kesehatan bagi 24 juta warga AS diperpanjang hingga melewati akhir tahun saat masa berlakunya habis.
Partai Republik di Senat setuju untuk mengadakan pemungutan suara terpisah terkait subsidi tersebut pada Desember, namun tidak ada jaminan RUU itu akan lolos di Senat.
Penjualan Eceran Melemah pada September, BI Optimistis Naik di Oktober 2025
Penjualan eceran nasional kembali mengalami tekanan pada September 2025. Berdasarkan hasilSurvei Penjualan Eceran(SPE) Bank Indonesia (BI), aktivitas penjualan ritel turun 2,4% secara bulanan (month to month/MtM), berbalik arah setelah mencatatkan pertumbuhan 0,6% pada Agustus.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa pelemahan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya penjualan pada Subkelompok Sandang yang anjlok hingga 19,2% MtM. Selain itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga terkoreksi 2,2%, sementara Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya melemah 3,4%. "Penurunan pada Subkelompok Sandang menjadi faktor utama kontraksi penjualan eceran pada September," jelas Denny dalam keterangannya, Selasa (11/11/2025).
Meski demikian, tidak semua sektor mencatatkan pelemahan. Beberapa kelompok masih tumbuh positif, antara lain Peralatan Informasi dan Komunikasi yang naik 1,2% serta Suku Cadang dan Aksesori yang meningkat 1,4% secara bulanan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi ke barang-barang utilitarian dan teknologi.
Secara tahunan (year on year/YoY), kinerja penjualan eceran justru mencatatkan pertumbuhan 3,7%, sedikit lebih tinggi dibandingkan 3,5% pada Agustus 2025. Kenaikan terutama ditopang oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori yang tumbuh 12,4%, diikuti Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 5,4%, serta Barang Budaya dan Rekreasi yang naik 2,6%.
Ke depan, BI memperkirakan adanya perbaikan pada Oktober 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) diproyeksikan meningkat 4,3% YoY, melanjutkan tren positif dari bulan sebelumnya. "Peningkatan penjualan diperkirakan bersumber dari kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya," ujar Denny.
Secara bulanan, penjualan ritel juga diperkirakan tumbuh 0,6% pada Oktober. BI menilai dorongan utamanya berasal dari naiknya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal. Fenomena musiman ini biasa mendorong konsumsi rumah tangga, terutama untuk kebutuhan sandang, makanan, dan perlengkapan rumah.
Dari sisi harga, BI memperkirakan adanya peningkatan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Desember 2025 diproyeksikan mencapai 157,2, naik dari 134,6 pada periode sebelumnya. Tekanan ini akan berlanjut hingga Maret 2026 dengan proyeksi IEH 172,5, lebih tinggi dari 169,2 sebelumnya.
"Peningkatan ekspektasi harga sejalan dengan kenaikan permintaan menjelang perayaan Natal 2025 dan Idulfitri 2026," pungkas Denny. BI pun akan terus memantau dinamika konsumsi masyarakat dan harga barang eceran sebagai indikator utama daya beli dan inflasi domestik dalam jangka pendek.
DKI Jakarta Hapus Sanksi Pajak Kendaraan Hingga Akhir 2025, Begini Aturannya
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan keringanan bagi para pemilik kendaraan bermotor. Melalui kebijakan terbaru, warga Ibu Kota dibebaskan dari sanksi administratif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) hingga 31 Desember 2025.
Program ini mulai berlaku sejak 10 November 2025 dan dapat dimanfaatkan di seluruh kantor Samsat DKI Jakarta maupun melalui layanan digital. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Lusiana Herawati, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Gubernur DKI Jakarta untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran pajak.
"Ini adalah langkah kami untuk membantu masyarakat, sekaligus mendorong kesadaran pajak dan tertib administrasi kendaraan bermotor di Jakarta," ujar Lusiana dalam keterangan resmi, Selasa (11/11/2025).
Menariknya, pembebasan ini diberikan secara otomatis tanpa perlu pengajuan dari wajib pajak. Sistem informasi manajemen pajak daerah akan menyesuaikan data secara langsung, sehingga masyarakat cukup membayar pokok pajak tanpa dikenakan denda keterlambatan.
Kebijakan ini tidak hanya memberi keringanan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi strategi Pemprov DKI untuk mempercepat realisasi penerimaan pajak daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu menambah partisipasi wajib pajak sekaligus memberikan stimulus ekonomi menjelang tutup tahun.
Selain itu, Pemprov DKI juga berupaya memperkuat transparansi pelayanan publik dengan mempermudah akses pembayaran. Warga kini dapat melakukan pembayaran secara daring melalui aplikasi SIGNAL (Samsat Digital Nasional), tanpa perlu datang ke kantor Samsat. Fasilitas ini diharapkan mampu menghemat waktu dan memperluas jangkauan pelayanan pajak.
PHK AS Bertambah
Perusahaan swasta di AS memangkas rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu selama empat minggu yang berakhir pada 25 Oktober 2025, mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja kehilangan momentum pada paruh kedua bulan itu dibandingkan dua minggu pertama, menurut laporan mingguan terbaru dari ADP Research.
Waktu rilis laporan sektor swasta ini menjadi sangat penting karena penutupan pemerintahan (government shutdown) yang kini memasuki bulan kedua telah menunda perilisan data ketenagakerjaan resmi pemerintah AS untuk September yang biasanya sangat diperhatikan pasar.
Menambah sinyal pelemahan, laporan terpisah dari Challenger, Gray & Christmas, Inc. minggu lalu menunjukkan bahwa perusahaan berbasis di AS mengumumkan 153.074 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober, jumlah tertinggi untuk bulan tersebut sejak 2003.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Media gathering bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan di Jakarta
Media briefing perkembangan diplomasi penanganan produk udang dan cengkeh dengan pemangku kepentingan di Amerika Serikat bertempat di Ruang Rapat Utama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Kerja Komisi V DPR dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Menteri Transmigrasi di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian dan asosiasi-asosiasi di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen ILMATE dan asosiasi-asosiasi di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Bullion Connect 2025 : "Linking Mines to Markets - Laying the Groundwork for a Connected Bullion Future" di Ballroom The Gade Tower, Kota Jakarta Pusat
The Launching of Express Discharge dari Garda Medika yang akan dilaksanakan di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal cum Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk (ASRM)
RUPSPT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK)
RUPS Jembo Cable Company Tbk (JECC)
RUPS PT Carsurin Tbk (CRSN)
RUPS Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)
RUPS PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC)
RUPSBPD Nusa Tenggara Timur (Bank NTT)
Aula Fernandes Lt. 4 Kantor Gubernur NTT
TanggalDPS Dividen Tunai Interim PT Triputra Agro Persada Tbk.
TanggalDPS Dividen Tunai Interim PT Chandra Asri Pacific Tbk
TanggalDPS Dividen Tunai Interim PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk
TanggalDPS Dividen Tunai Interim PT Medco Energi Internasional Tbk
Tanggalex Dividen Tunai Interim PT Avia Avian Tbk
Tanggalcum Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggalcum Dividen Tunai Interim Indo Tambangraya Megah Tbk
Tanggalcum Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggalcum Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Shutdown AS Segera Usai, Wall Street Bangkit
Wall Street menguat setelah kesepakatan untuk mengakhiri shutdown pemerintah AS. Indeks utama naik, didorong saham AI seperti Nvidia dan Broadcom. [421] url asal
#wall-street #penguatan-pasar #shutdown-pemerintah #saham-ai #indeks-dow-jones #nasdaq-composite
(CNBC Indonesia - Market) 11/11/25 06:33
v/34583/
Jakarta, CNBC Indonesia — Wall Street berakhir menguat pada perdagangan Senin atau Selasa (11/10/2025) pagi waktu Indonesia. Bursa terbang setelah para senator mengambil langkah penting untuk mengambil kesepakatan untuk mengakhiri penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat yang bersejarah.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 381,53 poin atau 0,81% ke level 47.368,63. S&P 500 menguat 1,54% menjadi 6.832,43, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,27% ke 23.527,17.
Nvidia, Broadcom, dan sejumlah pemimpin reli saham kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama penguatan pasar, karena kemungkinan berakhirnya shutdown kembali meningkatkan selera risiko investor.
Saham Microsoft juga naik 1,9%, memutus tren penurunan delapan hari beruntun yang merupakan penurunan harian terpanjang sejak 2011.
Pekan lalu, saham-saham tersebut justru menarik pasar lebih rendah karena kekhawatiran di Wall Street terkait valuasi tinggi pada saham-saham AI.
Investor terus memantau negosiasi para legislator terkait pengesahan rancangan anggaran federal yang akan mengakhiri shutdown.
Sebuah langkah prosedural yang memungkinkan pemungutan suara lanjutan mengenai kesepakatan tersebut pada Senin telah disetujui dengan minimal 60 suara, setelah delapan senator dari Partai Demokrat memilih berbeda dari pimpinan partai untuk mendukung kesepakatan tersebut.
Kekhawatiran atas shutdown telah menekan sentimen konsumen ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun, mendekati level terburuk dalam sejarah, menurut survei University of Michigan yang dirilis Jumat lalu.
Karena penutupan tersebut, lembaga pemerintah tidak lagi merilis sejumlah data ekonomi kunci, termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) yang dijadwalkan rilis minggu ini.
"November menjadi bulan yang bergejolak bagi aset berisiko," ujar Tim Holland, Chief Investment Officer di Orion, kepada CNBC, dengan mengutip kekhawatiran investor terhadap shutdown, valuasi pasar, dan potensi gelembung AI sebagai pemicu sentimen negatif belakangan ini.
Dalam sepekan terakhir, Nasdaq yang sarat saham teknologi mencatat kinerja terburuk sejak aksi jual yang dipicu perang tarif pada April, turun sekitar 3%. Baik S&P 500 maupun Dow Jones (30 saham) terkoreksi lebih dari 1% dalam sepekan.
"Kekhawatiran pekan lalu memang masuk akal, tetapi saya pikir setidaknya satu dari tiga kekhawatiran itu kini telah keluar dari radar, dan itu hal penting," lanjutnya.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56